[Fanfiction] Facade Chapter 2

facade

Bocah berusia 15 tahun yang baru saja mendapatkan kelulusannya hari ini tampak membawa langkahnya untuk terus berlari, menyusuri jalanan malam yang telah lengang lantaran telah mendekati tengah malam. Anak rambutnya berkibar seiring dengan terjangan angin malam yang terasa menusuk tulang. Tanpa alas kaki, apalagi mantel hangat yang seharusnya melekat di tubuhnya. Katakanlah ia anak bodoh. Namun tak ada lagi yang ia pikirkan selain lari sejauh mungkin dari tempat yang orang lain sebut dengan rumah –tapi baginya tak ada bedanya dengan neraka.

            Sekali lagi, ia mencoba berhadapan dengan takdirnya. Kemanakah takdirnya kali ini akan menuntun hidupnya?

            Ini bukanlah pertama kali ia mencoba melarikan diri dari rumah yang penuh dengan rasa sesak itu. Berkali-kali ia mencobanya, namun ia seolah tak memiliki celah sedikitpun untuk lolos dari kejaran para bawahan ayahnya itu. Dan ia yakin, saat ini ayahnya itu pasti telah mengerahkan para bodyguard itu untuk segera menyeretnya pulang kembali ke dalam nerakanya. Hell yah! Apakah ia berlebihan dengan menyebut rumahnya sendiri dengan sebutan neraka? Kurasa tidak, jika kalian mengerti bagaimana jalan hidup yang ia jalani selama 15 tahun ini. Tak ada istilah home sweet home yang selalu dibanggakan oleh teman-temannya saat jam belajar di sekolah telah usai. Yang ada ada dalam kepala Kyuhyun saat pulang sekolah hanyalah, welcome back to my hell…!

            Langkah Kyuhyun terhenti di persimpangan jalan. Untuk sejenak ia ragu, jalan mana yang harus ia tempuh? Di depannya terbentang jalan lurus, menuju jalan raya. Dan belokan ke kanan, ia tak ingat jalan itu menuju ke arah mana. Sementara sisi kiri adalah sisi gelap yang di penuhi pepohonan yang rimbun dan lebat. Kyuhyun bergidik melihatnya. Hey, ia hanyalah seorang bocah 15 tahun yang masih memiliki rasa takut pada hal-hal seperti itu. Apalagi ini nyaris tengah malam.

            Lama berpikir, Kyuhyun tak menyadari sebuah mobil melaju dengan begitu pelan di belakangnya. Begitu berada tepat di belakang Kyuhyun, sang pengemudi segera beranjak turun dan menghampiri Kyuhyun yang masih tampak kebingunan menentukan jalan mana yang akan ia pilih.

            Puk.

            Tubuh Kyuhyun menegang saat mendapati sebuah tangan menyentuh pundaknya. Hell no! Apakah orang ini salah satu suruhan ayahnya? Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah. Dirinya bersiap untuk mengambil langkah seribu, sebelum sebuah suara menginterupsinya.

            “Tuan muda, tenanglah. Ini saya, Hwang ahjussi..

            Kyuhyun sontak menolehkan kepalanya ke arah belakang dan mendesah lega saat mendapati raut wajah yang baginya menenangkan, meski wajah itu kini tengah dipenuhi dengan guratan waktu. Hwang ahjussi tersenyum begitu tulus, membuahkan senyuman kecil di bibir Kyuhyun.

            “A-ahjussi…” ujar Kyuhyun dengan nafas tercekat, sebelum kemudian menubrukkan dirinya ke dalam dekapan hangat pengasuhnya sejak bayi itu. Hwang ahjussi mengeratkan dekapannya pada sang tuan muda, mencoba memberi kehangatan padanya saat dirasa tubuh dalam pelukannya itu begitu dingin.

            Kyuhyun mendongakkan kepalanya, tinggi badannya saat itu masih sebatas pundak pengasuhnya. “A-apakah ahjussi juga diperintah appa untuk membawaku kembali pulang ke rumah?”

            Hwang ahjusii tak mengerti, hatinya berdenyut sakit mendengar pertanyaan yang sarat akan rasa takut dari sosok tuan mudanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada anak yang sudah menerima kasih sayang darinya semenjak pertama kali menatap dunia.

            “Aniya, Tuan Muda.. Saya langsung mengejar tuan muda begitu anda berlari keluar dari kamar.” Hwang ahjussi tak berbohong. Ia memang langsung mengejar Kyuhyun begitu melihat anak itu berlari dengan keadaan kacau, apalagi sebelumnya ia mendengar pertengkarannya dengan Tuan Cho. Mana mungkin ia membiarkan Kyuhyun pergi dengan keadaan kacau seperti tadi? Ia sudah menyayangi Kyuhyun selayaknya anak kandung sendiri. Karena nyatanya ia tak memiliki putra, sementara istrinya sudah terlebih dahulu menghadap Sang Kuasa.

            Kyuhyun kembali membenamkan paras letihnya pada dada bidang itu, mencoba mencari kehangatan disana. Hwang ahjussi mengusap punggung dan kepala Kyuhyun dengan ritme tetap, sebelum membimbing tubuh itu untuk memasuki mobil mengingat angin malam yang terus saja berhembus kian terasa menusuk tulang.

-o0o-

            Cho Jisoo berdiri tegap di depan kaca besar yang membatasi ruangan kerjanya dengan panorama kota Seoul di malam hari. Manik hitam kelamnya memandang gemerlap lampu kota Seoul yang baginya bagai sengenggam perhiasan murahan yang berserakan. Salah satu tangannya menggenggam segelas wine yang masih tersisa seperempat gelas. Ingatannya dipenuhi dengan sebuah nama. Kyuhyun. Putra bungsunya itu, telah menunjukkan emosi yang sebenarnya. Selama ini, Kyuhyun memang telah menjadi anak yang baik, penurut, sopan dan sempurna. Namun kali ini, ia seolah mencurahkan segala perasaannya yang terpendam dalam jiwanya.

