[Fanfiction] Facade : Chapter 3

facade

Asap tipis menyeruak dari sebuah moncong revolver hitam setelah berhasil memuntahkan satu dari amunisinya. Meluncurkan timah panas yang mengarah pada seseorang dalam ruangan mencekam tersebut. Suasana yang sebelumnya mencengangkan, kini bertambah panas dengan tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba dari seseorang yang masih berdiri dengan segala keangkuhannya.

Cho Jisoo masih berdiri disana. Satu sudut bibirnya tertarik, mengukir seringai penuh kemenangan setelah melihat tubuh Hwang Taejoon ambruk di depannya. Memperlihatkan tubuh gemetar Kyuhyun yang sedari tadi berdiri di balik punggung pengasuhnya. Iris mata Kyuhyun masih menatap tak percaya, antara terkejut dan takut teramat besar yang mulai menyergap tubuhnya. Tubuh itu meggigil dengan hebat.

            “Ah-Ahjussi…” suara Kyuhyun terdengar bergetar, tubuhnya bersimpuh di hadapan pengasuhnya yang tampak mengerang kesakitan. Hwang Taejoon memegangi dada kirinya yang berlumuran darah dan berlubang, menimbulkan rasa nyeri hebat yang panas dan begitu menyiksanya.

Hwang ahjussi.. kau mendengarku?” Kyuhyun masih bersimpuh, wajahnya pias lantaran masih terguncang dengan keadaan yang baru saja terjadi.

“Kyu- Kyuhyun-ah..” dengan terbata, Hwang Taejoon berusaha berbicara pada Tuan Mudanya itu. Tangan kanannya terulur pelan, mencoba meraih wajah Kyuhyun yang tepat berada di atasnya.

Kyuhyun yang tanggap segera menggenggam erat tangan pria tua itu, membawanya pada wajahnya. Ia menatap keadaan Hwang Taejoon dengan tatapan pilu. Pengasuhnya sedari kecil, kini tengah meregang nyawa tepat di depan matanya karena berusaha melindunginya. Diam-diam rasa bersalah itu mulai merayap dalam ceruk dadanya. Andai saja ia tak gegabah, andai saja ia tak berniat kabur dari tempat terkutuk itu, andai saja ia lebih bersabar.

            “Ma- maafkan ah- jussi, ne? Uhukk hukk!” luka dalam yang menghiasi dadanya membuat nafasnya tercekat. Kyuhyun hanya sanggup menggelengkan kepalanya. Air matanya seolah kering, sejak ia telah berjanji untuk tidak menangis lagi di hadapan Park Jungsoo dua tahun silam.

“Hi- duplah deng-an bahagia, Kyu~” Kyuhyun semakin mengeratkan genggamannya pada tangan yang mulai mendingin itu. Kali ini ia menganggukkan kepalanya, seraya berusaha menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis untuk menenangkan ahjussi­-nya.

Hwang ahjussi yang menangkap senyuman yang begitu samar tergurat di bibir Kyuhyun, ikut merasakan kedamaian yang datang di hatinya. Hatinya kini terasa ringan, menyingkirkan perasaan takut dan gelisah yang sedari tadi melanda hatinya. Di tengah rasa takutnya, ia begitu memikirkan bagaimana Kyuhyun akan melanjutkan hidup jika ia tiada di dunia? Dirinya merasa telah gagal dalam melindungi Kyuhyun. Namun setelah melihat senyuman tulus dari Kyuhyun, rasa takut itu sirna dengan perlahan. Entah mengapa, senyum Kyuhyun begitu menenangkan, menaburkan cahaya putih pada jalan yang akan ia tempuh di depan matanya. Sebuah jalan yang akan mengantarkannya ke dunia yang berbeda yang telah menantinya.

“Uhukk uhukkk! Huk!!” rasa nyeri itu kian terasa mencengkeram dadanya, Hwang Taejoon merasa inilah kesempatan terakhirnya untuk bisa bernafas. Di tengah rasa sakitnya, matanya tak pernah teralih dari wajah Kyuhyun yang masih menyunggingkan senyuman yang begitu mendamaikan hatinya. Kedua kelopak mata itu akhirnya menutup dengan perlahan, kala tubuh itu tak mampu lagi unutk menahan rasa sakit yang menghujam dadanya.

Kyuhyun menunduk, emosi dalam hatinya seolah terkumpul begitu besar melihat orang yang disayanginya meregang nyawa tepat di depan matanya. Tangannya masih menggengga erat jemari Hwang ahjussi-nya yang terkulai. Satu hal yang ia dapat hari ini. Orang di sekitarmya, terutama yang menyayangi dirinya akan meraskan penderitaan dan terluka akibat perbuatannya. Perbuatannya yang ingin melarikan diri dari kenyataan, kenyataan yang begitu membelenggu jiwa dan pikirannya. Kenyataan yang harus ia hadapi dalam rumah mewah yang sama sekali tak memberinya kehangatan.

Perlahan tubuh itu mulai bangkit, menatap tajam iris mata ayah kandungnya sendiri yang masih terbungkam menyaksikan panorama yang tersaji di hadapannya. Katakanlah Jioo tak punya nurani, melihat seseorang meregang nyawa serta putra bungsunya yang begitu terpukul tak membuat hatinya luluh. Justru perasaan puas yang kini mulai bersarang di hatinya.

“Bagaimana, Kyuhyun-ah? Apa kau telah berubah pikiran, hmm?” tanya Jisoo dengan nada yang begitu manis, layaknya seorang ayah yang tengah memberikan pilihan tempat berlibur untuk putranya. Namun kalimat bernada manis itu bagai angin panas yang memaksa untuk menerobos masuk di telinga Kyuhyun. Ia tak habis pikir, dan bahkan tak bisa membedakan perilaku ayahnya dengan para iblis neraka yang tak memilki hati nurani.

Kyuhyun masih bungkam. Hanya sepasang iris mata cokelat madunya yang bekerja, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh dengan amarah dan kecewa yang begitu mendalam. Ia mulai memerintahkan kakinya untuk berjalan mendekati Cho Jisoo yang berdiri dengan seringai yang semakin lebar. Langkah demi langkah terasa begitu berat, Kyuhyun mencoba untuk tidak meluapkan emosinya yang memuncak.

“Apa kau telah berubah pikira untuk kembali ke rumah, Kyu?” ujarnya saat Kyuhyun semakin mendekat ke arahnya. Cho Jisoo berpikir ia telah berhasil untuk menaklukan putra bungsunya. “Kemarilah Kyu, kita pulang bersama..” lanjutnya sembari merentangkan kedua tangannya, bermaksud menyambut Kyuhyun dengan pelukannya.

