[Fanfiction] Mystery of The Twins Chapter 1

mys cov

Tittle   : “Mystery of The Twins”

Author: Little Evil
Genre : Mystery, Romance
Main Cast (s) :

Cho Kyuhyun (SJ)

Kim Kibum as Cho Kibum (SJ)

Park Hyura (OC)

Other Cast (s) :

Choi Donghyun (OC)

Lee Sikyung (OC)

Kim Jisung (OC)

SJ Member

Length : Series

Rated  : T –M for blood scene
Facebook : Iffah Pevensie

Twitter : @iffah_MUFC19

Blog    : littleevil19.wordpress.com

Disclaimer :

Some scene (s) are inspired by D.Conan series but the plot (s) are absolutely mine.

Summary :

Kisah dua saudara kembar yang tak pernah bisa bersatu, namun secara tak sadar akan sangat kompak saat berhadapan dengan suatu kasus. Lalu bagaimana jika keduanya melabuhkan hati pada gadis yang sama?

Chapter 1

 

Jleb- Crash..!!

Kali ini bahu kanannya yang menjadi sasaran. Pria bertubuh tegap itu kembali limbung untuk kesekian kalinya. Erangan tertahan terdengar samar. Merahnya darah kembali menutup pandangannnya. Tangan kirinya bergerak menahan rasa nyeri yang teramat sangat pada bahunya.

Ruangan dengan sedikit cahaya yang berpendar menjadi saksi bisu pergulatan sengit dua sosok pria dewasa. Lantai berdebu, dinding usang dengan cat yang terkelupas. Isinya tampak lengang membuat dua pria tersebut semakin gencar melayangkan aksinya. Kematian adalah tujuan mutlak.

“Belum menyerah juga, Sikyung –ssi?” pria dengan tubuh kurus itu tersenyum sinis mendapati tubuh lawannya yang dipenuhi luka yang menganga. Tuxedo hitam yang dikenakannya tergeletak, noda darah membasahinya. Kemeja putihnya robek di beberapa bagian, menampakkan bagian kulitnya yang terkoyak tajamnya mata pisau sepanjang lima belas sentimeter –yang berada digenggamannya.

“Menyerah? Cih. Tidak untuk pria brengsek sepertimu!” Mendengar jawaban angkuh dari lawannya, membuatnya semakin melebarkan seringaian di bibirnya. Genggaman pisau di tangan kanannya makin erat, lawannya adalah sosok yang amat keras kepala. Iris matanya menatap tajam mengikuti gerakan pria di hadapannya kini tengah berusaha berdiri diatas kedua kakinya. Kaki kanannya yang berlubang tampak mengeluarkan darah segar, menghambat usahanya.

“Haha, ’pria brengsek’? Apa kau tengah mengatai dirimu sendiri, Sikyung-ssi yang terhormat?”

Crasshh!

Tanpa menunggu reaksi lawannya, pria bertubuh kurus itu kembali menerjang perut Sikyung dengan gerakan cepat saat dirinya baru saja berhasil berdiri diatas kedua kakinya yang goyah. Tak ayal mata pisau yang berkilat marah itu kembali mengoyak bagian tubuhnya.

“Arghh..” erangan tertahan terdengar. Sikyung merasakan mata pisau itu mengoyak kulitnya, kemudian menembus lambungnya. Darah segar kembali mengalir di balik kemeja putihnya, sementara tubuhnya jatuh berlutut. Namun tatapan tajamnya tak teralihkan pada sosok tegap dihadapannya.

“Ji- Sung-uhukk” frase terlontar seiring dirinya terbatuk, darah mengalir hingga dagunya. Nafasnya tersengal menahan sakit di sekujur tubuh yang menyerangnya dirasa semakin menjadi. Rupanya pria dengan pisau digenggamannya –Jisung- tak menyukai posisi kemenangan yang diraih cepat. Dirinya lebih menyukai lawannya yang kalah secara perlahan, mendapatkan rasa puas tersendiri saat menatap sang lawan merasakan penderitaan panjang sebelum menemui ajalnya.

