[Fanfiction] Facade : Chapter 1

facade

            Cho Kyuhyun menyelipkan sebatang rokok di celah bibirnya yang terkatup. Jemarinya meraih pemantik api berbentuk pena yang terjepit di saku kiri kemeja putihnya yang sudah kusut. Api berwarna biru muncul saat ibu jarinya menekan salah satu tombol di sisi pena, lantas mendekatkannya ke arah gumpalan tembakau pilihan yang bersarang di celah bibirnya. Seketika asap putih mulai merayap, melingkupi pandangan matanya saat ia menghembuskan nafas letihnya. Kedua iris matanya yang sewarna karamel gelap terpejam, menikmati sensasi yang memenuhi rongga kepalanya. Zat adiktif itu mulai bekerja, membuat otaknya dipenuhi kabut kelabu. Untuk sejenak menyingkirkan kabut gelap yang senantiasa bergelayut dalam rongga kepalanya.

            Kepalanya merebah di bantalan sofa merah maroon yang menjadi temannya melepas penat setelah seharian mengisi waktunya dengan rutinitas yang sama sekali tak bisa menguasai hatinya. Ia tak ubahnya seperti robot, melakukan semua yang diperintahkan padanya, tanpa hati yang turut andil di dalamnya.

            Drtt.. Drtt..

            Getaran ponsel di saku celananya menginterupsi angannya yang tengah terlena dalam belaian asap rokok yang memenuhi rongga pernafasannya. Ia mengehmbuskan nafasnya kasar. Ekor matanya melirik jarum jam dinding di samping kanannya dan kembali mengeluh keras saat mendapati jarum jam yang telah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.

            ‘What the hell..!’ umpatnya keras-keras, namun ia melakukannya dalam hati. Mengingat deretan hangeul yang menyusun ID seseorang yang menelponnya adalah Tuan Cho, yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Entah mengapa, ia lebih memilih memberi nama kontak ayahnya dengan nama itu. Bukan dengan panggilan manis seperti daddy atau mungkin appa. Geez! Jangan harap kau akan menemukan hal-hal manis dalam kamus hidup seorang Cho Kyuhyun.

            “Yeoboseyo..” Kyuhyun menempatkan ponsel di telinga kirinya, tangan kanannya masih sibuk mengamankan sebatang rokok miliknya.

            “Bagaimana, kau sudah menguasai semua berkas yang kuberi tadi siang?” suara berat milik ayahnya terdengar dari line telephone, tak ada basi-basi sama sekali. Membuahkan decihan pelan di bibirnya yang kini tengah mengukir seringaian kecil, seolah mengejek dirinya sendiri.

            “Nde, abeoji. Kau tak perlu khawatir.” Dan Kyuhyun adalah sosok seorang putra yang sempurna di mata dunia. Postur tubuh yang tinggi, wajah yang tampan dan prestasi cemerlang yang selalu mengiringi hidupnya membuatnya menjadi sosok sempurna yang tak tersentuh. Kini, di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia telah berada di semester ke-3, mengenyam bangku kuliah yang seharusnya ia tempuh 2 tahun yang akan datang.

            Hidup Kyuhyun dengan segala kesempurnaannya bukanlah miliknya, melainkan milik mereka, pihak-pihak yang memaksanya hidup dengan kesempurnaannya.

            “Pastikan dirimu hadir di ruangan sebelum rapat dimulai. Tuan Kim bukanlah seseorang yang toleran akan keterlambatan walau satu detik pun. Kau mengerti?” Bukan kalimat seperti ini yang Kyuhyun harapkan menyapa indera pendengarannya. Bukankah seorang ayah harusnya mengucapkan ‘pastikan dirimu baik-baik saja, kau telah bekerja keras hari ini. appa tak ingin kau terlalu memaksakan diri’. Huh, jangan memulai lagi, Cho Kyuhyun. Ia bahkan mulai meragukan keberadaan jiwa dalam raganya.

            “Arasseo, abeoji.”

            PIP

            Sambungan segera berakhir tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Tak ada ucapan selamat malam, apalagi kecupan selamat tidur yang selalu ia dambakan akan ia dapat suatu hari nanti. Tak ada belaian hangat penuh kasih dari mereka, hanya selembar selimut tebal yang mampu menghangatkannya. Tapi tidak dengan hatinya.

            Ia kembali mendekatkan rokok yang masih mengepulkan asapnya pada bibirnya, menyesapnya dalam-dalam. Entah sejak kapan ia memulai kebiasannya yang bisa dibilang buruk ini. Yang ia inginkan hanyalah rasa tenang sementara yang membuatnya melupakan sejenak akan sosoknya sebagai Cho Kyuhyun, putra bungsu keluarga Cho yang maha sempurna. Cih. Untuk ke-sekian kalinya, ia melemparkan tawa sinis yang ia tujukan untuk dirinya sendiri. Melihat betapa menyedihkannya hidupnya selama ini.

            Begitu banyak tuntutan dalam hidupnya yang mau tak mau harus ia penuhi, bagaimanapun caranya. Tak peduli akan tubuhnya yang didera rasa lelah. Tak peduli akan perasaannya, tak peduli akan hatinya. Sudah kukatakan, hidup seorang Cho Kyuhyun bukanlah miliknya. Ia harus menjadi nomor satu dalam segala hal, tanpa terkecuali.

            Harus menjadi juara kelas. Harus menjadi siswa teladan.

            Harus menjadi anak yang patuh. Harus menjadi anak yang sopan.

            Harus menjadi yang terbaik dalam bidang olahraga.

            Harus menjadi penerus ayahnya kelak.