Kini Kyuhyun telah berdiri tepat di depan ayahnya, kepalanya mendongak untuk memandang wajah ayahnya. Namun tatapan itu masihlah sama, begitu tajam dan penuh dengan emosi.

BUGHH!

Dan tak ada yang menduga apa yang akan bocah 15 tahun itu lakukan selanjutnya. Semua terjadi begitu cepat, bahkan Cho Jisoo belum sempat menurunkan tangannya yang terentang lebar-lebar untuk bisa menangkis serangan tiba-tiba dari putra bungsunya. Tubuh tegapnya terhuyung ke belakang, tangan kirinya yang terbebas dari revolver memegangi hidungnya yang terasa nyeri dan kebas. Meski tangan kurus itu tak mampu membuatnya terluka parah, namun setidaknya itu mampu membuat padangannya gelap untuk sejenak dan kehilangan fokusnya. Sementara para bodyguard yang menyaksikan peristiwa tersebut hanya sanggup terdiam, tak ada sedikit pun yang terbesit dalam pikiran mereka –bahwa Kyuhyun akan melakukan tindakan yang sangat berani.

Cho Jisoo menggelengkan kepalanya berulangkali untuk kembali meraih fokusnya, indera penglihatannya menangkap sosok putra bungsunya yang masih persisten melempar tatapan tajam pada dirinya. Ia berdecih pelan, menyeka cairan kental berwarna merah yang sedikit keluar dari lubang hidungnya. Ia tak habis pikir, darimana Kyuhyun mendapatkan keberanian itu? Selama ini, bukankah putra bungsunya itu selalu menuruti perintahnya? Tak pernah membantah keinginannya? Dan apa yang baru saja terjadi adalah daftar terakhir dari sekian banyak kemungkinan yang ia prediksikan. Cho Jisoo hanya belum menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang paling sulit untuk dipahami dan ditebak.

“Apakah kau sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan, Kyuhyun-ah?!!” desis Jisoo dengan tajam.

“Apakah aku terlihat seperti orang mabuk, abeoji?” pertanyaan sarkatis itu terlontar dengan begitu mudah dari mulut seorang Cho Kyuhyun. Putra bungsu keluarga Cho yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Tak ayal, deretan frase itu semakin  membuat Cho Jisoo geram.

Jisoo mendengus keras, revolver dalam genggamannya ia lempar begitu saja di atas lantai dingin yang menjadi saksi bisu interaksi seorang ayah dan putranya yang jauh dari kata biasa.. Kakinya bergerak maju, matanya mengirimkan tatapan intimidasi pada seorang bocah 15 tahun yang masih mempertahankan aura tajamnya. Kyuhyun mengepalkan telapak tangannya erat di samping tubuhnya. Saraf sensorik dalam otaknya mencoba menerka apa yang akan dilakukan ayah kandungnya setelah ini. Besar kemungkinan dirinya akan berakhir menjadi objek kemarahan ayahnya yang tergambar dengan begitu jelas di wajahnya yang merah padam. Mungkin dirinya akan di pukuli hingga tubuhnya tak berbentuk lagi? Atau mungkin ayahnya lebih memilih untuk melakukannya melaui tangan para bodyguardnya? Tak ada yang tahu, saat tubuh tegap itu memerangkap Kyuhyun dengan begitu cepat dalam sebuah pelukan sepihak yang membuat dirinya memberontak dengan begitu keras.

Jisoo menahan tubuh putra bungsunya yang terus saja berusaha melepaskan diri dari jeratannya. Tenaga Kyuhyun ternyata tak bisa dianggap remeh. Sebelah tangannya ia letakkan di punggung Kyuhyun sementara tangan yang satu ia gunakan untuk menahan kepala Kyuhyun dari arah belakang. Ia mulai menunduk, mendekatkan bibirnya pada telinga Kyuhyun. Deretan frase serupa bisikan itu tergurat dari bibir seorang Cho Jisoo, yang seketika membuat Kyuhyun kini terdiam dari aksi memberontaknya. Ia kini tak ubahnya sebuah boneka, dengan tubuhnya dan membeku serta tatapan mata yang terlihat kosong. Membuat seringaian puas itu tercipta dari bibir seorang Cho Jisoo.

Flashbcak Off

 

-o0o-

            Kubah langit telah menampakkan sisi kelamnya, hanya segelintir cercah cahaya dari dewi malam yang mengintip dari sela-sela bayangan awan. Belaian udara malam yang membawa rasa dingin itu begitu terasa saat menyelusup pori-porinya, menusuk hingga tulangnya. Kyuhyun masih bergeming disana. Duduk dengan tenang di atas kursi berukir kayu yang terletak di balkon kamarnya dengan berteman buaian asap rokok yang menjadi candu baginya. Kyuhyun memejamkan matanya erat saat sensasi zat adiktif itu mengurumuni rongga kepalanya. Terkadang, ada saat dimana memori alam bawah sadarnya menyeruak begitu saja ke permukaan tanpa aba-aba. Memaksa Kyuhyun kembali merasakan rasa sakit yang tak pernah luput dari lingkaran perasaannya. Bahkan rasa sakit itu terasa semakin berlipat ganda.

            Kyuhyun menghisap batang rokok miliknya dalam sebuah hisapan panjang, kemudian memandang asap putih yang berhamburan dalam pandangannya. Terkadang, ia ingin menjadi seperti asap itu, melayang bebas dan menghilang dengan cepat tanpa meninggalkan jejak. Nyatanya, bahkan asap pun masih memiliki kesempatan untuk menikmati kebebasan sebelum lenyap tak berbekas. Lalu bagaiman dengan dirinya? Apakah ia akan bisa memiliki kesempatan itu? Ia sendiri tak begitu yakin akan hidupnya.

Milik siapakah hidup yang ia jalani saat ini?

-o0o-

            Deru nafas yang terdengar pendek-pendek menjadi tanda betapa gugupnya seorang lelaki yang tengah berdiri canggung di depan sebuah pintu eboni. Tangan kanannya terangkat, berniat mengetuk pintu kayu milik dongsaeng satu-satunya tersebut. Namun keraguan itu datang kembali sebelum ia berhasil mengetuk pintu. Jarum jam menunjukkan perguliran waktu menuju tengah malam, namun perasaannya seolah memberi tahu bahwa dongsaeng­nya tengah membutuhkan dirinya saat ini. Donghae memejamkan kedua kelopak matanya sejenak, menghela nafas dalam sebelum meyakinkan tekadnya untuk mengetuk pintu kamar adiknya.

            Tok. Tok. Tok.

            “Kyuhyun-ah? Boleh hyung masuk?” tak ada respon berarti dari dalam kamar Kyuhyun. Membuat Donghae berasumsi bahwa adiknya itu telah berkelana dalam mimpinya.

            Tok. Tok.