Jisung menunduk, mensejajarkan wajahnya menatap mata pria yang juga tengah menatapnya tajam di balik lensa kacamatanya yang telah retak sejak menerima pukulan telak di wajahnya. Tangan kanannya yang setia menggenggam sebilah pisau bergerak menuju wajah Sikyung. Ujung mata pisau ia letakkan di bawah dagu, mengangkatnya perlahan. Mau tak mau Sikyung mengangkat kepalanya jika tak ingin kulit lehernya kembali merasakan tajamnya mata pisau itu.

Sikyung masih menutup rapat bibirnya. Kilatan tajam di matanya tak juga surut. Ia berasumsi bahwa pria di hadapannya ini adalah seorang psikopat.

“Kau mengingat namaku? Aku sangat tersanjung untuk hal ini.” Jisung tersenyum mengejek. Tangan kirinya perlahan meraih benda yang sejak tadi tersembunyi di balik tubuhnya. Ia telah mempersiapkannya untuk puncak dari rencananya.

Melihat benda di tangan Jisung saat ini, Sikyung memejamkan kedua matanya. Dirinya memilih pasrah dengan apapun yang akan terjadi kepadanya.

BRAK!

“Kibum! Yak! Kau tuli, huh?!” teriakan penuh emosi kembali terdengar di kediaman keluarga Cho, lebih tepatnya di salah satu kamarnya. Ruangan yang di dominasi warna biru dengan list putih itu terlihat elegan.  Dua remaja tampan yang terlahir hanya terpaut tujuh menit, terlihat tengah beradu argumen. Atau lebih tepatnya, salah satu dari mereka tengah melontarkan argumennya. Sementara yang lainnya memilih acuh. Membuat namja dihadapannya kesal bukan main. Meski mereka saudara kembar, dengan kadar ketampanan setara namun tak ada kemiripan dalam hal fisik maupun sifat. Tepat. Mereka kembar tidak identik.

“Lebih cepat kau tutup mulutmu, itu lebih baik, Cho!” desis si sulung –Kibum dengan nada dingin. Dirinya yang tengah bermesraan dengan ‘kekasihnya’ merasa jengah dengan ocehan merdu adik tercintanya yang sejak satu jam lalu –dalam benak ia menghitung- berusaha mengusiknya.

“Ingatkan aku bahwa KAU adalah seorang CHO, Kibum –ssi!” balas si bungsu –Kyuhyun. Beberapa penekanan terdengar dalam kalimatnya, dengan nada tak kalah dingin. Ia melipat kedua tangannya angkuh di depan dada, pertanda emosinya mulai naik satu level lebih tinggi. Alis tebalnya mengernyit dengan iris hazelnya memicing tajam. Bahkan wajahnya yang putih pucat tertutup oleh bias kemarahan yang terpampang jelas.

Kibum hanya mengkat kedua bahunya, tak mempedulikan raut wajah Kyuhyun yang kini sangat tidak bersahabat. Toh ini sudah menjadi kebiasaan mereka, pikirnya. Dirinya memilih untuk kembali bermesraan dengan ‘kekasihnya’ –buku pelajaran dengan ketebalan tak kurang dari lima ratus halaman-. Katakan aneh, memang inilah kenyataannya. Bagi seorang Cho Kibum yang introvert, buku-buku tebal adalah belahan jiwanya.

Kyuhyun kembali mendengus sebal. Menyadari realita bahwa kakak kembarnya kembali mengacuhkannya. Ia tak habis fikir, Kibum bahkan lebih memilih buku-buku tebal membosankan itu daripada dirinya yang jelas-jelas ada di hadapannya. Salahkan dirinya yang tadi terlalu bersemangat menceritakan gadis pujaannya di sekolah. Entah mengapa ia seolah lupa akan sifat Kibum yang –memang selalu acuh terhadap tingkahnya.

Iris kelam Kibum melirik dari kacamata minusnya, Kyuhyun yang kini melangkahkan kakinya dengan sedikit menghentak menuju single bed-nya. Merebahkan dirinya membelakangi Kibum yang tengah duduk di meja belajarnya seraya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut babyblue-nya.