            Harus menjadi pelindung bagi hyungnya, apapun yang terjadi.

            Harus selalu memenuhi permintaan orang tua.

            Tak boleh membantah, tak boleh memilih.

            Dan kau percaya? Cho Kyuhyun melakukan itu semua.

-o0o-

            Kyuhyun memandang sosok dalam cermin di depannya. Sangat sempurna dengan setelan formal layaknya seorang tuan muda pada umumnya. Hari ini ia akan memimpin rapat pertamanya sejak ia diputuskan untuk menjadi penerus ayahnya kelak. Mempelajari segala hal tentang perusahaan sejak usia 13 tahun. Kyuhyun tak boleh mengeluh meski otaknya nyaris meledak. Ia tak boleh melayangkan protes meski hatinya menjerit keras ingin menghentikan itu semua.

Flashback on

            Lelaki dewasa itu melayangkan tatapan sendu dari balik lensa minusnya. Memandang bocah lelaki seumuran anaknya yang kini tengah memasang raut wajah serius. Di atas mejanya, berserakan berkas-berkas dokumen tentang perusahaan milik ayahnya yang harus ia pelajari sejak saat ini. Menghabiskan waktu di sekolah formal hingga sore hari, mengikuti bimbingan belajar di rumah hingga malam tiba. Dan setelahnya ia akan dijejali dengan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan yang kelak akan dipimpin olehnya. Percayalah. Ia hanyalah bocah 13 tahun yang bahkan tak pernah berpikir akan menjadi seorang pewaris utama perusahaan milik ayahnya. Ia hanyalah seorang bocah yang begitu rindu bermain dengan teman-teman sebayanya.

            “Ahjussi, bisakah kita lanjutkan ini besok? Kyu pusing..” Lelaki itu –Jungsoo tersentak dari pikirannya kala mendengar suara rengekan yang begitu terdengar lirih. Ia menatap iris sewarna karamel yang tengah menatapnya dengan berkaca-kaca. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan sakit di hatinya. Tatapan itu, sarat akan luka yang terpendam begitu dalam.

            “Baiklah, Kyu.. Sebaiknya memang kau tak perlu terlalu memaksakan diri.” Ujarnya dengan lembut, sarat akan pengertian. Kyuhyun yang mendengarnya sontak membulatkan matanya.

            “Jinja? Kyu boleh tidur sekarang?” Lihatlah, suara ceria nan polos itu justru terasa menggores hati Jungsoo. Bagi seorang Cho Kyuhyun, hal-hal kecil semacam ini adalah sesuatu yang besar.

            Jungsoo tersenyum kecil, mengangukkan kepalanya dengan pasti. Hal itu membuat Kyuhyun mulai mengembangkan senyuman di bibir kecilnya, meski denyutan di kepalanya terasa makin intens menghujamnya. Dalam benaknya, sudah terbayang betapa nyamannya jika ia merebahkan tubuh penatnya di atas tempat tidur miliknya, mengistirahatkan otaknya yang seolah nyaris meledak karena terus dipaksa bekerja.

            “Siapa yang mengizinkanmu untuk bermalas-malasan, Kyu?!” suara berat datang menginterupsi setelah terdengar bunyi pintu eboni yang terbuka. Memunculkan sosok lelaki paruh baya dengan wajah tegasnya. Kedua iris matanya yang hitam menatap tajam bocah lelaki yang kini tengah memandangnya dengan takut.

            “Seorang calon pewaris perusahaan haruslah tahan banting. Bagaimana kau menghadapi permasalahan perusahaan di masa mendatang jika menghadapi hal sekecil ini kau sudah mengeluh??!” suara dengan nada rendah itu terdengar begitu menakutkan di telinga Kyuhyun. Ia menundukkan kepalanya, tak cukup nyali untuk sekedar menatap sosok ayah kandungnya.

            “Jungsoo –ssi, kau kubayar bukan untuk memanjakan anak ini. Dia harus terbiasa dengan kerasnya kehidupan sejak saat ini!” perintah mutlak. Tuan Cho segera berlalu dari ruangan itu setelah memastikan putra bungsunya kembali menekuni berkas-berkas perusahaan.

            Jungsoo kembali menatap miris panorama yang tersaji di depan matanya. Sosok Kyuhyun kecil dengan wajah berlinang air mata yang tak henti mengalir dari kedua matanya, namun tetap memaksakan dirinya untuk mempelajari berkas-berkas perusahaan milik ayahnya. Membuat hati Jungsoo kembali tersayat. Perih. Ia teringat putranya, yang berada di usia yang sama dengan Kyuhyun. Putranya adalah anak yang ceria dan manja, berbanding terbalik dengan Kyuhyun yang dingin dan tertutup.

            “Tak apa, Kyu.. Kau istirahatlah, biar ahjussi yang bertanggungjawab untuk ayahmu.” Hanya gelengan kepala yang Jungsoo dapatkan darinya.

            “Aniya, ahjussi. Kyu tidak ingin ahjussi dimarahi appa. Kyu tidak ingin keluarga ahjussi juga terkena imbasnya nanti.” Jawaban itu lolos begitu saja dari mulut kecil Kyuhyun. Yang berhasil menyentak pikiran Jungsoo. Anak sekecil ini, begitu memahami watak ayahnya yang begitu keras kepala dan egois.

            “Kyuhyun –ah..” Jungsoo berujar lirih.

            “Gwenchana, ahjussi. Appa benar. Pewaris perusahaan harus tahan banting. Kyu berjanji tidak akan menangis lagi. Kyu berjanji, ahjusii.. Hiks.. Kyu berjanji.. Kyu berjanji..” Kyuhyun terus menggumamkan janjinya lirih, dengan derai air mata yang kian menjadi.