“Kyuhyun?” Donghae kembali tak mendapat respon yang sesuai dengan keinginannya. Namun dirinya begitu takut untuk memasuki kamar adiknya itu. perasaan canggung nyatanya masih menjadi pembatas antara dirinya dan Kyuhyun. Dan sebelum kakinya melangkah lebih jauh untuk berlalu dari depan pintu kamar Kyuhyun, indera pendengarannya menangkap suara gaduh yang terdengar samar dari dalam kamar adiknya. Membuat perasaan tak enak yang sedari tadi mengusiknya kian bertambah.

“Kyuhyun-ah?! Apa yang terjadi?!”

Donghae segera meraih kenop pintu eboni yang ternyata tidak terkunci itu, melangkahkan kakinya dengan cepat untuk memastikan keadaan Kyuhyun. Iris matanya menyipit guna menajamkan penglihatannya, karena kamar adiknya itu begitu gelap. Hanya sinar rembulan yang bersedia membantunya untuk meraih penglihatannya. Donghae meraba dinding kamar Kyuhyun untuk meraih saklar. Dan ketika cahaya telah datang untuk membuat segalanya lebih jelas, Donghae tak menemukan sosok Kyuhyun dalam kamarnya. Kemana adiknya itu?

Semilir angin yang menyapa kulitnya membuat Donghae mengalihkan atensinya pada pintu balkon yang terbuka. Tanpa ragu, ia membawa langkahnya untuk mendekat. Dari sisi pintu, ia melihat sosok adiknya tengah duduk di lantai balkon yang dingin dengan pandangan kosong. Di sekitarnya, berserakan potongan-potongan yang meruapakan bagian dari meja kayu kecil yang memang terletak di balkon kamar Kyuhyun sebelumnya.

“Kyuhyun-ah?! Apa yang terjadi?” Donghae begitu panik melihat panorama yang tesaji di depan matanya. Sementara Kyuhyun tersentak kala indera pendengarannya menangkap suara kakaknya. Dengan cepat ia menyembunyikan tangannya dalam saku celana miliknya. Kemudian membawa tubuhnya untuk bangkit dan menatap Donghae dengan pandangan bertanya.

“Memangnya apa yang terjadi, hyung?” tanya Kyuhyun. Nadanya masih saja datar. Rasanya kata dinamika memang telah pergi jauh dari dirinya. Donghae menatap Kyuhyun penuh selidik, tak percaya akan jawaban yang Kyuhyun berikan.

“Lihat dirimu. Kau tidak terlihat baik-baik saja. Dan apa ini?” Donghae menunjuk meja kayu yang telah hancur berkeping-keping di lantai. “Hyung hanya ingin mendengar perkataan jujur darimu, Kyu..”

“Ia sudah terlalu rapuh.”

M-mwo?

“Meja kayu itu. Aku baru mencoba untuk duduk diatasnya saat tiba-tiba ia hancur begitu saja.” Donghae tak serta merta percaya dengan begitu saja akan kalimat yang baru saja keluar dari bibir adiknya. Ia kembali menatap kepingan meja kayu itu dan matanya menyipit saat menemukan beberapa putung rokok yang terselip diantaranya. Ia membawa tubuhnya untuk mendekat dan berjongkok untuk memastikan penglihatannya.

“Sejak kapan kau begitu bodoh, Kyuhyun-ah? Katakan pada hyung. Siapa yang mengajarimu untuk merokok, Cho Kyuhyun?!” entah mengapa, tatapan khawatir dari manik hitam milik Donghae tergantikan begitu cepat dengan tatapan penuh emosi. Kyuhyun masih bergeming di tempatnya. Telapak tangannya yang bersembunyi di balik saku celananya mulai terkepal erat.

“Jawab hyung, Kyuhyun-ah!”

“Sebaiknya kau pergi dari sini, hyung. Bukankah tubuhmu tak bisa bersahabat dengan angin malam?”

“Aku tak akan pergi sebelum kau berkata jujur.” Donghae mencoba membuat dirinya untuk keras kepala. Karena memang terkadang menghadapi anak keras kepala macam Kyuhyun diperlukan hal yang sama pula. Meski tak dapat dipungkiri, deretan frase terakhir yang diucapkan dongsaeng-nya tak ayal membuat goresan tak kasat mata tercipta di salah satu sisi hatinya. Perih. Seolah kenyataan itu kembali menamparnya. Sebuah kenyataan yang mau tak mau harus ia terima, bahwa tubuhnya berada dalam daftar terakahir dalam hal yang dapat ia andalkan.

“Aku rasa aku telah berkata jujur. Bukankah kau memang tak bisa berlama-lama dengan angin malam?” Oh, katakanlah Kyuhyun memang terlalu pandai berkata-kata.

“Kau bukan anak bodoh, Kyu. Kau tahu bukan itu yang aku maksud.” Nada suara Donghae terdengar semakin dingin, hingga angin malampun menggigil mendengarnya. Kyuhyun masih persisten menatap netra Donghae yang menghunusnya dengan pandangan menuntut.

Well, katakanlah aku memang anak bodoh. Dan aku yakin kau tak ingin membuang waktumu yang berharga untuk berbincang dengan anak bodoh sepertiku. So, i’m done with you.” Kyuhyun berucap dengan ketenangan yang luar biasa. Itulah yang membuat emosi Donghae kembali memuncak. Berbincang dengan adiknya memang butuh perjuangan ekstra. Dan seringkali berakhir dengan dirinya yang harus mengalah.

Fine. Tapi ku harap kau ingat bahwa kau masih berhutang penjelasan padaku, Cho Kyuhyun.” Kalimat terakhir Donghae sebelum beranjak dari balkon kamar Kyuhyun, melangkah dengan rasa kecewa yang menyelusup di dadanya. Meninggalkan sosok yang masih berdiri kaku disana, berteman dinginnya hembusan angin malam. Perlahan, tangan kanannya yang bersembunyi di balik saku celana mulai memperlihatkan wujudnya yang bermandikan darah segar. Cairan kental berwarna merah itu tak henti mengalir di sela-sela jemari pucat milik seseorang yang menatap sendu punggung kakaknya yang menghilang di balik pintu kamarnya.

“Mianhae.”