            Tok. Tok. Tok.

            Suara yang datang dari arah pintu miliknya, menarik Cho Jisoo dari lamunannya. Ia menyesap wine terakhirnya sebelum mempersilahkan masuk bodyguard suruhannya. Tampak dua orang pria berpakaian formal memasuki ruang Tuan Besar Cho dengan wajah yang pias.

            “Jeo-jeosonghamnida Tuan, Ka-kami belum bisa menemukan Tuan Muda Kyuhyun.” Ucap salah satu pria yang berbadan kurus. Mendengarnya, membuat Cho Jisoo menatap tajam keduanya.

            “Jangan pernah berani menunjukkan wajah kalian di depanku sebelum menemukan Kyuhyun!” serunya keras, penuh emosi. Bagaimana bisa anak buahnya tak bisa menemukan Kyuhyun yang hanya seorang bocah berusia 15 tahun?!

            Mendengar kalimat tajam dari atasannya, membuat kedua pria itu menundukkan kepalanya, kemudian membungkukkan badannya dalam-dalam. “Algaeseumnida, sajangnim…” setelahnya bergegas untuk keluar dari ruangan elit itu.

            Cho Jisoo menatap pintu ruangannya yang baru saja tertutup, meninggalkan dirinya kemabali sendirian di ruangan yang luas itu. Tubuhnya kembali ia sandarkan pada kursi kebanggaannya. Memejamkan matanya erat, mencoba meredam perasaan aneh yang seringkali muncul dalam hatinya tiap kali ia melakukan sesuatu yang berhubungan dengan putra bungsunya, Kyuhyun.

            Selama ini, ia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya. Untuk masa depan keluarganya. Dan hanya Kyuhyun-lah satu-satunya harapan bagi keluarganya, mengingat kondisi putra sulungnya yang tidak memungkinkan untuk menanggung beban yang kini ia limpahkan pada Kyuhyun. Apa ia terlalu egois? Tidak. Dirinya selalu berusaha meyakinkan bahwa selama ini ia telah melakukan sesuatu yang benar. Sesuatu yang memang seharusnya ia lakukan, meski harus bersikap keras terhadap Kyuhyun. Ini semua demi kebaikan keluarganya. Ya, kebaikan keluarganya. Apakah kau benar-benar yakin, Tuan Cho?

-o0o-

            Hwang TaeJoon, atau lebih sering disapa Hwang ahjussi menatap Kyuhyun yang kini tengah tertidur di pangkuannya dengan penuh kasih sayang. Jemarinya yang telah dipenuhi guratan usia, masih persisten membelai lembut surai cokelat gelap milik Kyuhyun yang begitu terasa lembut di sela-sela jemarinya. Tanpa sadar, buliran kristal bening itu meluncur dengan bebasnya dari kedua sudut matanya. Pikirannya dipenuhi dengan betapa mirisnya kehidupan seorang Cho Kyuhyun di hadapannya. Di usianya yang masih belia, Kyhuyun dipaksa menghadapi kehidupan yang keras, kehidupan yangs sempurna di mata dunia namun tidak di matanya. Raut lelah tersurat begitu jelas di wajah Kyuhyun yang putih pucat. Diusapnya pipi tirus Kyuhyun dengan lembut, tersenyum tipis saat anak itu menggeliat kecil akibat terusik dengan tindakannya.

            Saat ini, mereka tengah berada di sebuah rumah sederhana miliknya yang terletak di pinggiran Seoul. Ia memutuskan untuk membawa Kyuhyun ke tempat ini, setelah mendengar rengekan Kyuhyun yang begitu menyayat hatinya. Dengan keteguhan hatinya, ia telah memutuskan tindakan mana yang akan ia pilih. Sebuah tindakan yang cukup berani mengingat posisinya di keluarga Cho yang hanya merupakan seorang butler. Ia tahu betul, resiko yang mungkin akan ia hadapi jika Tuan Cho mengetahui semua ini. Namun, ia pun tak bisa membiarkan Kyuhyun merasakan sakit lebih lama jika ia terus bertahan di rumah itu. Ia hanya ingin, Kyuhyun bisa merasakan kehidupan normal layaknya anak seusianya, meski ia sangatlah tahu, itu bukanlah hal yang bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan.

            “Semoga aku telah mengambil keputusan yang benar..”

-o0o-

            Cho Kyuhyun mengernyitkan alisnya kala mendapati sinar hangat dari sang mentari menyelimuti wajahnya. Perlahan, kedua iris mata cokelat madu yang bersembunyi di balik kelopak mata itu memunculkan binarnya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya. Ia mendudukkan dirinya dan mengusap matanya, menghalau rasa kantuk yang belum ingin beranjak dari tubuhnya. Kali ini, ia merasa berbeda. Ia merasakan perasaan nyaman yang begitu dalam mendekap tubuhnya. Seolah seseorang mendekap dirinya sepanjang malam dalam tidurnya. Tak seperti selama ini, dirinya yang tidur dalam kesendirian dan kegelapan yang terus menghantuinya.

            Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempatnya berada saat ini, sesaat kemudian ia menyadari ini bukanlah kamar miliknya. Kamar ini jauh lebih kecil dibanding miliknya di rumah megah keluarga Cho, namun suasana kehangatan yang melingkupi kamar ini jauh lebih terasa dibanding kamar mewah miliknya yang begitu dingin. Ah, ia ingat sekarang. Semalam, saat ia mencoba –untuk ke sekian kalinya pergi dari rumah bak neraka itu, ia bertemu dengan Hwang ahjussi dan memutuskan untuk pergi bersamanya. Hwang ahjussi memberi sebuah janji padanya. Janji untuk tidak membawanya kembali ke ‘neraka’nya, janji untuk membuatnya merasakan kehidupan normal yang selama ini ia dambakan. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya tertarik ke belakang, membentuk garis senyuman tipis yang begitu tulus.

            CKLEK.

            Atensinya kini tertuju pada pria paruh baya yang baru saja membuka pintu kamar tempatnya saat ini. Kyuhyun kembali mengulas senyumannya, senyuman tulus yang selama ini jarang sekali ia tunjukkan pada keluarganya.

            “Selamat pagi, tuan muda.. Anda sudah bangun ternyata..” ujarnya lembut sembari melangkahkan kakinya mendekati Kyuhyun dan duduk di atas tempat tidur. Tangan kanannya terulur, mencapai puncak kepala Kyuhyun dan mengusap surai cokelat gelap itu dengan sayang. “Bagaimana, tidurmu nyenyak?”

            Kyuhyun hanya sanggup membalasnya dengan anggukkan. Tak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya dari wajah penuh guratan waktu yang tampak teduh di matanya, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki Hwang ahjussi di sisinya.

            “Cha.. mandilah. Ahjussi sudah menyiapkan fried rice dan telur mata sapi kesukaanmu.” Lihatlah, bahkan orang ini tahu betul apa makanan kesukaannya. Salah satu hal yang tak pernah ia dapatkan saat berada di rumah mewah yang baginya tak berbeda dengan neraka itu.

            “Ne, ahjussi.. jeongmal gomawo..” mata itu tampak mulai memancarkan binarnya. Kyuhyun memeluk Hwang ahjussi sejenak sebelum bergegas menuju kamar mandi, meninggalkan pengasuhnya yang tengah menatapnya dengan penuh arti.

            “Benar. Teruslah tersenyum seperti itu, tuan muda..”

-o0o-

            Donghae kembali menghela nafasnya dengan gelisah. Kabar mengenai hilangnya adik satu-satunya membuat pikirannya dirundung rasa khawatir. Donghae bukannya tidak tahu akan situasi yang terjadi dalam keluarganya. Ia tahu, sangat tahu. Bahwa adiknya selama ini harus menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai putra sulung keluarga Cho. Terkadang ia merutuki tubuhnya yang harus menderita penyakit jantung bawaan sejak ia lahir. Seandainya penyakit sialan itu tak berada di tubuhya, pasti ia bisa menjadi sosok kakak yang bisa melindungi adiknya. Seandainya ia tak selemah ini, Kyuhyun tak akan sering menerima hukuman yang disebabkan oleh dirinya. Ingin sekali ia membenci dirinya sendiri karena keadaan yang menimpanya. Namun, jika ia melakukan itu, bukankah sama saja ia membenci Tuhan? Tuhanlah yang memberikan jalan hidup padanya, jalan hidup yang harus ia tempuh dengan usahanya. Ia pun yakin, bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

            Ia mengalihkan atensinya pada wanita yang sedari tadi duduk di sofa berwarna putih gading dengan smartphone di tangannya.

            “Eomma..”

            Mendengar suara putra sulungnya, wanita itu segera mendekatan diri padanya. “Ne, chagi.. Gwenchana? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?”

            Donghae menggelengkan kepalanya, menatap ibunya dengan tatapan serius yang terlukis di wajah tampannya. “Bagaimana kabar mengenai adikku, eomma? Apa mereka sudah menemukannya?”

            Tatapan lembut milik Nyonya Cho seketika berubah, tergantikan oleh tatapan kaku yang terbias di wajahnya. “Tak usah memikirkan hal-hal yang terlalu berat, Hae-ya. Fokuslah pada keadaan tubuhmu untuk segera pulih.” Ujarnya lembut. Namun Donghae tahu, ibunya itu tengah mengalihkan pembicaraan. Mengapa mereka selalu enggan jika mendengar nama Kyuhyun disebutkan? Donghae tak habis pikir, mengapa adiknya selalu mendapat perlakuan tak adil dari orang tua mereka? Suatu hal yang membuat Donghae semakin ingin membenci dirinya sendiri yang begitu lemah.

            “Tapi, eomma.. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya? Ini sudah lebih dari 3 hari dan Kyuhyun belum juga ditemukan. Bagaimana ia menghadapi hidup sendirian di luar sana?” Donghae kembali menyuarakan isi hatinya. Membuat iris mata ibunya kembali menggelap.

            “Sendirian? Haha.. Eomma tak tahu apakah ini sudah direncanakan sejak lama ataukah hanya kebetulan semata. Tepat di hari Kyuhyun pergi dari rumah, Hwang Taejoon juga ikut menghilang.” Suara Nyonya Cho terdengar sarkatis.

            Donghae membulatkan matanya mendengar kenyaataan yang baru ia ketahui dari mulut ibunya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa mungkin.. tidak. Tiba-tiba Donghae merasakan takut yang mulai menyelusup dalam hatinya. Bagaimana jika adiknya itu tak akan pernah kembali lagi? Bagaimana jika memang benar, adiknya dan Hwang ahjussi telah merencanakan semua ini? Mengingat betapa dekat hubungan Kyuhyun dengan pengasuhnya sedari kecil itu, melebihi kedekatan hubungannya dengan kedua orang tuanya serta dirinya.