            Dan kau percaya? Malam itu menjadi malam terakhir seorang Cho Kyuhyun meneteskan air matanya.

Flashbak off

-o0o-

            Tap. Tap. Tap.

            Ritme langkah kaki yang tengah menuruni satu-persatu anak tangga terdengar di suasana pagi yang lengang itu. Sepasang kaki jenjang berbalut celana hitam formal terlihat bergegas menuju arah ruang makan dimana keluarganya telah berkumpul untuk melakukan rutinitas pagi, menyantap sarapan bersama. Netra sewarna cokelat madu itu mengedarkan atensinya, dan berhenti pada tiga sosok yang tengah duduk di kursinya masing-masing. Ketiganya masih nampak fokus dengan kegiatannya.

            Tuan Cho nampak tenggelam di balik koran paginya. Iris matanya terlihat menjamah tiap deretan kalimat yang terpampang di depannya melalui lensa minusnya. Sementara sang istri masih sibuk menyiapkan hidangan untuk keluarga mereka bersama pada maid yang hilir mudik menyiapkan peralatan. Dan terakhir, lelaki berusia awal 20-an yang tengah berkutat dengan smartphone biru metalik di genggamannya dengan earphone yang senantiasa menjadi temannya dimana pun ia berada. Cho Donghae. Penampilannya sungguh menawan dengan mode casual yang sangat pas di tubuh rampingnya. Meski tinggi badannya tak lebih tinggi darinya, namun hyungnya itu berada di jejeran teratas mahasiswa yang paling banyak di gemari.

            Diam-diam Kyuhyun mulai mengamati penampilannya sendiri, membandingkannya dengan penampilan milik hyung­nya. Cih. Mereka sungguh bertolak belakang. Pakaian formal yang melekat di tubuhnya sama sekali tak cocok untuk remaja seusianya. Selama ini, Kyuhyun akan terus mengenakan pakaian-pakaian formal atau paling tidak semi formal yang sungguh membuatnya tampak berada di usia jauh di atasnya. Tapi ia tak begitu mempedulikannya, toh siapa yang mau memperhatikan bagaimana caranya berpakaian?

            Kyuhyun cukup tahu diri. Beban di pundaknya begitu berat, mengingat nasib perusahaan milik ayahnya yang kelak akan diwariskan padanya. Ia tak akan memiliki waktu untuk sekedar memilih mana pakaian yang sekiranya pantas melekat di tubuhnya. Tak seperti hyungnya yang di beri kebebasan penuh untuk menentukan hidupnya. Dan Kyuhyun menerima itu semua sebagai garis hidup yang telah Tuhan berikan padanya.

            Tap.

            Langkah Kyuhyun terhenti tepat di samping Donghae, sebelum menarik kursi eboni miliknya dan mendudukkan diri dengan sopan.

            “Selamat pagi appa, eomma, hyung..” Sopan santun adalah nomor satu di keluarga Cho. Meski tak ada yang membalas sapaan paginya, Kyuhyun akan melakukan itu semua. Ini bukan berasal dari kemauannya, melainkan sebagai perintah mutlak yang diberikan padanya. Entahlah, Kyuhyun tak begitu paham apa yang dimaksud dengan sebuah keinginan. Karena kata-kata itu telah lenyap dalam angannya semenjak ia dituntut berbagai ‘keinginan’ yang tentunya bukan berasal dari dirinya.

            Nyonya Cho menghidangkan sajian terakhir, segelas susu cokelat ia letakkan di depan putra sulungnya yang tampak masih terfokus pada ponsel miliknya.

            “Cha.. Semua sudah siap. Kita mulai sarapannya.” Tuan Cho mengakhiri kegiatannya dalam menekuni koran paginya dan beralih untuk memulai sarapannya. Ia menghela nafas jengah saat netranya mendapati putra sulungnya masih saja berkutat dengan ponselnya. Kebiasaan Donghae yang selalu menggunakan earphone dimana pun dan kapan pun selalu membuahkan teguran darinya. Namun nampaknya putra sulungya itu tak pernah jengah. Lagipula mana tega ia membentaknya dengan kasar. Cho Donghae tak boleh mendapatkan hal-hal yang berat dalam hidupnya.

            Tuan Cho melirik istrinya, memberi bahasa isyarat melalui tatapannya. Nyonya Cho menanggukan kepalanya paham, dan segera ia melangkahkan kakinya menuju kursi putra sulungnya. Dengan pelan dan hati-hati, ia menyentuh pundak kanan Donghae, menepuknya pelan.

            “Donghae-ya, simpan dulu ponselmu. Sarapanmu sudah siap, chagi..” Donghae sedikit tersentak dari dunianya. Alunan musik dari earphone­nya selalu membuatnya terlena. Ia segera melepasnya dan tersenyum lebar, meminta maaf melalui bahasa tubuhnya.

            “Nde, eomma. Mian..” ucapnya pelan, menggaruk bagian belakang kepalanya. Donghae melirik ke arah samping kirinya dan mendapati adiknya tengah menikmati roti selai kacangnya dengan tenang.

            “Whhoaa.. Kyuhyunie, kau tampan sekali pagi ini..!” Donghae berseru keras, iris matanya berbinar melihat penampilan adik kecilnya yang terlihat dewasa dimatanya. Kyuhyun hanya menampakkan senyuman tipis yang tampak begitu samar di bibirnya. Keluarga Cho menjunjung tinggi sopan santun, berteriak saat berada di meja makan adalah tindakan yang seharusnya mendapatkan teguran. Namun jika sang putra sulung yang melakukannya, hal itu tak akan membuahkan masalah yang berarti.