“Ck. Kekanakan” desis Kibum lirih dan memutuskan untuk melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda. Namun kali ini ia tak bisa membawa fokusnya untuk memahami tiap deret huruf-huruf yang terpampang di hadapannya. Pikirannya berkelana, teringat kala adik kembarnya bercerita dengan antusias tentang sosok gadis pujaannya. Jangan salah sangka. Meski terlihat acuh tak acuh, Kibum selalu mendengarkan dengan seksama setiap frase yang terlontar dari bibir Kyuhyun tiap malamnya. Hanya saja, melihat Kyuhyun yang akan merajuk sebal saat mendapati dirinya tak mendengarkan ceritanya adalah hiburan tersendiri bagi seorang Cho Kibum.

Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu tak bertahan lama, tergantikan dengan raut wajah yang berubah sendu. Mengingat bahwa gadis yang baru-baru ini menjadi objek pujaan sang adik, adalah gadis yang sama. Gadis yang dulu –atau mungkin sampai sekarang mengisi ruang kosong di hatinya. Gadis yang juga merupakan cinta pertamanya.

‘Park Hyura~’

“Mana adikmu, Kibummie?” wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan rambut dark brown bergelombang sebahunya tengah menyiapkan beberapa menu sarapan untuk keluarganya. Ia menatap putra sulungnya yang tengah menuruni tangga lengkap dengan kemeja cream yang dibalut blazer berwarna dark blue. Celana warna sepadan menjadi pelengkapnya. Lambang di saku atasnya berupa dua ekor singa saling memunggungi yang tersulam dengan benang emas dengan bola dunia di antaranya menambah kesan bahwa Seoul International High School -SIHS merupakan salah satu sekolah elit di kota Seoul.

“Seperti biasanya, eomma.” Kibum memang sosok yang akan mengeluarkan frase-frase singkat dari bibir tipisnya. Seperlunya dan seadanya.

“Anak itu benar-benar. Apa tak bisa ia meninggalkan ‘kekasihnya’ itu barang sesaat saja?” suara Tuan Cho menyahut. Dalam hal ini, makna ‘kekasih’ memiliki artian yang berbeda antara Kibum dan Kyuhyun. Jika bagi Kibum buku-buku tebal adalah belahan jiwanya, maka bagi seorang Cho Kyuhyun, playstation portable –PSP lah yang menjadi teman hidupnya.

Nyonya Cho menghela nafas. Menggelengkan kepala mengingat tingkah putra bungsunya yang kerap membuatnya mengusap dada. Kendati demikian, kasih sayangnya tak pernah kurang tercurah pada kedua putra kebanggaannya itu, tanpa membedakannya.

“Biar eomma yang memanggilnya. Kau bersiap-siaplah, chagi.” Tukas Ny.Cho setelah sebelumnya menyiapkan egg benedict, roti panggang selai kacang kesukaan putranya serta segelas susu coklat yang berjejer manis diatas meja makan.

“Ne.” Gumam Kibum singkat. Ia lantas melangkahkan kakinya menuju kursi disamping ayahnya yang tengah menikmati koran paginya. Tuan Cho memang menyukai hal-hal yang klasik, meski tak ada hambatan untuk menikmati berita dengan praktis melalui situs-situs online yang menyerbak luas saat ini. Cho Younghwan, CEO dengan pribadinya yang bijaksana dan berwibawa namun tetap tegas, mampu membuat seluruh instansi maupun personal yang berada di bawah naungan Cho Inc. itu begitu mengagumi sosoknya.

“Bagaimana sekolahmu, nak?” Tuan Cho mengalihkan pandangan dari korannya sejenak, menatap sayang putra sulungnya yang masih tenggelam dalam buku tebalnya. Tuan Cho mengamati sampulnya dan ‘Kamus Latin-Korea’ tercetak dengan gamblang disana.

“Seperti biasa, appa. Tak ada yang perlu dicemaskan.” Kibum menuturkan kalimatnya seraya tersenyum tipis. Meski dirinya terkenal sebagai pribadi yang dingin, ia sangat menghormati sosok pria paruh baya yang masih terlihat gagah di hadapannya.

“Baguslah.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, keduanya kembali menyelami dunia masing-masing. Menanti seluruh anggota keluarganya berkumpul untuk melakukan ritual rutin tiap paginya, sarapan bersama.

Bruk. Bruk. Bruk.