-o0o-

Atmosfer pagi ini terasa berbeda. Bukan apa. Hanya sebuah keluarga yang tengah menikmati sarapan pagi bersama. Hanya saja, tak ada kehangatan yang seharusnya melingkupi sebuah keluarga. Hanya melakukan rutinitas pagi, sebuah kegiatan dilakukan berulang-ulang. Putra sulung keluarga Cho tampaknya tengah diliputi aura kemuraman. Wajah tampannya sama sekali belum menampakkan senyuman dan cengiran nakal yang biasa ia tujukan untuk menggoda adiknya. Hal ini yang membuat pasangan paruh baya itu saling mengukir kerutan samar di dahi mereka masing-masing, menyimpan pertanyaan yang sama dalam raut wajah ang mulai dipenuhi guratan waktu itu. Sementara sang adik, tak ada yang akan bertanya dalam hati mengapa seorang Cho Kyuhyun begitu enggan berekspresi, ataupun enggan mengeluarkan suaranya. Tak ada yang akan bertanya mengapa alasannya, tak ada yang akan menatapnya dengan pandangan khawatir seperti yang saat ini tengah ditujukan pada kakaknya.

“Ada sesuatu yang mengganggumu, chagiya?” Kau dengar itu? Kau dengar kata terkahir yang terucap dari seorang Cho Jisoo? Sebuah panggilan manis terlihat begitu mudahnya terucap dari bibir itu. Namun kata itu mungkin akan menjadi kata yang mustahil diucapkan untuk seorang anak yang duduk disamping Donghae, yang bertahan dalam diamnya untuk menikmati roti selai kacang miliknya.

Aniya, appa. Nan gwenchana. Hanya sedang kesal karena telah membuang waktuku yang berharga hanya untuk berurusan dengan seorang anak bodoh.” Jawab Donghae dengan penekanan dalam akhir kalimatnya.

“Hahaha.. Untuk apa kau kesal, Hae-ya?  Lupakan saja anak bodoh itu. Keluarga Cho tak akan membuang waktunya hanya untuk menanggapi orang-orang bodoh. Kau sudah tahu itu, bukan?”

Arasseo, appa.” Senyuman Donghae berikan untuk mengakhiri jawabannya.

“Jadi, anak bodoh itu yang mampu membuatmu melupakan earphone­mu, hmm?” itu adalah bentuk candaan yang terlontar dari bibir seorang Cho Hyemi. Donghae hanya memberi respon dengan menunjukkan cengiran lebarnya untuk sang ibu. Lihatlah, bahkan hal kecil itupun tak luput dari perhatian sang ibu. Apakah itu juga berlaku untuk seorang Cho Kyuhyun? Aku akan mengatakan salah besar jika kau mengatakan iya. Siapa yang peduli akan kebiasaan buruk seorang Kyuhyun yang bahkan kedua orang tuanya sendiri tak tahu akan hal itu? Siapa yang akan peduli akan jalan hidupnya yang jauh dari kata baik? Siapa pula yang akan peduli saat rasa sesak yang bersarang di hatinya yang begitu merindukan kebebasan? Tak ada.

Seorang Cho Kyuhyun hanya harus menyimpan semua itu sendiri, dan ia melakukannya dengan sangat baik.

-o0o-

“Changmin-ah!”

Mendengar seseorang yang menyerukan namanya, Changmin menghentikan langkahnya menuju ruang kelas. Hari ini ia memliki jadwal kuliah pagi. Jarum jam ditangannya yang ia anggap tak memiliki perasaan, dengan begitu kurang ajar menunjukkan waktu yang membuatnya harus menambah kecepatan langkah kakinnya. Dan seseorang dengan lancangnnya menghentikannya. Apa ia tak melihat dirinya yang tengah dikejar waktu? Saat ia menolehkan kepalanya, wajah tampan milik kakak sahabatnya yang terpampang didepannya. Membuat dirinya menghela nafas berat.

“Ada apa, hyung? Kau tak melihat ini sudah pukul berapa? Aku sudah sangat terlambat!” Changmin melebihkan tekanan suaranya pada dua kata di akhir bagian kalimatnya. Hanya untuk menunjukkan betapa dirinya sedang tak ingin untuk sekedar berbasa-basi.

“Hmm, arasseo. Temui aku di kantin selepas jam kuliahmu. Aku akan terus berada disana sebelum kau menampakkan wajahmu di depanku.”

Arasseo, arasseo. Itu saja kan yang ingin kau katakan? Bye, hyung!” Jawab Changmin dengan cepat, secepat langkahnya yang bisa dikatakan berlari. Ia hanya sedang malas untuk melakukan hal yang menurutnya sia-sia, menulis kalimat ‘Aku berjanji untuk tidak terlambat lagi’ sebanyak 100 kali dalam jurnalnya sebagai konsekuensinya jika ia terlambat. Dosen Kang memang sangat ketinggalan jaman dalam memberi hukuman pada mahasiswanya, gerutu Changmin dalam hati.

-o0o-

Sepertinya kali ini Changmin harus bersyukur kepada Tuhan. Karena dosen Kang yang terkenal amat disiplin itu berhalangan hadir dikarenakan tugas dari pihak kampus yang mengharuskannya pergi ke luar kota. Berulangkali Changmin menghembuskan nafasnya lega, karena kali ini ia berhasil terhindar dari hukuman Dosen Kang yang menurutnya sangatlah tidak keren. Kini ia mengalihkan atensinya pada sosok sahabatnya yang duduk tepat di kursi sebelahnya. Sebenarnya usia Changmin satu tahun diatas Kyuhyun, namun karena sahabatnya itu mengikuti akselerasi, maka mereka berdua berada di semester yang sama.

“Hey, Kyuhyun-ah! Apakah kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku, hmm?” tanya Changmin seraya menaik-turunkan kedua alis tebalnya. Kyuhyun yang melihat itu hanya mengernyitkan alisnya sejenak, sebelum kemudian kembali fokus pada bacaannya.

“Oke, oke. Akan sia-sia jika aku berharap kau akan bertanya, Kyuhyun-ah. Jadi aku akan mengatakannya lebih dulu padamu. Dengarkan aku baik-baik, arasseo?” Changmin seperti berbicara pada angin yang berlalu, namun ia sudah terbiasa akan itu. Ia tahu, meski terlihat tak peduli, namun Kyuhyun mendengarkan segala ucapannya dengan baik.

“Mungkin ini adalah hari keberuntunganku. Aku datang terlambat di mata kuliah dosen Kang. Kau tahu sendiri bukan apa hukuman yang akan aku dapatkan? Dan sebuah keajaiban datang menghampiriku. Dosen Kang tidak hadir dan hanya memberi tugas. Yang berarti aku terhindar dari hukumannya. Kau tahu apa yang harus kau lakukan sebagai seorang sahabat? Ucapkan selamat padaku dan traktir aku sesuatu untuk membuat kebahagiaanku bertambah, Kyuhyun-ah..”

“Selamat Changmin-ah. Hmm, arasseo.” Changmin harus rela jika ungkapan kebahagiannya yang panjang lebar hanya dibalas dengan kalimat singkat khas seorang Cho Kyuhyun. Namun ia tetap memperlihatkan senyuman lebarnya, seolah hal itu adalah sesuatu yang besar.