            “Kau sudah seperti CEO muda saja.” Cibir Donghae, bermaksud menggoda adiknya yang memiliki ekspresi minim itu. Nyatanya Kyuhyun hanya melirik Donghae melalui ekor matanya dan tersenyum singkat untuknya. Ini bukan keinginannya. Tata krama mengharuskan dirinya untuk tidak mengabaikan lawan bicaranya.

            “Biarkan Kyuhyun makan dengan tenang. Sekarang kau makan saja sarapanmu, Donghae-ya..” suara lembut Nyonya Cho dan belaian hangat di puncak kepalanya membuat Donghae tersenyum senang.

            “Arasseo, eomma.. Selamat makan~~!!”

-o0o-

            Roda Audy putih itu terus bergulir, menyusuri jalanan Seoul yang yang nampak selalu padat di pagi hari. Di dalamnya, sang sopir pribadi tampak memfokuskan diri pada kemudinya, memastikan dirinya membawa dua tuan muda yang duduk di kursi penumpang sampai tujuan dalam keadaan selamat, tak kurang suatu apa pun. Sementara di kursi belakang, Donghae kembali menghela nafas jengah. Untuk ke-sekian kalinya, ia mengalihkan atensinya pada Kyuhyun yang tengah duduk dengan tenang di sampingnya. Kedua tangannya masih persisten memegang dokumen yang Donghae yakini milik perusahaan appanya. Raut wajah Kyuhyun nampak begitu serius, membuat wajah stoic­nya semakin tampan. Donghae mengakuinya, Kyuhyun memang anak yang tampan di usianya yang masih remaja.

            “Membaca di dalam kendaraan yang tengah melaju bisa membuatmu pusing, Kyu.. Tidak baik untuk kesehatan matamu.” Donghae bersuara sembari mengusap surai dark brown milik adiknya yang tampak begitu lembut di tangannya.

            Kyuhyun menghentikan sejenak aktivitasnya, kepalanya ia tolehkan ke arah hyung-nya. “Gwenchana, hyung.. aku sudah terbiasa, jadi ini tak masalah bagiku.” Jawab Kyuhyun seraya menyingkirkan tangan Donghae yang bertengger di kepalanya dengan halus. Kyuhyun hanya merasa tak begitu nyaman dengan sentuhan orang lain.

            “Aishh, kau ini.. Kenapa begitu keras kepala, huh?” dengus Donghae kekanakan. Sang sopir pribadi yang melihat interaksi hyung-dongsaeng di belakangnya melalui kaca spion di depannya pun terkekeh kecil. Mereka sangat lucu, pikirnya.

            Kyuhyun hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Donghae sebelumnya. Kembali ia menekuni dokumen perusahaan yang akan ia gunakan sebagai bahan rapat perdananya pagi ini. Menulikan pendengarannya akan gerutuan kekanakan yang berasal dari hyung-nya yang itu.

            CKIIT.

            Suara decitan roda mobil dengan aspal di bawahnya menandakan mobil yang mereka tumpangi telah sampai di tempat tujuan. Kyunghee University. Tempat Donghae dan Kyuhyun menimba ilmu di dalamnya. Donghae memilih untuk melanjutkan studynya di fakultas Science of Cultural Studies, dimana di dalamnya ia akan mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan seni. Sementara Kyuhyun, remaja berusia 17 tahun itu menempuh studinya di fakultas Ekonomi, tepatnya mengambil Jurusan Bussines Management. Ini bukan kemauannya. Bukankah sudah kukatakan bahwa hidup seorang Cho Kyuhyun bukanlah miliknya? Karena ia hidup dalam kubangan keinginan orang lain yang di tujukan padanya.

-o0o-

Flashback

            Suasana Seoul High School tampak begitu ramai hari ini. Sejak pagi, aula besar yang terlihat megah itu sudah dipenuhi oleh para wali murid yang datang untuk menyaksikan putra-putri mereka yang akan merayakan acara kelulusan setelah melewati ujian yang bisa dikatakan cukup berat untuk tahun ini. Di antara tamu undangan yang hadir, terlihat sepasang suami istri yang tampak begitu elegan dengan busana yang dikenankannya, menyiratkan status soisal mereka yang begitu tinggi. Tuan dan Nyonya Cho duduk di deretan bangku paling depan, tak sabar menunggu putra mereka berdiri di atas panggung untuk menerima penghargaan karena prestasi yang mereka raih. Yah, kedua putranya memang memliki otak yang cemerlang, terutama sing bungsu Cho yang dikabarkan mendapat nilai terbaik dalam ujian tahun ini. Tak tanggung-tanggung, Cho Kyuhyun mendapat nilai tertinggi bukan hanya di tingkat sekolah, melainkan tingkat Seoul. Sunggguh, orang tua mana yang tak bangga akan prestasi membanggakan putranya? Dan jangan lupakan jika Kyuhyun adalah murid akselerasi.

            “Baiklah hadirin, kini tiba saat yang paling ditunggu-tunggu kita semua.” suara MC yang mengalun di aula yang begitu luas membuahkan tepuk tangan riuh dari para wali urid yang hadir.

            “Kami akan segera membacakan nama murid peraih nilai tertinggi tahun ini. Di usianya yang begitu muda, ia berhasil melalui program akselerasi. Tak hanya meraih nilai tertinggi di sekolah, tapi juga tertinggi se-Seoul. Siap untuk mendengar namanya?”