Ne, ne, eomma. Aissh, berhenti mendorongku,” derap langkah kaki terdengar menuruni tangga seiring dengan munculnya sosok pemuda jangkung yang melangkah tergesa sambil memakai blazernya. Disusul sosok wanita paruh baya yang terlihat masih mengenakan apron merah muda di belakangnya.

Morning, appa. Morning, Kibum -ah.” Sapanya lantang membuat dua sosok yang tengah menyelami dunianya masing-masing itu mengalihkan atensi padanya. Dengan prospek yang berbeda. Sang ayah yang tersenyum lebar sementara Kibum? Ia hanya memutar bola matanya jengah, memilih untuk acuh.

Morning, chagi. Apa terlalu sulit untukmu memanggil kakakmu dengan sebutan ‘hyung’, eoh? Bagaimanapun kau itu adiknya.” Tuan Cho mencoba memberi pengertian –untuk ke-sekian kalinya pada putra bungsunya itu. Sementara yang diajak bicara hanya memberikan senyum lima jarinya yang membuat pipi chubby-nya terlihat menggemaskan –tapi tidak di mata Kibum.

Tubuh mungil seorang bocah laki-laki terlihat berjalan dengan langkah riang. Tangan mungilnya menjinjing sebuah keranjang yang telah terisi beberapa barang di dalamnya. Tubuhnya yang berbalut seragam kindergarten bergaya pelaut biru-putih menambah kesan manis pada sosoknya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan berlantai tiga yang terlihat lengang. Papan nama besar di sudut dindingnya terlihat lepas –miring akibat hempasan angin. Ia berjalan dengan langkah mantap memasuki bangunan di depannya. Seolah sudah hafal betul seluk beluknya, bocah itu kini terlihat menjelajahi ruangan-ruangan yang ada di dalamnya.

Ia mengulas senyumnya saat menemukan sosok yang tengah dicarinya. Setelah membenarkan letak ­beany hat yang menyisakan poni depan surai hitamnya, bocah itu berlari kecil menghampiri sosok yang kini tengah memunggunginya. Matanya megerjap dan berbinar. Satu hal yang tak bocah itu sadari, sosok dihadapannya kini terlihat tengah menggenggam sebilah pisau yang masih meneteskan darah segar.

“Ahjussi..!!”

Dua pemuda dengan tinggi badan tak jauh berbeda terlihat beriringan. Melangkahkan kakinya dengan menawan di sepanjang koridor lantai satu tempat dimana mereka menimba ilmu –SIHS. Pemuda dengan surai hitam legam lurus yang mimiliki tinggi badan sedikit lebih pendek, terlihat cool dengan ­earphone putih menutupi kedua telinganya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Ransel tersampir begitu saja di bahu kirinya. Dialah Cho Kibum.

Sementara pemuda di sampingnya, dengan surai dark brown sedikit ikal yang selaras dengan iris matanya, tengah fokus dengan PSP di tangannya, berkutat dengan dunia virtualnya. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.

Karakter yang tampak bertolak belakang diantara keduanya, seringkali meragukan pandangan orang-orang di sekitarnya bahwa mereka adalah saudara kembar –meski tidak identik. Dan baik Kyuhyun maupun Kibum sama sekali tak ambil pusing akan hal itu. Who’s care?

Keduanya terus melangkahkan kakinya tenang, tampak tak begitu peduli dengan decakan kagum yang terlontar dari para hoobae maupun sunbae yang mayoritas kaum hawa itu. Hingga pintu gerbang yang sedari tadi menjadi tujuan keduanya mulai tampak, langkah kaki mereka tetap pada ritme-nya.

“Bukankah itu Park Hyura? Apa yang dilakukannya?” Kyuhyun bergumam pada dirinya sendiri.

Kibum yang baru saja menggantungkan earphone pada lehernya mengalihkan atensinya pada arah pandangan yang sama dengan adik kembarnya.  Terlihat seorang gadis dengan tinggi badan sedang, berdiri manis di depan gerbang. Rambutnya yang bergelombang ia biarkan tergerai di punggungnya, dengan bandana biru muda sebagai pemanisnya. Dari gelagatnya, tercetak jelas jika dirinya tengah mencari atau menunggu seseorang.