“Whoa.. gomawo, Kyu! Kau memang sahabat yang pengertian. Okay, aku akan memikirkan list makanan apa yang aku inginkan. Kau hanya perlu menyiapkan uangmu dengan baik. Arasseo? Good boy.” Changmin menyempatkan diri untuk mengacak surai cokelat Kyuhyun dan segera melarikan diri sebelum sahabatnya itu mendelik marah padanya.

            Dan lagi-lagi, seorang Cho Kyuhyun berhasil tersenyum dalam hatinya karena kelakuan sahabat satu-satunya.

-o0o-

                Iris mata Changmin menyapu seluruh penjuru kantin dan mendesah lega saat menangkap objek yang dicarinya. Ia melihat Donghae duduk di meja paling sudut, dan tanpa ragu ia pun membawa langkahnya untuk menemuinya.

            “Apa kau menunggu lama, hyung?” tanya Changmin seraya mendudukkan bokongnya di kursi kosong yang tersedia.

            “Yeah, setidaknya aku rasa Seoul belum berganti musim.” Itu jawaban yang sarat akan sindiran.

            “Mian, hehe..” Changmin menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.

            “Never mind. So, bagaimana Kyuhyun hari ini?” seperti biasa, Donghae akan mengawali obrolannya dengan bertanya kabar adiknya.

            “Hmm, masih sama seperti kemarin, kurasa. Tak ada yang kurang, apalagi lebih.” Donghae terkekeh kecil mendengarnya. Jika ia tak lupa, soal bicara, Changmin itu satu tipe dengan adiknya. Hanya bedanya, Changmin memiliki hormon semangat dan ceria yang berlebih, mungkin? Hingga detik berikutnya, raut wajah Donghae berubah menjadi lebih serius.

            “Wow, ada apa dengan wajahmu, hyung? Tenang saja. Aku tak akan menahanmu jika kau mendapat panggilan alam.”

            “Diam, Changmin-ah! Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tentang Kyuhyun. Dan peringatan untukmu, ini bukan hal yang bisa kau anggap remeh.”

            “Arasseo. Telingaku terpasang dengan baik, hyung..

            Donghae menghela nafas dalam sebelum melontarkan kalimatnya. “Sejak kapan Kyuhyun bergelut dengan kebiasaan buruknya itu?” Donghae dapat melihat kerutan samar yang tergurat di dahi Changmin. “Jangan katakan kau tak tahu tentang hal ini, Changmin. Aku tahu kau satu-satunya orang yang dekat dengan Kyuhyun sedari dulu.”

            “Kebiasaan buruk apa yang kau maksud, hyung?” kali ini nada bicara Changmin terdengar berbeda. Ia akan menjadi orang yang serius jika ada hal buruk yang kemungkinan berhubungan dengan sahabatnya. Mendengar pertanyaan Changmin, membuat Donghae menghela nafas berat. Sepertinya memang Kyuhyun berhasil menyembunyikannya dengan sangat rapi.

            “Merokok. Entah sejak kapan ia memulainya. Namun aku baru mengetahuinya semalam.” Jawaban Donghae mau tak mau membuat Changmin membulatkan matanya.

            “Ap-apa kau bilang?! Merokok?! What the-“

            Ne, Changmin-ah.” Donghae menyahut sebelum Changmin selesai mengeluarkan umpatannya.

            Changmin menggelengkan kepalanya. “Tidak, hyung. Aku sama sekali tak tahu akan hal ini. Maksudku- merokok? Aku bahkan tak pernah melihatnya menyentuh kopi, hyung..”

Donghae menganggukkan kepalanya mengerti. Sama seperti dirinya, Changmin pasti merasakan rasa tak percaya yang begitu besar membuncah dalam dadanya. “Aku bahkan tak habis pikir darimana ia mendapatkannya. Dan….” wajah Donghae menyiratkan raut penyesalan yang cukup dalam.

            “Dan apa, hyung?”

            “Dan aku tak bisa menahan emosiku saat itu. Yang aku pikirkan hanya siapa yang membuatnya berteman dengan hal-hal seperti itu dan membuat pelajaran untuknya. Tanpa sadar aku kembali membuat jarak itu semakin besar, Changmin. Aku memang gegabah. Sebagai seorang kakak, ak-aku…”

            “Hentikan kalimatmu disana, hyung. Aku tak ingin dituduh membuat anak orang menangis!” seruan Changmin membuat Donghae mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan. Menyadari hal itu, Donghae segera menghapus air mata yang sempat menyeruak dari sudut matanya. “Mianhae.”

            Melihat keadaan Donghae, Changmin menghela nafas berat. Ia mengerti bagaimana sosok Donghae. Donghae yang selalu ingin melindungi adiknya. Donghae yang selalu ingin mengikis jarak yang tercipta diantara mereka. Donghae yang tak pernah bisa mengendalikan emosinya jika hal buruk terjadi pada adiknya. Sifat inilah yang terkadang membuat jarak itu semakin nyata, karena Kyuhyun bukanlah sosok yang mudah untuk dipahami. Butuh dari sekedar kata mnegerti untuk bisa menyentuh sisi terdalam dari seorang Cho Kyuhyun.

            “Arasseo, hyung. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Hanya saja, terkadang kau kurang tepat dalam menyampaikan rasa khawatirmu pada Kyuhyun. Well, yeah~ kau tahu maksudku, bukan?”

            “Aku menyadari itu, Chang.. Kalimatmu sama sekali tak ada yang salah. Maka dari itu…” Donghae kini menatap Changmin penuh harap, tatapan yang sama yang seringkali ia tunjukkan pada sahabat adiknya itu. Karena untuk saat ini, hanya Changmin-lah harapan bagi Donghae untuk kemungkinan bisa melelehkan lapisan es yang melapisi tembok baja yang Kyuhyun bangun dengan tinggi, sebelum merobohkan tembok itu dan merengkuh Kyuhyun dalam kasih sayangnya. Meski kemungkinan itu hanya satu dibanding seribu, Donghae akan terus berusaha mencapainya. Bagaimanapun caranya.

            “Maka dari itu, untuk ke-sekian kalinya aku mohon padamu. Bantu aku untuk memahami Kyuhyun. Dan untuk saat ini, bantu aku untuk membuat Kyuhyun mau sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan buruknya itu. Kyuhyun masih sangat muda, Chang… akan berakibat fatal jika ia tak menghentikan kebiasaan itu hingga ia dewasa.” Hati Changmin tersentuh akan permintaan tulus yang Donghae tujukan padanya.