            “Ne…!!” teriakan kompak itu kembali mengalun, mengisi ruang aula Seul High School dengan begitu meriah.

            Donghae melirik Kyuhyun yang masih sempat-sempatnya bercengkerama dengan PSP hitam metalik miliknya. Dengan jahil, Donghae merebut PSP itu dan memasukkannya ke dalam saku tuxedo miliknya. Membuahkan kerutan samar di dahi Kyuhyun. Ia menatap Donghae dengan tatapan andalannya –datar.

            “Hey bocah, apa-apa wajahmu itu?! sebentar lagi namamu akan dipanggil. Bersiap-siaplah, kau harus memberikan pidato yang bagus, arasseo?! Appa dan eomma pasti sangat bangga melihat putra bungusunya yang jenius ini..Donghae menepuk-nepuk pelan puncak kepala Kyuhyun, mengundang desisan tak suka di wajah Kyuhyun yang putih pucat. Donghae hanya terkekeh pelan melihat tingkah adik satu-satunya ini. Menyenangkan sekali menggoda anak ini, pikirnya.

            “Dan namanya adalah……………” suara MC yang berkesan dilambatkan mengundang decakan gemas dari bangku para wali murid. Sementara Donghae masih persisten dengan senyum lebarnya, menatap wajah Kyuhyun yang persisten menunjukkan rasa kesal padanya.

            “Selamat untuk Cho Kyuhyun dari kelas 3-A! Ia berhasil memperoleh  nilai sempurna di mata pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, Kimia dan Bahasa Inggris! Sekali lagi selamat! Untuk Cho Kyuhyun, dipersilahkan untuk naik ke atas panggung.”

            “Whoa…! Kyuhyun-ah aku benar kan?!” Dongahe berseru senang, kedua tangannya sudah ia gunakan untuk memeluk tubuh kurus adiknya dengan erat, mengguncangnnya dengan antusias.

            “Hae hyung, ughh lepaskan!” Kyuhyun menggeliat tak nyaman, meronta dalam pelukan hyungnya. Namun Donghae masih persisten memeluk adiknya dengan erat, menyalurkan rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya.

            “Chukkae nae dongsaeng.. Kau memang adikku yang hebat!” Donghae masih saja berseru senang, mengabaikan protes yang keluar dai bibir Kyuhyun.

            “Aku bilang lepas!” tanpa sengaja, Kyuhyun mendorong tubuh Donghae dengan sedikit sentakan. Alhasil tubuh Donghae terhuhyung ke belakang dan berkahir terjerembab di deretan kursi-kursi di belakangnya. Salahkan tubuh Donghae yang terlalu lemah dalam menghadapi serangan Kyuhyun. Atau perlukah kita menyalahkan Kyuhyun yang memiliki tenaga berlebih?

            Suara debuman yang cukup keras itu mampu menarik seluruh perhatian tamu undangan yang hadir. Pekikan keras, dengan raut wajah tak pecaya tergambar jelas di wajah-wajah yang tengah terkejut itu. Tuan dan Nyonya Cho menataa tak percaya panorama yang tersaji di depan mata kepala mereka sendiri. Di derertan bangku yang berada di posisi tengah, putra sulung mereka –Donghae tampak tergeletak di antara kursi-kursi yang tak lagi berada di posisi semula. Donghae tampak meringis kesakitan, sementara tangan kanannya mencengkeram dada bagian kirinya. Di depannya berdiri si bungsu –Kyuhyun yang masih mematung di tempatnya beridiri, seolah kakinya tertancap begitu dalam di bumi ini.

            Tuan Cho yang terlebh dahulu tersadar dari masa terkejutnya segere mengajak kakinya berlari menuju putranya. Fokusnya hanya tertuju pada putra sulungnya yang masih terbaring di atas lantai aula yang dingin.

            “Andwae…! Donghae-ya!” teriakan kalut dari seorang CEO kelas atas itu mengalun, memecah keheningan yang tercipta sesaat setelah peristiwa mengejutkan itu terjadi. Nyonya Cho yang tersentak dengan teriakan suaminya pun segera berbegas untuk melihat kondisi putranya.

            “Donghae –ya!” Tuan Cho segera merengkuh tubuh Dnghae dalam dekapannya, mengusap peluh yang mulai mengalir deras di pelipisnya.

            “Donghae-ya, kau dnegar appa? Appa mohon, buka matamu, nak..” Tuan Cho berulang mengucapkan kalimat-kalimat yang sarat akan rasa khawatir dan takut yang beigtu besar. Sementara Nyonya Cho yang berdiri di hadapannya nampak membungkam mulutnya dengan telapak tangannya, menahan isakan yang mulai muncul dari celah bibirnya.

            Tuan Cho kini mengalihkan atensinya pada sosok bocah yang masih berdiri dengan begitu kaku di depannya. Iris cokelat madu milik bocah itu tampak bergetar, menahan buliran kristal bening yang entah mengapa tak pernah bisa untuk keluar dari tempatnya.

            Mendapat tatapan tajam dari ayahnya, membuat Kyuhyun mau tak mau menundukkan kepalanya, tak kuasa menahan gejolak panas dalam dadanya. Tuan Cho menyerahkan tubuh Donghae ke pangkuan sang istri, sebelum bangkit dan melangkahkan kakinya ke arah putra bungsunya yang tampak bergetar.

            PLAK!

            Bunyi tamparan yang sangat keras itu menggema di aula Seoul High School. Menibulkan pekikan tak percaya dari para hadirin yang datang. Hei, bagaiamana bisa seorang ayah menampar putranya dengan begitu keras di depan umum?