Kyuhyun berlari kecil menghampiri yeoja itu dengan semangat. Well, siapa yang tidak excited kala bertemu sosok pujaan hatinya? Sementara Kibum hanya melanjutkan langkahnya dengan tenang menghampiri keduanya.

“Menunggu seseorang?” Kyuhyun berhasil melontarkan pertanyaan dengan gaya –sok cool-nya setelah berhasil menetralkan debaran jantungnya. Ia tengah mencoba menarik perhatian gadis manis dihadapannya. Klise.

 

“Ah, ne, Kyuhyun –ah.” Hyura tersenyum kecil, menampilkan lesung pipi kecil di sudut bibirnya, membuatnya sosoknya tampak berkali lipat lebih manis –di mata Kyuhyun. ‘Ah, i love the way you say my name, sweetheart.’ Kyuhyun tersenyum memikirkannya. Sungguh, bagi dirinya, suara lembut seorang Park Hyura kala memanggil namanya itu jauh lebih indah dibandingkan dengan suara penyanyi kelas internasional sekalipun. Katakan dia berlebihan. But that’s a  fact.

 

“Siapa?” Kyuhyun melanjutkan perbincangan. Mata Hyura menangkap siluet seseorang di belakang tubuh Kyuhyun. Sejenak tatapan mereka bertemu, menyiratkan pandangan yang sulit diartikan. Keduanya saling menatap dalam hingga iris kelam milik Kibum memilih atensi lain, menatap siswa-siswi yang lalu lalang keluar gerbang sekolah. Jam belajar memang telah usai.

“Mmm, sebenarnya aku- … aku menunggumu, Kyuhyun –ah” jawab Hyura. Tersirat sorot kekecewaan di matanya kala sosok di belakang Kyuhyun –Kibum- itu tidak mempedulikan kehadirannya. Dan Kyuhyun sama sekali tidak menyadarinya.

Jinja?” hazel Kyuhyun berbinar cerah. “Apa kau berniat pulang bersamaku? Atau perlu bantuanku untuk berkeliling Seoul lagi, Ra –ya?” ujar Kyuhyun yang tak bisa menyembunyikan senyumnya saat ini.

Anio. Ini. Saat jam istirahat aku berniat memberikannya padamu, tapi Jung seonsaengnim ada  sedikit urusan denganku. Mianhe, ne?” Hyura menyodorkan kotak bekal crossline cokelat-putih pada Kyuhyun.

“Whoa, kau repot-repot menyiapkan bekal untukku?” Kyuhyun sibuk mengamati kotak bekal di tangannya. Mata Hyura kembali menatap Kibum, berharap namja itu sekedar menyapanya. Nihil. Kibum masih persisten menatap siswa yang lalu lalang, membuat Hyura mendesah kecewa.

“Hyura –ya, apa kau yang membuatnya sendiri?” Kyuhyun masih bertahan dengan senyum manisnya. Hatinya menghangat dengan sendirinya atas perlakuan Hyura.

Ne, ­Kyu. Anggap saja itu ucapan terimakasihku. Kau mau menemaniku berkeliling Seoul kemarin.”

“Tak usah sungkan. Kau bisa menghubungiku kapan pun kau membutuhkanku.”

Gomawo, Kyu. Ah, aku duluan, ne. Anyeong~

Hyura berbalik, melangkahkan kakinya menuju jalan pulang setelah sebelumnya melambaikan tangannya pada Kyuhyun –atau mungkin sosok di belakang Kyuhyun.

“Hati-hati, ne!” Kyuhyun masih menatap punggung Hyura yang makin menjauh dari pandangannya dengan senyum merekah yang belum juga beranjak dari bibir penuhnya. Dirinya tak menyadari, sosok Kibum di belakangnya tengah melemparkan pandangan sendu ke arah pandangan yang sama dengannya.

‘Kau kembali, Ra –ya?’

Hyura mati-matian menahan rasa kecewanya pada sosok Kibum. Tatapan mata itu, ia tak mampu menafsirkannya. Apa Kibum telah menemukan pengganti dirinya? Tidak. Kibum-nya –kalau masih boleh menyebutnya seperti itu- telah mengikrarkan janji. Ia tentu masih sangat ingat bagaimana wajah serius Kibum, tiga tahun yang lalu saat keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jepang, mengikuti pekerjaan ayahnya yang menuntutnya untuk berpindah dari satu negara ke negara lain.