            “Eottokhae, eomma? Bagaimana jika Kyuhyun tak kembali lagi?” Donghae bertanya dengan mata yang berkaca-kaca. Katakanlah ia lelaki yang lemah, ia tak peduli. Hanya Kyuhyun yang bisa membuatnya merasakan kekhawatiran yang begitu dalam.

            “Sudah eomma katakan, tak usah memikirkan hal-hal yang terlalu berat, Hae-ya. Pikirkan saja kesehatan tubuhmu.” Jawab Nyonya Cho dengan nada datar dan beranjak keluar dari ruangan serba putih itu. Meninggalkan Donghae di salah satu kamar rawat Seoul Hospital dengan buliran kristal bening yang mulai menganak sungai di kedua pipinya.

            “Kyuhyun-ah, dimana kau sekarang? Kembalilah, nae dongsaeng..

-o0o-

            PLAK! PLAK!

            Tamparan keras yang sarat akan emosi itu melayang begitu kuat pada kedua pria berpakaian formal yang kini tak sanggup untuk mengangkat wajahnya dihadapan tuannya.

            “Kalian kubayar mahal bukan untuk melaporkan kegagalan kalian! Aku hanya ingin anak itu kembali secepatnya! Bukankah sudah kukatakan jangan pernah menampakkan wajah kalian dihadapanku kecuali jika kalian membawa Kyuhyun ke hadapanku! Mengerti?!!” gurat-gurat kemarahan tergambar jelas pada wajah Cho Jisoo. Emosinya kembali naik saat menghadapi kenyataan bahwa setelah se-pekan lamanya, tak ada seorangpun dari sekian banyak anak buahnya yang membawa kabar baik ke hadapannya.

            “Kami mengerti, sajangnim..

-o0o-

            Seorang pria berpakaian formal terlihat tengah mendudukkan dirinya di salah satu bangku berwarna putih yang berada di Jasmine Park, sebuah taman kota yang terletak di pinggiran kota Seoul. Kedua tangannya menggenggam sebuah koran, melakukan kamuflase di balik koran untuk menyembunyikan wajahnya. Pandangannya terfokus pada sosok remaja berkulit putih pucat dan seorang pria paruh baya yang tengah menemaninya makan siang di atas hamparan hijaunya rumput taman kota. Di taman ini memang terlihat beberapa keluarga yang tampak tengah menikmati waktu bersama dengan piknik keluarga di taman kota, mengingat ini adalah akhir pekan.

            Pria yang bersembunyi di balik koran itu tanpa sadar ikut menyunggingkan senyum di bibirnya saat indera penglihatannya menangkap panorama indah di hadapannya. Remaja itu –Kyuhyun tengah mengguratkan senyumannya setelah menerima suapan jjangmyeon dari pria paruh baya di depannya, Hwang Taejoon. Ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi rekannya yang memiliki tugas yang sama dengannya, membawa Kyuhyun kembali ke hadapan Tuan Cho. Namun melihat betapa sosok tuan mudanya itu tersenyum begitu tulus, membuatnya diambang keraguan. Haruskah ia memberitahu kebenaran yang ia dapat saat ini? Ataukah menyembunyikan kenyataan itu dan membiarkan tuan mudanya untuk menikmati hidupnya yang tenang bersama Hwang Taejoon disampingnya? Pria itu mengeratkan genggamannya pada koran yang menutupi wajahnya, berpikir keras untuk memutuskan tindakan mana yang akan ia pilih.

            “Ahjussi..” pria itu membawa kembali perhatiannya pada Kyuhyun dan Hwang Taejoon, menyimak percakapan yang dilakukan keduanya.

            “Nde, Kyuhyun-ah..” ia terkejut saat mendengar kepala pelayan keluarga Cho itu memanggil tuan mudanya dengan namanya, seolah memanggil putranya sendiri. Seberapa dekat hubungan mereka sebenarnya? Pikirnya dalam hati.

            “Ap-apakah semua kebahagiaan ini hanya datang sejenak dalam hidupku?” tanya Kyuhyun, terbias rasa takut di matanya.

            “Wae, Kyuhyun-ah? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

            “Aniya. Hanya saja, aku takut jika rasa bahagia ini hanya sementara. Seolah Tuhan membiarkanku untuk merasakan rasa bahagia ini untuk sejenak, sebelum masa kegelapan yang panjang menungguku di depan mata.” Suara Kyuhyun kini terdengar lirih. Pandangan matanya terlihat kosong, menerawang sesuatu yang abstrak dalam pikirannya.

            Hwang Taejoon sedikit tersentak kala deretan frase itu keluar begitu saja dari mulut Kyuhyun, hatinya seolah tersayat mendengar kalimat itu diucapkan oleh bocah berusia 15 tahun dihadapannya.

            Kyuhyun menolehkan kepalanya menghadap Hwang ahjussi saat telinganya belum menangkap satu kata pun yang keluar dari mulut pengasuhnya, menatap tepat di matanya. Taejoon yang mendapat tatapan seperti itu tergagap, batinnya berkecamuk memilih jawaban apa yang harus ia berikan pada Kyuhyun. Tangannya terulur, membelai surai Kyuhyun lembut seraya mengguratkan senyuman teduh miliknya.

            “Mengapa kau selalu berpikir sesuatu yang begitu berat, hmm?” Hwang ahjussi menundukkan kepalanya, mensejajarkan pandangannya pada Kyuhyun. “Dan, tak baik untuk berburuk sangka pada Tuhan, Kyuhyunie..” lanjutnya sembari menyentil dahi Kyuhyun ringan. Kyuhyun sedikit merengut dengan disertai ringisan kecil akibat perbuatannya. Dan ia pun terkekeh senang setelahnya. Begitu menikmati ekspresi Kyuhyun yang jarang sekali ditunjukkan padanya.