            Wajah Kyuhyun terhempas ke kanan dengan kuat, rasa panas dan perih bersarang di pipi kirinya. Jangan lewatkan sudut bbirnya yang tampak mengeluarkan darah. Ayahnya tak main-main denga tamparannya. Hatinya ikut berdenyut nyeri, bahkan tersa lebih sakit dibanding luka yang diderita oleh fisiknya.

            “Apa lagi yang kau lakukan pada Donghae hah?! Tidakkah kau puas melihat kakakmu kesakitan? Kapan kau berhenti menyakitinya? Apakah saat kau melihat tubuh kakakmu tebujur kaku dalam peti mayat, kau akan berhenti? Jawab appa, Kyu!! Jangan diam saja seperti orang bisu!”

            Kyuhyun masih persisten menundukkan kepalnya, rasa perih di pipinya  tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya yang kian meradang.

            “Yeobo, sebaiknya kita cepat membawa Donghae ke rumah sakit. Ia tampak begitu kesakitan!” suara panik istrinya menyadarkannya akan situasai yang tengah terjadi. Dengan segera ia beralih meraih tubuh Donghae, membawanya dalam gendongannya. Suami-istri itu tampak berlari tergesa menuju pintu keluar aula, memastikan putra sulungnya segera mendapatkan perawatan yang memadai di rumah sakit. Meninggalkan seorang bocah yang masih saja menundukkan kepalanya, menahan rasa sakit di ulu hatinya untuk ke-sekian kalinya. Jika saja Kyuhyun bisa mengeluarkan cairan hangat yang disbut air mata, niscaya ia akan menangis keras saat ini. Namun saat ini, hanya matanya yang memerah, menahan gejolak dalam rongga dadanya. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, mengenai betapa menyedihkannya sosok bocah genius di hadapan mereka. Semestinya ini adalah hari bahagianya, mendapat prestasi tertinggi yang seharusnya bisa mmebuat orang tuanya merasa bangga. Akan tetapi, karena tingkah cerobohnya –yang tak disengaja, angan-angan itu seolah hancur di tangannya sendiri.

            Kyuhyun menatap sendu punggung ayah dan ibunya yang kini telah lenyap di balik pintu keluar aula.

            Bruk.

            Kyuhyun jatuh bersimpuh, tak lagi kuasa menahan beban di tubuhnya. Mengundang tatapan iba dari para tamu undangan yang hadir. Sosok remaja jangkung tampak berjalan dengan cepat di belakang tubuh Kyuhyun sebelum ikut bersimpuh di belakang tubuh yang tampak bergetar itu dan memeluknya erat dari arah belakang, mencoba menyalurkan gurat ketenangan pada sahabat dekatnya itu. Ia dapat merasakan tubuh Kyuhyun sedikit tersentak menerima perlakuan tiba-tiba darinya, namun yang ia lakukan justru makin mengeratkan pelukannya.

            “Gwehncana, Kyuhyun –ah, gwenchana.. Ini bukan salahmu sepenuhnya. Percayalah padaku, arassseo?” ia terus membisikkan kalimat-kalimat yang sekiranya dapat meringankan beban dalam hati sabahatnya itu. Mengenal Kyuhyun semenjak kecil membuatnya begitu paham akan sifat Kyuhyun.

            “Chang- min?” Kyuhyun berujar lirih, tampak begitu rapuh.

            “Ne, Kyu.. ini aku.” Changmin beringsut ke hadapan Kyuhyun, mengangkat wajah suram itu dengan perlahan.

            “Cha! Tak perlu khawatir, Hae hyung adalah orang yang kuat. Kau tahun itu kan?” Changmin tersenyum lega kala mendapati Kyuhyun menganggukkan kepalanya ringan.

            “Sebaiknya kau simpan ini baik-baik. Tak sembarang orang bisa memilikinya. Cih. Padahal aku sudah mati-matian belajar siang-malam. Kenapa justru kau yang mendapatkannya? Menyebalkan!” Kyuhyun menatap secarik kertas –piagam penghargaan atas nama dirinya yang tercetak dengan jelas. Kemudian menatap Changmin yang tengah melakukan aksi merajuk di depannya.

            “Kau bisa menyimpannya jika kau begitu mengingikannya, Chang..” ucapan Kyuhyun yang terbilang tenang sontak membuat Changmin membulatkan matanya tak percaya.

            “Yak Kyu! Kau ini.. aissh! Apa kau tak tahu apa itu bercanda, huh?” Dan Changmin harus kembali mengusap dadanya, bersabar kala mendapat raut wajah polos yang tersaji di depannya.

-o0o-

            Kyuhyun duduk termenung di dalam kamarnya yang bernuansa biru, kepalanya ia sandarkan pada kepala ranjang. Tak ada cahaya lampu disana, hanya sinar temaram rembulan yang menemaninya. Kedua tangannya memegang piagam miliknya dengan erat, membuatnya kusut di beberapa bagian. Lama ia memandanginya, hingga kahirnya –SRAKK! –SRAKK! dengan gerakan cepat, ia merobek kertas berharga itu seiring dengan emosi yang telah memuncak di ujung kepalanya. Untuk apa memiliki banyak piagam penghargaan atas nama dirinya. Mungkin bagi orang lain, hal itu sangatlah membanggakan, tapi tidak dengan Cho Kyuhyun. Baginya, piala-piala dan piagam penghargaan yang selama ini dikumpulkannya dan berjejer rapi di salah satu sudut kamarnya membuahkan luka di hatinya. Lantaran benda-benda tersebut adalah bukti bahwa dirinya tak berhak memiliki hidupnya sendiri. Semua benda itu adalah buah hasil dari ‘keinginan-keinginan’ yang snantiasa di curahkan pada dirinya –yang harus selalu ia penuhi.