            “Kau tak perlu memohon, hyung. I’ll try my best.” Jawab Changmin tanpa ragu, berusaha meyakinkan hati Donghae bahwa masih ada dirinya yang tak akan pernah membiarkan Kyuhyun semakin tenggelam dalam kegelapannya. Masih ada dirinya yang selalu ingin menciptakan senyuman di wajah Kyuhyun, meski itu sama sulitnya dengan melihat bintang di langit pada siang hari. Dan yeah~ masih ada seorang Shim Changmin di dunia ini.

-o0o-

            Iris mata sewarna cokelat madu itu kembali berputar pada jarum arloji di pergelangan tangan kirinya, dan mendesah saat mendapati jarum itu telah berotasi 180 derajat. Pukul 14.30. Jam kuliah sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu, namun sosok yang ia nanti kehadirannya belum juga menampakkan wajahnya. Lagipula, sosok itu bolos di jam kuliah terakhir hari ini. Kyuhyun menghela nafas jengah. Haruskah ia menunggu lebih lama lagi? Tapi Changmin memintanya untuk menunggunya sampai ia datang. Apakah tak ada keinginan untuk pulang daripada menanti sesuatu yang tidak jelas seperti ini? Jika kau mengajukan pertanyaan ini pada Kyuhyun, ia tak akan mengerti. Karena Kyuhyun begitu jauh dengan kata ‘keinginan’. Ia tak begitu paham bagaimana rasa ‘ingin’ yang berada dalam dirinya, atau lebih tepatnya yang berasal dari dalam dirinya. Karena selama ini, ia hanya melakukan ‘keinginan’ orang lain, tak menyadari hal itu sedikit demi sedikit mengikis ‘keinginan’ yang berada dalam dirinya, hingga nyaris tak berbekas.

            Puk.

            Kyuhyun tersentak dari dunianya. Seseorang menepuk pundak kanannya dari arah belakang. Taman kampus masih terasa sepi karena jam kuliah pada umumnya berakhir di sore hari. Membuat Kyuhyun merasa sedikit waspada akan sosok yang kini berada tepat di balik punggungnya. Namun ternyata rasa penasaran miliknya lebih besar. Maka ia pun menolehkan kepalanya dan menemukan senyuman yang begitu lebar di wajah seseorang yang dikenalnya.

            “Anyeong, Kyuhyun-ah!” Changmin segera beranjak dan memposisikan dirinya duduk di samping Kyuhyun. Membuat Kyuhyun menggeser duduknya –secara terpaksa. “Apa kau sudah menunggu lama?”

            “Menurutmu?” jawab Kyuhyun singkat. Padat. Datar.

            “Oh, well, aku yakin kau sudah tak sabar ingin mentraktirku, bukan?” ucapan ceria itu kembali Changmin serukan, masih berharap bahwa keceriaan itu akan menular pada sosok dingin disampingnya. Dan melihat wajah Kyuhyun yang masih tak berekspresi, membuatnya sedikit salah tingkah. Changmin menganggap Kyuhyun tengah kesal saat ini. Mungkin orang lain akan kesulitan untuk mengetahui apa yang Kyuhyun rasakan melalui ekspresinya. Namun tidak dengan Changmin.

            “Okey.. Aku anggap kau berkata ‘Kau benar, Changmin-ah! Cepat beri tahu padaku makanan apa yang kau pilih?’ ” Changmin berucap seolah Kyuhyun yang mengucapkan pertanyan itu. “Baiklah, Kyuhyun-ah. Aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang.” Oh, bukankah Changmin kini terlihat seperti tengah bermain drama dengan memainkan dua tokoh sekaligus? I know, that’s ridiculous.

            Kyuhyun hanya memberikan raut wajah tak berekspresinya pada Changmin, namun Changmin tahu bahwa tatapan mata itu masih menunggunya untuk memberikan penjelasan lebih. “Kau bertanya ‘Mengapa, Changmin-ah? Mengapa tidak sekarang saja kau memberitahuku’? Well, akan aku jawab langsung.” Changmin kembali memerankan dua tokoh berbeda sekaligus dalam satu waktu. Beriringan dengan senyuman yang tersemat di bibirnya, Changmin merangkul pundak Kyuhyun dan menguraikan rangkaian kata yang serupa bisikan. “Ikut denganku dan kau akan mendapatkan jawabannya. Bagaimana?”

            “Whatever.

-o0o-

            Pupil mata Kyuhyun terlhat melebar sejenak, menampilkan binar yang selama ini berhasil ia sembunyikan dengan sangat baik. Meski wajahnya tak berekspresi, namun Changmin dapat menangkap binar mata itu. Binar mata yang menyiratkan perasaan kagum meski terlihat samar. Kyuhyun masih belum melontarkan frase apapun, hanya iris matanya yang bekerja untuk memandang panorama langka yang tersaji di hadapannya. Warna-warna cerah yang menyapa indera penglihatannya itu begitu asing bagi Kyuhyun, namun mampu membuat sesuatu dalam dadanya bergetar menyenangkan.

            Komedi putar dengan berbagai warna yang berbeda di tiap gerbongnya. Wahana anak-anak dengan papan seluncuran berkelok berwarna kuning, juga jungkat-jungkit dan teman-temannya yang juga memiliki masing-masing warna yang berbeda. Dan balon warna merah yang terlihat tersebar di seluruh penjuru taman. Semua bagai mozaik yang berpendar begitu indah di mata Kyuhyun. Ia mengalihkan atensinya pada Changmin yang masih menatapnya dengan senyuman penuh arti.

            “Chang-“

            “Well, you’re welcome, Kyu.” sergah Changmin dengan cepat, cengirannya semakin melebar. Changmin hanya masih kelewat senang setelah mampu membuat binar itu terlihat –meski samar di mata Kyuhyun. Dan ia meyakinkan dirinya untuk kembali melihatnya, mengikis samar yang tercipta disana.

            Kyuhyun sedikit mendengus karena lagi-lagi Changmin menghentikan kalimatnya sebelum ia selesai mengucapkannya. “Katakan sekarang.”

            “Mwo?” Changmin memiringkan kepalanya, tak begitu paham akan apa yang Kyuhyun maksudkan. Kyuhyun yang memang tak banyak bicara, hanya menatap Changmin dengan pandangan mata yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Datar. Membuat Changmin harus memutar otak untuk mencari jawabannya.

            “Ahh! Arasseo! Arasseo! Kau sudah tak sabar untuk mentraktirku rupanya, hmm? Kau benar-benar sahabat yang pengertian, Kyuhyun-ah!” Changmin dengan semangat merangkul Kyuhyun, menepuk-nepuk bahunya untuk menyalurkan perasaan bahagianya. Dan Kyuhyun? Ia yang biasanya akan memberontak saat mendapat perlakuan skinship dari orang lain, kini hanya terdiam. Entah mengapa, ada secercah rasa hangat yang muncul dalam hatinya dan  rasa itu menyebar ke sekujur tubuhnya.