            Pria yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya, memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun mengenai apa yang ia temukan hari ini. Biarlah ia menyimpan informasi ini seorang diri, bahkan ia bertekad untuk menyembunyikannya sebisa mungkin. Terutama dari rekan-rekannya yang mengemban tugas yang sama dengannya. Meski ia tahu, konsekuensi yang mungkin akan ia terima jika perbuatannya ini sampai terbongkar. Tuan Cho bukanlah orang sembarangan, ia akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya, pun untuk memberi pelajaran bagi mereka yang ‘mengkhianatinya’. Dan ia siap untuk menghadapi semua itu.

            “Teruslah hidup seperti itu, Tuan Muda..”

 

Flashback off

-o0o-

            Cho Donghae masih berdiri disana. Diantara lalu-lalang mahasiswa yang tengah memasuki gerbang. Netranya masih memperhatikan mobil yang ditumpangi oleh adiknya, mobil yang membawa adiknya menuju perusahaan milik ayahnya guna menghadiri rapat besar perusahaan untuk yang pertama kalinya. Kembali ia merasakan denyutan sakit itu. Mengetahui betapa dirinya tak berguna untuk adiknya. Selama ini, ia bersembunyi di balik sikap cerianya. Donghae tak tahu bagaimana harus bersikap pada Kyuhyun, mengingat anak itu sangatah introvert, seolah membangun tembok yang begitu tinggi dengan lapisan es di bagian luarnya. Ia selalu memikirkan bagaimana caranya untuk mencairkan es itu, lalu meruntuhkan tembok tinggi yang menjulang di sekeliling adiknya. Namun hingga saat ini, hal tersebut tetaplah dalam angan-angannya.

            Setelah mobil yang membawa adiknya tak lagi terjangaku indera penglihatannya, Donghae mulai membalikkan tubuhnya, melangkah pelan menuju kelas paginya.

            “Donghae hyung!

            Langkahnya terhenti saat seseorang meneriakkan namanya. Sebuah suara dari seseoranng yang sangat ia kenal, seseorang yang merupakan sahabat dekat adiknya. Sosok itu kini mensejajarkan langkah dengannya.

            “Kyuhyun tak bersamamu, hyung?”

            Donghae melirik sekilas ke arah lelaki bertubuh jangkung itu. “Hari ini adalah rapat perdananya di perusahaan appa. Jadi ia izin kuiah untuk hari ini, Changmin.”

            “Oh, arasseo. Uri sajangnim memang hebat. Hehe.” Raut muka Donghae menjadi keruh mendengar candaan yang dilontarkan sahabat adiknya itu. Bahkan kini langkahnya terhenti. Ditatapnya wajah Changmin yang lebih tinggi darinya.

            “Changmin-ah..”

            “Ne, Hae hyung?” jawab Changmin yang kini ikut menghentikan langkahnya dan menatap Donghae, tepat di matanya.

            “Bisakah aku mempercayaimu?”

            “Mwo?!

-o0o-

            Kyuhyun kini duduk dengan tenang di samping ayahnya, di kursi khusus yang disediakan untuk pemimpin rapat. Di depannya, terbentang meja panjang yang di sampingnya berjejer kursi-kursi untuk peserta rapat yang merupakan petinggi-petinggi perusahaan yang siap untuk menginvestasikan sahamnya untuk Cho Corporation. Hampir seluruh pasang mata yang ada di ruangan itu kini tertuju pada Kyuhyun, sosok yang pertama kali muncul di hadapan mereka. Sosok yang masih sangat muda, namun terlihat tampan dan memiliki intelektual tinggi. Sementara Kyuhyun hanya memberikan senyuman tipisnya menanggapi sapaan demi sapaan yang ditunjukkan padanya. Kyuhyun melakukan itu sebagai sebuah keharusan, tak ada sedikitpun keinginan yang tumbuh dari hatinya.

            “Berapa usiamu, Kyuhyun-ssi? Kau terlihat masih sangat muda.” Tanya Tuan Kim, salah seorang petinggi yang hadir di rapat ini.

            “Semester depan, saya menginjak 17 tahun.” Jawab Kyuhyun dengan sopan.

            “Wah, lihatlah. Hari ini kita harus mengadakan rapat dibawah intruksi anak 16 tahun?!” Tuan Kim melemparkan tatapan mengejek pada Cho Jisoo, sementara yang lain terkekeh mendengar kalimat sarkatis tersebut.

            Wajah Cho Jisoo mengeras, emosi mulai menjalar di saraf otaknya. Tangannya yang berada di bawah meja mengpal erat, namun wajahnya menampakkan senyuman. Mencoba mengendalikan emosinya di balik senyuman bisnis miliknya. Bukan hal sulit memang, mengingat selama ini ia telah menghadapi begitu banyak orang-orang yang ingin mencoba menjatuhkannya di depan orang banyak. Dan tentu saja ini bukan pertama kalinya.

            Sementara Kyuhyun, ia kini memandang Tuan Kim dengan intens, seraya mengulas seringai tipis yang begitu terlihat mengerikan di mata Tuan Kim. Hell no! Bagaimana tatapan anak kecil ini berhasil membuatku goyah? Keluhnya kesal. Dalam hati, tentunya.

            “Anda benar, Tuan Kim. Lalu, apa yang anda permasalahkan? Anak 16 tahun ini bisa saja menguras samudra hanya dalam satu kedipan mata.” Jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Kyuhyun. Wajahnya yang tampak begitu tenang mampu membuat semua yang hadir disana tertegun, tak terkecuali ayah kandungnya sendiri -Cho Jisoo. Ayahnya kini memandang Kyuhyun yang tampak begitu berwibawa meski usianya masihlah belia.