            Nafas Kyuhyun memburu setelah berhasil membuat piagam itu menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak berharga. Iris matanya mengedar tajam ke sudut kamarnya dan memenukan berpuluh-puluh piala dari berbagai kejuaraan baik akademis maupun non-akademis yang berdiri angkuh di etalase kaca yang sengaja dibelikan ayahnya untuk menyimpan bukti prestasinya.

            Kyuhyun melompat dari single bednya dengan gerakan cepat, mencipta deritan yang cukup nyaring seketika itu juga. Iris matanya masih memancarkan aura tajam yang penuh akan emosi yang terpendam jauh di dasar lubuk hatinya. Ia mengehentikan langkahnya tepat di depan etalase berisi puluhan piala miliknya yang telah ia kumpulkan semenjak menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.

            Sreet…

            Tangan kananya dengan cekatan menggeser pintu etalase keca bening itu, dan mengambil piala-piala di dalamnya dengan serampangan. Kedua tangannya bergerak lincah mengambil piala-piala miliknya, dan berbalik arah utntuk melemparkannya sekuat tenaga ke arah dinding kamrnya yang bercat biru muda.

            “Arggh…!!!!” teriakan pilu milik remaja yang masih berusia 15 tahun itu terdengar begitu memilukan. Di tengah temaram sinar rembulan, Kyuhyun kembali mengambil beberapa piala miliknya dan melemparkannya ke arah dinding di belakangnya dengan lebih kuat. Tak lagi ia pedulikan betapa berharganya piala-piala itu, bukti jerih payahnya selama ini. Tak lagi ia pedulikan bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika mereka mengetahui apa yang ia lakukan. Yang ada di pikirannya saat ini hanya mengeluarkan semua emosi yang selama ini pendam dalam-dalam, seorang diri. Tanpa ada sosok di sampingnya yang senantiasa membimbingnya dengan tulus, tanpa ada sosok tempatnya berkeluh kesah mencurahkan isi hatinya.

            “Arghhh…!!”

            BRAK!

            Suara piala yang menubruk dinding terdengar untuk ke-sekian kalinya. Namun nampaknya Kyuhyun belum puas sebelum piala-piala sialan itu tak terisisa dalam etalasenya.

            “Arghhh…!!”

            BRAKK! BRAKK!

            Nafas Kyuhyun makin memburu, menyeringai mendapati hanya tinggal satu piala yang masih berdiri disana. Tangannya bergerak untuk meraih piala itu, sebelum netranya menemukan nama yang terukir disana. “Cho Donghae?” gumam Kyuhyun pelan. Piala ini bukanlah miliknya, melainkan milik kakaknya. Namun mengapa benda ini bisa berada di sini?

            “Kyuhyun-ah! Lihat! Hyung berhasil menjadi juara pertama dalam kompetsisi dance antar sekolah! Ah! Sebaiknya hyung simpan saja piala ini di kamarmu, ne? Biar ada temannya. Hehe..”

            Kyuhyun mengerjapkan matanya mengingat perkataan hyung-nya yang tampak begitu antusias saat menerima piala pertamanya. Ia tersenyum miris, kembali meletakkan piala itu di tempatnya.

            Bruk!

            Tubuh kurus itu terduduk pilu, netranya menatap kamarnya yang di penuhi dengan serpihan pecahan piala yang tak bisa di bilang sedikit.

            Tok! Tok! Tok!

            “Tuan muda, apa anda baik-baik saja?! Tuan Muda!” suara kepala pelayan keluarga Cho terdengar di depan pintu kamarnya, pria berusia 60 tahun itu tampak kahwatir saat mendengar keributan dari kamar Kyuhyun. Apalagi suara teriakan Kyuhyun yang terdengar mengiringi suara benda-benda yang saling bertubrukan.

            “Tuan muda, tolong jawab saya..”

            Tok! Tok! Tok!

            “Tuan Muda!”

             Kepala pelayan itu menoleh ke belakang saat merasa sebuah tangan menyentuh pundaknya. Tuan Cho orangnya. Dengan menggunakan isyarat, Tuan Cho mnyuruhnya untuk menyingkir. Kepala pelayan itu hanya sanggup menganggukkan kepalanya sopan dan segera mengundurkan diri dari hadapan majikannya.

            Tuan Cho merogoh saku kemejanya, meraih kunci cadangan dari dalamnya dan segera membuka pintu eboni milik putra bungsunya.

            CKLEK!

            Iris matanya melebar, tak percaya dengan panorama yang tersaji di depan indera penglihatannya. Di depannya, berserakan serpihan-serpihan yang ia yakini sebelumnya adalah piala milik putra bungsunya. Sementara sang pemilik kamar masih terlihat bersimpuh, menatap kosong serpihan piala miliknya.

            Emosi Tuan Cho yang belum sepenuhnya reda –semenjak peristiwa di aula tadi siang yang nyaris membuatnya kehilangan putra sulungnya. Meski nyatanya, dokter mengatakan tak prlu mengkhaawatirkan kondisi Donghae lantaran ia hanya mengalami shock ringan karena gerakan tiba-tiba yang berasal dari putra bungsunya. Mengingat penyebab Donghae harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit, mebuat iris kelam milik pria paruh baya itu kembali menggelap. Dengan cepat ia menghampiri Kyuhyun yang tampak tak menyadari kehadiran sosok lain di dalam kamarnya.