            Changmin kembali tersenyum penuh arti. Ya, ia dapat merasakannya. Sahabatnya itu, mulai menunjukkan perubahannya meski itu masih sangatlah kecil. Yang berarti perjuangannya masih sangat jauh. Namun Changmin akan terus berjuang, sejauh apapun jalan yang harus ia tempuh.

            “Baiklah, Kyu. Kau lihat penjual yang ada di samping komedi putar itu?” Changmin mengarahkan telunjuknya pada penjual dalam kedai kecil buatan dengan antrian lumayan panjang yang mayoritas merupakan anak-anak. “Aku ingin kau mentraktirku itu, Kyu!”

Kyuhyun mengikuti arah jari Changmin dan indera penglihatannya  menangkap sesuatu yang tampak sangat lembut berwarna biru muda dan pink yang penjual itu berikan pada mereka yang mengantri di depannya. Ya, kau benar. Permen kapas.

            Kyuhyun mengernyit heran pada Changmin. “Kau yakin?”

            “Pretty sure.” Jawab Chagmin cepat dan segera menggiring Kyuhyun untuk masuk dalam antiran. Meski Kyuhyun terlihat enggan, namun Changmin tetap mendorongnya dengan penuh semangat. Hey, bukankah mereka berdua akan terlihat mencolok dan aneh berada di antrian itu?

            “Tapi sepertinya itu makanan untuk anak-anak.”

            “Hey, kau bahkan belum genap 17 tahun. Jadi, makanan itu juga berlaku untukmu. Okay?” Changmin terus mendorong Kyuhyun hingga kini mereka  berdua berada dalam antrian yang cukup panjang itu. Sementara Kyuhyun hanya mendelik mendengar kalimat terakhir yang Changmin ucapkan padanya.

            “Kau yang memintanya bukan aku, kalau kau lupa, Changmin-ah.” Kyuhyun masih mencoba mengelak, rupanya. Membuat Changmin menghela nafas lelah.

            “Tapi aku juga ingin kau ikut memakannya bersamaku.” Changmin segera melanjutkan perkataannya saat melihat Kyuhyun hendak menyahutnya. “Dan aku tak menerima penolakan. Oh.. c’mon, dude! Hanya cobalah dulu, dan aku yakin kau tak akan puas hanya dengan 1 buah.”

            “Kau terlalu yakin, Changmin.”

            “Aku berani bertaruh, Kyu..” Changmin menaik-turunkan alisnya. Dan yang Kyuhyun lakukan hanya mengalihkan atensinya ke arah lain, terlalu malas untuk menikmati wajah Changmin yang menjengkelkan di matanya. Posisinya berada di depan Changmin saat ini, dan perlahan mereka maju mendekat pada penjual permen kapas itu saat satu-persatu pembeli telah mendapat apa ia mereka inginkan.

            Kyuhyun menatap seorang gadis cilik yang telah mendapat permen kapas dalam genggamannya dengan pandangan intens. Lagi-lagi, iris mata itu berbinar sejenak, melihat bagaimana bocah itu meraih bagian permen kapas itu dan memasukannya ke dalam mulut kecilnya. Hal itu terlihat begitu menarik di mata Kyuhyun.

            “Nah, apa sekarang kau dapat merasakannya, Kyu?” Pertanyaan Changmin menginterupsi kegiatan Kyuhyun. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, meminta Changmin untuk memberikan penjelasan akan pertanyaannya lewat pandangan matanya.

            “Maksudku, apa yang saat ini hatimu rasakan?” Kyuhyun terdiam mendengar pertanyaan Changmin. Apa yang hatinya rasakan? Kyuhyun sendiri tak begitu mengerti akan hatinya. Hanya saja, ada getaran menyenangkan yang menggelitik hatinya, membuatnya merasakan sesuatu namun ia masih belum mengerti rasa apa itu.

            Changmin memberi Kyuhyun waktu untuk berpikir. Karena ia tahu, Kyuhyun tengah bertanya pada hatinya sendiri. “Apa kau merasakan sesuatu yang muncul di hatimu? Sesuatu yang membuatmu merasakan menginginkan suatu hal, mungkin?”

            “Okey, akan kuperjelas pertanyaanku.” Changmin kini menunjuk bocah laki-laki yang tengah duduk di salah satu bangku taman yang putih sambil menikmati permen kapasnya. Bocah itu tampak menggigit permen kapas biru muda miliknya dengan lahap. “Saat kau melihat anak itu memakan permen kapasnya, apa yang kau rasakan dalam hatimu, hmm?”

            “Aku…”

            Changmin dengan sabar menanti kalimat yang akan keluar dari bibir Kyuhyun. Sementara sahabatnya itu terlihat masih ragu akan jawaban yang akan ia berikan.

            “Aku rasa, aku ingin mencobanya.” Lima kata yang keluar dari bibir Kyuhyun mampu membuat Changmin untuk ke-sekian kalinya menyunggingkan senyuman tulusnya hari ini. “Bagus, Kyu. Kau telah berhasil.”

            “Berhasil?” Kyuhyun menatap Changmin antara tak percaya dan tak mengerti.

            “Yeah… bukankah menyenangkan jika kau bisa merasakan rasa itu? Rasa yang membuatmu  menginginkan sesuatu hingga setidaknya kau merasa hidup yang tengah kau jalani ini milikmu.” Changmin hanya mampu mengungkapkan itu dalam benaknya. Ia hanya tak ingin Kyuhyun kembali menarik dirinya lebih dalam jika ia terlalu tergesa-gesa dalam mengambil tindakan.

            “Lupakan. Hey, lihat. Giliranmu hampir tiba. Ayo cepat maju selangkah!” ia segera mendorong bahu Kyuhyun sebelum sahabatnya itu melempar protes padanya.

            Kyuhyun terlihat sedikit gugup saat berada di depan ahjussi penjual permen kapas yang tengah melempar senyum ramah padanya. “Hey, anak muda. Berapa yang kau inginkan?” Kyuhyun menoleh ke arah Changmin yang kini berdiri disampingnya, menyalurkan pertanyaannya melalui tatapan matanya.

            “Kenapa, Kyu? Kau yang mentraktirku. Itu berarti kau yang memutuskan.” Kyuhyun terdiam sejenak. Tanpa sadar ia memiringkan kepalanya, tampak berpikir namun iris matanya tak lepas dari tatapan Changmin.

            “Aku?” frase itu terucap bersamaan dengan Kyuhyun yang menunjuk dirinya sendiri.

            “Yap. Itu kau, Kyuhyun-ah!” jawab Changmin dengan semangat yang sejak tadi meluap-luap dalam tubuhnya Kyuhyun kembali terdiam. Dalam benaknya, kini berputar bermacam kemungkinan berapa kira-kira jumlah permen kapas yang akan ia beli saat ini?