            “Namun meski anda semua berada dibawah intruksi saya, jangan segan-segan untuk menegur jika sewaktu-waktu saya melakukan kesalahan.” Lanjut Kyuhyun seraya sedikit menundukkan kepalanya, membuahkan tatapan kagum dari pada petingggi perusahaan. Tak hanya berwibawa, namun anak tampan di depan mereka ini juga memiliki etika yang begitu baik. Cho Jisoo menatap Kyuhyun dengan tatapan bangga, sementara Tuan Kim melemparkan tatapan tajam pada Kyuhyun, menahan emosi yang mulai memuncak. Merasa marah dan malu di saat yang bersamaan. Bagaimana mungkin anak kecil ini menjatuhkan harga dirinya begitu saja di depan orang banyak?

            “Baiklah, mari mulai rapat kita hari ini. Kyuhyun-ah, appa serahkan agenda ini padamu.”

-o0o-

            Changmin menatap sahabatnya yang tengah menyesap chocolate souffle-nya dengan perlahan. Raut wajahnya tetap datar, seperti biasanya. Sementara dirinya duduk tenang di depannya, memperhatikan aktivitas Kyuhyun yang tengah menikmati hidangannya. Saat ini mereka tengah berada di Latte Cafe, ia meminta Kyuhyun untuk bertemu dengannya setelah rapat yang dipimpin oleh sahabatnya itu usai. Pikirannya kembali melayang pada perkataan Donghae pagi tadi. Perkataan yang terus terngiang di kepalanya, perkataan yang membuatnya semakin yakin akan keputusannya.

-o0o-

Flashback On

            “Bisakah aku mempercayaimu?”

            “Mwo?!” Changmin mengernyitkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Donghae yang terdengar aneh di telinganya.

            “Bisakah aku mempercayaimu, untuk menjaga Kyuhyun?” Donghae melayangkan tatapan penuh harap pada Changmin, membuat Changmin tertegun untuk beberapa saat.

            “Hanya kau yang bisa menjadi harapanku, Changmin-ah.” Changmin masih terdiam, membiarkan Donghae untuk menyelesaikan kalimatnya. “Aku perhatikan, hanya kau satu-satunya teman yang Kyuhyun miliki. Meski kenyataan ini membuat hatiku sakit, tapi aku mencoba berpikir positif. Setidaknya masih ada yang bersedia untuk menjadi teman Kyuhyunie, mau memahami dan bersabar dengan segala tingkahnya.” Donghae tersenyum tulus pada Changmin yang kini terlihat menundukkan wajahnya, ia sedikit tersipu akan pujian yang Donghae berikan padanya.

            “Dan juga, kau tahu dengan pasti bukan, apa yang terjadi di keluarga kami. Bagaimana Kyuhyun bisa berubah menjadi sosok yang begitu dingin, tertutup dan seolah tak memiliki jiwa dalam tubuhnya.” Changmin menganggukkan kepalanya singkat.

            “Jadi, Changmin-ah.. Bolehkan aku menaruh harapan besar padamu? Teruslah menjadi seseorang yang ada di samping Kyuhyun. Menemaninya, memahami dan terus mendukungnya. Aku yakin suatu saat nanti, ia bisa membuka dirinya dan menikmati hidup normal layaknya anak seusianya.” Iris mata Donghae bergetar, menahan buliran air mata yang berdesakan di pelupuk matanya.

            “Aku tahu ini sangatlah berat untukmu, Changmin-ah. Tetapi, aku yakin kau sanggup melakukannya. Bisakah aku mempercayaimu, Changmin-ah?” Kembali. Donghae melempar pertanyaan awalnya pada Changmin, menatap pemuda itu dengan harapan besar yang tersirat.

            “Arasseo, Hae hyung. Tanpa kau meminta pun, aku akan melakukannya. Aku telah bersama Kyuhyun sejak kecil, aku memahami bagaimanan hidupnya selama ini. Aku pun telah bertekad, hyung. Ingin rasanya membawa Kyuhyun kembali meraih cahayanya. Sudah cukup aku melihatnya selalu terjebak dalam kegelapan yang senantiasa melingkupi hidupnya.” Ucap Changmin dengan wajah penuh tekad, membuahkan senyuman tulus itu tergurat dari bibir tipis seorang Cho Donghae.

            “Gomawo, Changmin-ah. Gomawo..

Flashback Off

-o0o-

            Kyuhyun mengernyitan dahinya, tak mengerti akan tingkah Changmin yang sedari tadi terus menatapnya tanpa bicara sepatah kata pun. Berulangkali ia mencoba memanggil namanya, namun sahabatnya itu sama sekali tak memberinya respon, bahkan seolah tak mendengar suaranya. Menghela nafas pasrah, Kyuhyun akhirnya membiarkan Changmin larut dalam dunianya. Mungkin ia sedang banyak pikiran, pikir Kyuhyunn dalam hati. Saat ini mereka saling menatap, membuahkan bisik-bisik dari para pengunjung cafe yang menatap mereka dengan pandangan aneh. Karena tak tahan dengan situasi yang menderanya, Kyuhyun akhirnya mengulurkan tangannya untuk ke arah dahi Changmin, menyentilnya dengan keras.

            “Aww!!” Changmin memekik keras, tangannya mengusap-usap dahinya dengan intens. “Yak! Apa yang baru saja kau lakukan, Kyuhyun-ah? Bagaimana bisa kau tega melakukan penganiayaan terhadap sahabatmu sendiri?!” Changmin masih tak terima dengan perbuatan Kyuhyun. Meski jemari Kyuhyun itu kurus, namun jangan pernah remehkan kekuatan yang tersembunyi di dalamnya. Kyuhyun hanya menanggapinya dengan tatapan datar andalannya. Changmin memang terkadang terlalu mendramatisir suasana.