Pergilah Ra-ya. Dan kembalilah padaku dengan tetap menjadi Hyura-ku seperti saat ini. Dan aku akan menunggu saat itu dengan tetap menjadi Kibum-mu.”

 

Hyura terus terngiang akan kata-kata tegas dari seorang remaja yang saat itu berusia lima belas tahun yang terlihat dewasa untuk anak seumurannya.

“Kita sudah sampai, agasshi.” Suara supir taxi menginterupsi lamunan Hyura. Dialihkan pandangannya pada jendela. Ia memejamkan mata sejenak, dan menanamkan sebuah keyakinan dalam hatinya.

‘Bisakah aku masih mempercayaimu, Kibummie..?’

Kyuhyun menatap Kibum yang duduk disampingnya dengan geram . Pasalnya, ia kembali diacuhkan. “Kau dengar tidak?!”

Kibum menolehkan kepalanya sekilas. “Apa?”

“Aku tegaskan Hyura itu milikku. Kali ini jangan harap kau bisa memilikinya.” Dan Kibum sedikit tersentak mendengar suara rendah dari adik kembarnya itu. Ia berusaha menstabilkan detak jantungnya. Kembali memasang wajah stoicnya.

“Bukan urusanku.” Balasnya acuh dan kembali memperhatikan pemandangan jalanan Seoul melaui jendela bus yang tengah ditumpanginya.

Kyuhyun kembali mendengus kesal. Ia harus puas dengan jawaban yang terlontar dari Kibum. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal seperti itu. Ia hanya tak ingin kenyataan pahit tahun lalu terulang untuk kedua kalinya. Saat Kim Jiyoung, gadis incarannya yang ia dekati dengan sepenuh hati, justru berakhir dengan menyatakan cintanya pada kakak kembarnya sendiri, Kibum. Memang bukan salah Kibum, namun Kyuhyun tak ingin kembali menelan rasa pahit itu.

Pemuda berkulit putih pucat itu mencoba ‘tak ambil pusing, lagipula ia yakin bahwa kini Hyura memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Ah, memikirkannya saja membuat Kyuhyun merasa diambang nirwana. Kyuhyun merogoh saku blazernya dan mengeluarkan smirk andalannya.

“Apa kau merindukan sentuhan dari oppa tampanmu ini, Lucy chagiya?” Dan Lucy adalah nama yang Kyuhyun berikan pada PSP hitam metalik kesayangannya. Menit berikutnya, namja itu telah larut dalam dunia virtualnya. Meninggalkan kakak kembarnya yang tengah menerawang jauh. Meski tetap dengan raut datarnya, iris kelamnya terlihat tengah memikirkan sesuatu.

Pikirannya melayang, tertuju pada sosok gadis yang beberapa saat lalu muncul kembali di hadapannya. Ia  bisa melihat tatapan gadis itu tidak berubah, sama eperti dulu. Sejuk dan menenangkan. Jangan bertanya apa ia masih menyimpan sosok itu dalam hatinya. Cho Kibum bukanlah tipe orang yang dengan mudah ingkar akan janjinya.

Kilasan bagaimana iris hazel adiknya begitu hidup saat menatap Hyura, membawa Kibum diambang gundah. Dilema. Ia begitu mengenal adiknya. Dan amat menyayanginya, melebihi apapun. Bukankah sejak berada dalam rahim sang ibu, mereka telah berbagi hidup? Kibum yakin, Tuhan memiliki alasan tersendiri saat menciptakan mereka. Mereka terlahir untuk saling melengkapi.

Meski selama ini ia bersembunyi dibalik sikap dingin dan acuhnya terhadap Kyuhyun, percayalah. Seorang Kibum akan melakukan apapun untuk membuat orang yang disayanginya itu bahagia. Termasuk mengorbankan perasaannya? Amat klise, huh?

Suara gesekan ban dengan aspal menjadi tanda bus telah mencapai pemberhentian selanjutnya. Kyuhyun dan Kibum bergegas untuk beranjak turun dan berjalan santai menuju kediamannya. Melewati kawasan pertokoan dan beberapa blok rumah.