            ‘Sebaiknya aku beli berapa? Jika aku membeli 2 buah, aku dan Changmin masing-masing mendapat 1 buah. Tapi melihat bocah tadi memakannya dengan lahap, rasanya tak akan cukup jika hanya satu. Apa 3 cukup? Aku 2 dan Changmin 1. Oh, tapi bagaimana jika Changmin juga ternyata ingin lebih? Hmm… lebih baik aku beli 4 saja. Jika memang nantinya lebih, disini masih banyak anak-anak yang mungkin akan bersedia menghabiskannya.’

            Ahjussi penjual permen kapas itu merasa heran dengan anak muda yang mengenakan  kemeja maroon di depannya. Ia terlihat menundukkan kepalanya hingga surai cokelatnya menutupi wajahnya. Kedua tangannya berada disamping tubuhnya dan meremas bagian tepi kemejanya. Ahjussi itu kini mengalihkan atensinya pada pemuda yang berada di sampingnya yang memakai hoodie berwarna cokelat tua, berharap mendapat penjelasan darinya. Changmin tersenyum menenangkan dan berucap tanpa suara. Hanya menggerakkan bibirnya. “Gwenchana, ahjussi. Kita tunggu saja dia.” Sang ahjussi hanya menganggukkan kepalanya singkat meski berbagai pertanyaan masih bergelayut dalam kepalanya.

            Kyuhyun mulai mengangkat kepalanya dan melihat Changmin menganggukkan kepala untuknya. Dengan sedikit ragu, ia menatap ahjussi penjual permen kapas yang masih menyajikan senyumannya. Tangan kanannya terangkat, perlahan membentuk formasi jumlah dengan ke-empat jemarinya.

            “Oh, kau menginginkan 4?” ahjussi itu bertanya dengan semangat. Kyuhyun mengangguk singkat, dengan senyuman kecil yang tercipta di bibirnya. Namun matanya menyiratkan rasa senang yang tak bisa ia sembunyikan. Sang ahjussi terkekeh kecil. Melihat betapa lucu anak muda di depannya ini. Wajahnya memang terkesan dingin, namun tingkahnya mengingatkan dirinya pada putra bungsunya yang masih berada di taman kanak-kanak.

“Baiklah. Kau ingin yang warna apa, anak muda? Ahjussi punya biru muda dan merah muda disini.” Iris mata Kyuhyun kini menatap permen kapas yang berada dalam genggaman tangan kanan dan kiri si ahjussi secara bergantian. Kanan, merah muda. Kiri, biru muda. Dan lagi-lagi ia menolehkan kepalanya pada Changmin, seolah meminta bantuan darinya.

“Terserah kau saja, Kyu. Kan kau yang bayar. Hehe..” Changmin melengkapi jawabannya dengan cengiran khas dirinya.

“Apa boleh?” tanya Kyuhyun. Lihatlah. Kyuhyun bertanya seolah itu adalah keputusan besar dalam hidupnya. Sebenarnya hati Changmin sedikit tergores mendengar kalimat yang terkesan polos itu. Ia benar-benar harus mengeluarkan Kyuhyun dari kegelapan itu sebelum semuanya terlambat. Bahkan Kyuhyun hampir tak mampu mengerti apa itu sebuah ‘keinginan’. Meski ‘keinginan’ itu berupa hal kecil semacam menentukan warna permen kapas apa yang akan ia pilih. Padahal, mulai dari hal kecil inilah yang nantinya akan mampu membuat seseorang merasakan bahwa dirinya memiliki sebuah tujuan dalam hidupnya.

“Tentu saja, Kyu. Pilih warna apa yang kau suka.”

            Binar di mata Kyuhyun semakin nampak cerah mendengar jawaban Changmin. Rasanya sudah begitu lama ia tak bisa merasakan bagaimana ‘memilih’ suatu hal dalam hidupnya. “Aku pilih yang biru saja, ahjussi.

            “Arasseo. 4 permen kapas biru untuk….”

            “Kyuhyun. Namanya Kyuhyun, ahjussi.” Changmin yang menjawabnya.

            “Oh, Kyuhyun-ah! Ini, ambillah.” Kyuhyun menukar 4 permen kapas berwarna biru muda yang masih terbungkus plastik bening itu dengan uang di tangannya. Dan getaran menyenangkan dalam hatinya kian terasa saat permen kapas itu kini berada dalam genggamannya.

            “Gamsahamnida.

-o0o-

            Lalu lintas kota Seoul memang tak pernah mati. Meski senja telah menjemput, namun intensitas kendaraan yang melintas tak juga berkurang. Seorang pemuda tampan tengah berdiri di salah satu sisi jalan, bersiap untuk untuk menyeberangi lautan kendaraan yang lalu-lalang. Saat lampu penyeberangan telah berubah warna, ia membawa langkahnya untuk maju. Kebiasaannya yang selalu memasang earphone di telinganya membuatnya tak begitu jelas mendengar keadaan sekitar. Dari arah kiri, sebuah van hitam terlihat melaju dengan tak terkendali. Sepertinya rem van tersebut tak berfungsi sebagai mana mestinya. Orang di sekelilingnya sudah berteriak memberi peringatan padanya, namun itu percuma. Pemuda itu terlalu larut dalam dunianya.

            “Yak! Awasss!”

To be continued~

 

NOTE:

Arrrghhh… apa ini jadi kayak sinetron? *tutupmuka*

Hello dear… masih adakah yang merindukan story ini? Oh, Aku meragukannya. Apalagi yang meerindukanku. Nggak ada yah? x’(

Saat ini aku lagi di luar kota dalam kurun waktu satu bulan, karena yah~ bisa dibilang tugas kampus. Jadi, harap maklum yah kalo update-nya sampe daerah kalain ganti musim wkwkwk xD

Nggak mau yang macem-macem. Cuma mau review dari kalian. Kritik, saran dan komentar dari kalian sangat aku tunggu.

Okey, dear? x)

Well, what’s on your mind? Just say it on the review box!

Thank you, everyone…

With love, Little Evil x)

Advertisements

5 thoughts on “[Fanfiction] Facade : Chapter 3”

  1. Bahagia itu sederhana, ada apdetan dr ff favorit akyuuu, ehehehehe
    Eonni mah demen bgt bikin reader nangis. Rasa sakitnya tuh sampe bgt lho eon, serius……
    Trus knp itu, yg suka pke earphone kan donghae. Klo beneran ketabrak psti kyu yg disalahin, harusnya jg kaka’y malah seneng2. Begitukah???, jd anak aku aja sini kyu, pasti bebas, ehehehehe….
    Btw FIGHTING buat tugas kuliahnya…. Sukses slalu eonni 😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s