            “Salahmu. Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tetap menunjukkan wajah bodohmu di depanku.” Tukas Kyuhyun datar, tanpa rasa bersalah sedikitpun.

            Changmin melebarkan matanya mendengar deretan frase yang terdengar datar namun menyakitkan itu. “Tuhan, miris sekali hidupku. Mengapa aku memiliki sahabat kejam sepertinya? Bahkan setelah ia menyiksaku, ia mengataiku bodoh. Tapi sayangnya, aku tak bisa membencinya. Eottokhae? Apa yang harus kulakukan, Tuhan?” Changmin memasang wajah miris yang begitu menyedihkan, seolah benar-benar meratapi nasibnya yang begitu buruk. Sementara Kyuhyun masih menatap Changmin datar, sama sekali tak tersentuh akan panorama ‘menyedihkan’ yang tersaji di hadapannya. Namun diam-diam, dalam hati ia tertawa melihatnya.

            Memiliki sahabat seperti Changmin sungguh membuat hatinya terasa ringan. Beban yang selama ini terpikul di bahunya tersingkir untuk sejenak. Sahabatnya itu benar-benar memahami keadaannya. Kepalanya begitu penat dan terasa pusing usai memimpin rapat perdananya tadi pagi di perusahaan ayahnya. Terutama hatinya. Hatinya begitu lelah, lantaran terus-menerus melakukan sesuatu yang sama sekali bukan berasal dari keinginannya. Dan kehadiran Changmin disisinya mampu membuatnya seidikit melupakan hidupnya yang begitu ‘sempurna’ untuk sejenak. Hanya Changmin, sosok yang bisa menghiburnya kala ia begitu jengah dengan kehidupannya.

            Changmin kini mengerucutkan bibirnya lantaran kesal, dan yakinlah bahwa ia telah memilih tindakan yang bodoh karena seorang Sim Changmin sama sekali tak cocok untuk memasang wajah aegyo. Yang terjadi justru wajahnya semakin terlihat bodoh. Kyuhyun tanpa sadar mengulas senyuman tipis di bibirnya.

            “Aku rela melakukan hal bodoh di depanmu, demi melihatmu bisa tersenyum kembali, Kyuhyun-ah..”

 

-o0o-

            Berteman sinar rembulan, Kyuhyun kini terduduk di sebuah kursi kayu yang terdapat di balkon kamarnya. Dinginnya angin malam yang berhembus tak membuatnya beranjak darisana. Kelopak matanya tertutup, menikmati sapaan alam yang selalu bisa membuatnya merasakan ketentraman dan kedamaian. Karena alam tak akan pernah berbohong, tak seperti manusia yang penuh dengan kepura-puraan. Termasuk dirinya.

            Ia hidup dalam kepura-puran, menjalani hidup sebagai Cho Kyuhyun yang sempurna. Ingin rasanya ia melarikan diri dari semua ini, pergi sejauh mungkin dari nerakanya. Namun, semenjak peristiwa yang membuatnya harus berpikir ulang seribu kali untuk melarikan diri dari rumah megah milik keluarga Cho, Kyuhyun memilih untuk tetap berada dalam ‘neraka’nya. Ia tak ingin peristiwa itu terulang lagi. Ia tak ingin orang-orang yang menyayanginya ikut menderita karenanya. Ia tak ingin mengingat lagi peristiwa itu, namun alam bawah sadarnya seolah selalu menarik memori itu ke permukaaan. Membuatnya tekurung dalam tekanan yang seolah tak ingin membiarkannya merasakan kebebasan.

-o0o-

Flashback On

            Hari-hari Kyuhyun lewati dengan bahagia bersama Hwang ahjussi-nya. Menikmati kebersamaan layaknya sepasang ayah dan anak yang begitu bahagia. Meski tak dipungkiri, ia begitu merindukan Donghae. Bagaimana keadaan kakaknya saat ini? Hal terakhir yang ia tahu, kondisi kakaknya yang kolaps akibat perbuatan cerobohnya yang tak sengaja mendorongnya  di hari kelulusannya. Dan ia berharap keadaan Donghae baik-baik saja.

            “Cha… jjangmyeon ala Hwang Taejoon telah siap saji..!” ucapan riang itu menarik Kyuhyun dari dunianya. Ia menatap jjangmyeon yang masih mengepulkan asapnya, membawa aroma menggoda yang membuat perutnya bergejolak.

            “Ahjussi.. Kau memang yang terbaik!” ucap Kyuhyun dengan senyumannya, senyuman yang akhir-akhir ini sering tersemat di bibirnya.

            “Haha.. Kau baru menyadarinya, eoh?” goda Hwang ahjussi. Ia memang senang menggoda Kyuhyun, karena anak itu akan memberikan berbagai ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan selama ini.

            “Ck. Kau ini terlalu percaya di-“

            BRAKK!!

            Ucapan Kyuhyun harus terhenti saat suara pintu yang dibuka secara paksa terdengar begitu nyaring. Hwang ahjussi memandang Kyuhyun sejenak, memberi isyarat untuk tetap tenang. Kyuhyun hanya bisa menganggukkan kepalanya meski berbagai probabilitas buruk mulai mengerubungi otaknya. Firasat buruk yang selama ini ia rasakan semakin menjadi saat ini.

            Drap! Drap! Drap!

            Suara langkah beberapa orang yang tengah memasuki rumah Hwang Taejoon semakin membuat Kyuhyun merasakan ketakutan yang begitu besar tengah menghampirinya. Sebelah tangannya berada dalam genggaman tangan hangat milik ahjussi­-nya yang tengah mencoba memberi rasa tenang padanya. Suara langkah itu semakin mendekat, menghasilkan detakan jantung Kyuhyun yang kian terasa cepat. Hingga muncullah beberapa orang berpakaian formal yang ia yakini adalah para bodyguard yang menjadi suruhan ayahnya.