            Kedua tangan kokoh miliknya mencengkeram lengan kecil Kyuhyun dengan kuat. Tak ada ringisan maupun teriakan kesakitan yang keluar dari bibir Kyuhyun. Yang anak itu lakukan hanyalah memandang sendu kedua lengan kokoh milik ayah kandungnya yang entah mengapa selalu menyakitinya. Tak pernah ia rasakan dekapan hangat dari kedua lengan itu.

            “Kau!” tubuh Kyuhyun tersentak kuat seiring dengan gerakan yang dilakukan oleh ayahnya.

            “Sekarang apalagi yang kau perbuat hah?! Menghancurkan semua piala berharga yang kau kumpulkan selama ini? Mengapa tidak kau hancurkan saja rumah ini agar kau merasa puas?!” Kyuhyun perlahan mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk menatap iris kelam milik ayahnya yang dipenuhi emosi yang meluap.

            “Saat ini hyung-mu harus kembali merelakan hari-harinya untuk mendekam di rumah sakit. Kau senaang, hah?!”

            “JAWAB AKU, CHO KYUHYUN!!” teriakan nyaring milik Tuan Cho menyentak kepala pelayan –Hwang ahjussi yang masih berdiri di depan pintu kamar tuan mudanya. Ia sungguh khawatir dengan keadaan Kyuhyun, baik fisik maupun psikisnya. Karena ia telah menjadi saksi hidup keluarga Cho bahkan sebelum Cho Donghae terlahir ke dunia.

            Sementara di dalam sana, Kyuhyun masih belum mangalihkan atensinya dari iris mata kelam itu. Ia terus menatapnya dengan intens, dan rasa sakit kembali menyeruak dalam dadanya kala mendapati tak ada tatapan lain selain tatapan penuh kebencian yang terpancar dari mata ayahnya.

            Sekuat tenaga ia memberontak dari cengkeraman ayahnya, dan tak butuh waktu lama untuk berhasil meloloskan diri darinya. Kyuhun mendorong tubuh ayahnya yang jauh lebih besar darinya hingga ayahnya tersungkur ke belakang. Dan tak mau menyia-nyiakan kesempaan yang ada, Kyuhyun beranjak dari duduknya dan memerintahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan yang membuatnya sesak itu.

            BRAK!

            Bunyi pintu yang terbuka secara paksa diikiuti dengan keluarnya sosok remaja itu kembali menyentak Hwng ahjussi, dengan segera ia mengejar langkah tuan mudanya yang tengah dilingkupi perasaan kalut itu.

            “Tuan Muda….! Berhenti..!”

            Sementara Tuan Cho masih terpekur dalam duduknya, matanya mengedar ke sekeliling kamar putra bungsunya yang rasanya telah lama tak terjamah olehnya. Masih jelas dalam ingatannya, bagaimana iris sewarna karamel itu menatapnya dengan pandangan yang begitu terluka –tepat di matanya. Seketika rasa nyeri merayap di lubuk hatinya, namun ego miliknya masih di atas segalanya.

            Ia meraih ponsel miliknya dan memberi intruksi pada para bawahannya. “Cepat temukan Kyuhyun dan seret dia pulang!”

To be continued~

Well, what’s on your mind? Just say it on the review box!

Thank you, everyone! X)

 

With Love,

LittleEvil19 > x]

Advertisements

19 thoughts on “[Fanfiction] Facade : Chapter 1”

  1. Wahhh tuan cho dn nyonya cho sngguh kterlaluan,,,,,,,knpa mrka bgtu trhadap kyu????? Dn yg lbh heran knp kyu msh brtahan,,,,sharusnya kyu pergi aja dr rmah itu,,,toh kyu lbh dri pintar untk ttp brtahan di luar…biar aja perusahaan kluarga cho ga da pewarisnya,,dn tuan dn nyonya cho mnderita krna khlangan putra bungsunya yg dianggap ga berharga!!
    Good job!!

  2. Huaaaaaaaaaaa eon sukses buat q mewek sedih bgt rasanya jd kyuhyun
    sp juga yg g trluka diperlakukan g adil sm ortu sendiri bahkan itu trjd sedari dy kecil luka yg kyu terima udh mendarah daging kyny y eon…. tambah keren eon dtunggu next fighting 😀

  3. Kok mereka kayak menomor 2kan kyuhyun walau donghae sakit tp nggak semua beban di tanggung kyuhyun, agak susah buat kyuhyun kabur pasti bkl ketemu tuan cho dengan kekuasaanya, semoga kyuhyun bertemu seseorang yg bisa buat dia tersenyum dan bersandar di luar pelik nya kehidupan kelurganya….

  4. Ya tuhaaannn… Eonni, gatauuu asli gatau gimana mo komen… Yg pasti meleleh bercucuran airmata ini eonni 😢😢😢😭😭😭
    Dabest lah udah, ga kurang ga lebih…..
    Next ditunggu bgt eon, aseli….
    FIGHTING EONNI!!!!!

  5. Hay,, aq reader baru..
    Aduhh nyesek bgt ngebaca ni ff,,, knapa harus slalu donghae,, inilah yg bisa membuat kyu lebih terluka hatinya…
    Kenapa appa kyu g bisa lembut ma kyu??? Masa hanya karna donghae yang sakit???? Jadi kasian ma kyu yg slalu dpat kelakuan ksar dari appanya….

    Smangat chingu buat lanjutin ni ff,,,,, fighting!!!!!👍

  6. kasian banget kyuhyun… umurnya ru 13 tapi udah sibuk banget, sekolah, bimbingan belajar, pelajari berkas perusahaan mau istirahat bentar malah dimarahi dibilang malas2san…
    kasian banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s