Saat keduanya berada di depan sebuah toko aksesoris, terlihat sebuah van terparkir di sisi jalan, tak jauh dari posisi mereka berdiri saat ini. Van hitam tersebut membawa pipa-pipa besi yang terikat tali di letakkan di atasnya.

Mata bulat Kyuhyun menajam, merasakan sesuatu yang ganjal di matanya. Jangan pernah meremehkan insting tajamnya. Pandangannya menangkap seorang bocah lelaki berseragam ­–kindergarten tengah berjalan riang membelakanginya. Tangan kanannya menjinjing sebuah keranjang belanjaan.

Iris hazel Kyuhyun melebar. Saat langkah kaki bocah itu tepat di samping van hitam tersebut, secara tiba-tiba, pipa-pipa besi berguguran dari atas van. Siap menerjang tubuh mungil bocah di sampingnya.

“Hei, bocah! Awas!!” Kyuhyun berteriak sekencang yang ia mampu. Berlari cepat, mencoba nenyelamatkan bocah tak berdosa tersebut.

Bruk!! Trang! Trang..

Kejadian itu hanya terjadi sekian detik. Pipa-pipa besi berdiameter dua puluh sentimeter itu berjatuhan di trotoar tepat saat bocah mungil itu berada di depan van hitam. Telat sedetik saja, dapat dipastikan bocah itu takkan selamat. That’s so close, boy!

 

Kibum yang masih dalam masa transisi akibat teriakan Kyuhyun yang tiba-tiba hanya bisa mematung di tempatnya berpijak saat ini. Dilihatnya Kyuhyun yang masih terengah-engah, mencoba menstabilkan nafasnya tepat di depan pipa-pipa besi yang berserakan di trotoar. Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada van hitam di sampingnya, tepatnya kearah kursi kemudi. Nihil. Tak ada tanda-tanda manusia di dalamnya. Sementara bocah lelaki yang nyaris saja terancam nyawanya itu, terus melangkahkan kaki-kaki kecilnya riang. Benar-benar tak menyadari keadaan bahaya yang baru saja menimpanya.

Kibum melangkah cepat menghampiri adik kembarnya. Iris hitam kelamnya menajam. Dilihatnya Kyuhyun yang tengah serius mengamati sesuatu.

Gwenchana?” suaranya terdengar khawatir. Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya singkat sebagai jawaban. Dirinya berjongkok, memperhatikan serat tali yang digunakan untuk mengikat pipa-pipa besi yang kini teronggok di trotoar.

“Kau lihat ini, Bum?” Kyuhyun menunjukkan tali di genggamannya pada Kibum. Ia ikut berjongkok, mencoba mengamati lebih intens. Mata keduanya bertemu,saling mengirim pesan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Well, saudara kembar biasanya memiliki ikatan khusus, bukan?

‘Mungkinkah..’

“Apa kau memikirkan sesuatu yang sama denganku, Kibum –ah?”

Kibum menoleh. “Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kita harus memastikannya.”

Kyuhyun mengangguk cepat. Keduanya segera beranjak, mengikuti jejak langkah bocah lelaki yang terlihat berbelok ke arah kiri di pertigaan depan.

Meninggalkan tali yang tergeletak begitu saja di trotoar. Terlihat potongan yang rapi pada bagian yang putus itu. Persis dengan goresan benda tajam. Dan meski belum dapat dipastikan, Kyuhyun dan Kibum yakin, hal itu sengaja dilakukakn oleh seseorang yang mungkin tengah mengincar nyawa seorang bocah yang tak berdosa, berusaha mengkamuflase percobaan pembunuhannya dengan dalih kecelakaan.

 

Selama kejahatan itu dilakukan oleh manusia, maka tak akan ada kejahatan yang sempurna.

-Edogawa Conan-

 To Be Continued~

What’s on your mind?

Just say it on the comment box.

Thank you, everyone!

With love, Little Evil  >:]

Advertisements

2 thoughts on “[Fanfiction] Mystery of The Twins Chapter 1”

  1. Uhuhkk..numpang bc ya min,kikyu seru” hhhh
    tp yeoja’a cm satu gmn kalo kikyu rebutan ntar ?
    Ditunggu kelanjutan’a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s