            “Ternyata benar. Orang ini yang menyembunyikan tuan muda Kyuhyun selama ini.” salah satu dari mereka merangsek maju. Hwang ahjussi membawa Kyuhyun untuk berlindung di balik punggungnya.

            “Sebaiknya cepat kau serahkan tuan muda pada kami. Atau kau akan menerima akibatnya, Tuan Hwang!”

            Hwang Taejoon tak memberikan balasan verbal apapun, dirinya hanya menatap tajam para bodyguard Tuan Cho itu. Ia bisa merasakan tubuh Kyuhyun yang bergetar di balik punggungnya.

            “Tidak akan kubiarkan kalian membawa Kyuhyun kembali ke rumah itu!” seru Hwang Taejoon dengan tegas, ia tengah mencoba untuk melindungi Kyuhyunnya.

            BRAK!

            Suara pintu yang terbuka keras kembali terdengar, mengalihkan atensi semua orang yang tengah berada dalam situasi yang mencengangkan tersebut.

            Brukk!

            Tubuh seorang pria yang memiliki pakaian yang sama seperti para bodyguard di sekelilingnya itu terlihat bersimbah darah. Wajahnya dipenuhi luka memar dan darah segar yang masih menetes dari pelipisnya. Ia tersungkur di lantai dingin itu begitu saja, setelah seseorang melemparnya layaknya karung goni yang tak berharga. Kyuhyun membelalakkan matanya antara tak percaya dan juga takut, sementara Hwang Taejoon semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Kyuhyun.

            Tap. Tap. Tap.

            Derap langkah itu terdengar begitu nyaring diantara suasana lengang yang terjadi. Sosok Cho Jisoo muncul dengan segala keangkuhannya. Menyibak kumpulan para bodyguardnya yang memberinya akses untuk mendekat pada putranya.

            Bug!

            “Appa!”

            Tanpa disangka, Cho Jisoo menginjak dada pria yang masih tersungkur di atas lantai itu dengan begitu keras, menghasilkan pekikan kesakitan yang begitu memilukan. Darah segar mengalir dari mulutnya, turun hingga dagunya. Matanya menatap sayu ke arah Kyuhyun, seolah ingin menyampaikan pesan padanya.

            “Mi-mianhamnida… Tuan Muda..” ujarnya dengan nada yang begitu lemah. Menatap Kyuhyun dengan mata yang menyiratkan penyesalan yang begitu dalam. Kyuhyun yang melihatnya mencoba maju, berusaha menghalangi ayahnya. Namun, ayahnya kembali menginjak dada pria itu, hingga terdengar nafas pria malang itu yang terputus-putus.

Appa! Hentikan!” kedua mata Kyuhyun memerah, menahan gejolak emosi yang menyeruak di dadanya. Andai ia bisa mengeluarkan air mata, yakni kini ia tengah menangis dengan begitu derasnya.

“Inilah balasan yang setimpal bagi seorang pengkhianat!” ujar Cho Jisoo dengan memberi penekanan di akhir kalimaatnya. “Orang ini berusaha menyembunyikan keberadaanmu dengan Hwang Taejoon. Sayangnya ia terlalu bodoh untuk berhadapan dengan seorang Cho Jisoo. Haha.”

“Jadi, Kyuhyun-ah.. apakah kau masih memilih untuk tinggal disini, hmm?” Kyuhyun hendak menghampiri ayahnya, sebelum Hwang ahjussi menghentikan langkahnya dan memposisikan diri berada di depannya.

“Untuk apa Kyuhyun kembali ke rumah mewah itu jika hal tersebut justru menyiksanya, Tuan Cho?!” naluri untuk melindungi Kyuhyun membuat Hwang Taejoon memiliki keberanian untuk berhadapan dengan Cho Jisoo.

            “Disini, ia mendapatkan hal yang tidak bisa ia dapatkan saat berada di rumah mewah itu. Anda tahu apa itu, Tuan Cho?!” suara Hwang Taejoon menjadi satu-satunya yang mengisi suasana yang yang mendadak hening itu. Cho Jisoo masih melemparkan tatapan tajamnya pada pria yang berusia  jauh di atasnya.

            “Kasih sayang. Itulah hal yang tidak bisa ia dapatkan darimu. Kau hanya menjadikannya sebagai pion yang bisa kau atur sedemikian rupa untuk memenuhi segala keinginanmu. Kau hanya menganggapnya sebagai bidak yang bisa melakukan segala perintahmu. Kau hanya-“

DOR!

To Be Continued~

Advertisements

9 thoughts on “[Fanfiction] Facade Chapter 2”

  1. sumpah ni bpkya moga aja cpt dapat karma dan ngemis maaf di kaki kyu.hiks hiks mlng bngt nasib kamu kyu gk dpt kasih syng orang tua tp glran dpt ksh syng pengasuh y mlh d bunuh d dpn mata.ya ampun yk bisa bayangin.
    semngat thor gk sbt nugu klanjutanya

  2. Dor????, hwang ahjussi mati????, no please, nanti siapa yg jaga kyunnie????
    Fix sii keren, banget, hehe….. Next’y ditunggu lagi…. Tengkyu sistaaaa

  3. itu ayah kyuhyun ngebunuh hwang ahjussi?? kalau iya kejem banget ayahnya kyuhyun… udah g pernah ngerasa bersalah memperlakukan anaknya kya’ gitu, malah nyalahin orang lain pas anaknya hilang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s