[Fanfiction] Facade: Chapter 4

facade

Langit senja telah bertabur mega yang menguning saat decitan panjang terdengar akibat gesekan antara ban kendaraan dengan permukaan jalan aspal di bawahnya. Suara yang menjadi latar belakang lain di tengah lautan kendaraan yang berduyun-duyun ingin segera mencapai tujuannya. Sebuah van hitam yang melaju tak terkendali menyelusup di antara kendaraan lainnya yang tengah melaju. Kecepatan van itu tak juga berkurang meski telah menabrak beberapa kendaraan di depannya. Keempat roda hitam itu terus berputar hingga tiba di persimpangan jalan, dimana seorang pemuda tampan terlihat tengah bersiap untuk menuu sisi lain dari tempatnya berpijak, menyeberangi jalan. Sebuah earphone putih tampak memeluk kedua telinganya, menutup akses pendengarannya sehingga membuat dirinya tak menyadari situasi genting yang sedang terjadi di sekitarnya.

Senja itu, suara teriakan orang-orang di jalan sama sekali tak bisa menembus celah indera pendengarannya. Saat penglihatannya menangkap lampu tanda untuk pejalan kaki berubah warna menjadi hijau, dengan segera ia melangkahkan kakinya untuk menyeberangi zebra cross. Dari arah kiri, van yang tak terkendali itu sudah siap untuk menghantamnya saat tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang dari belakang dan merengkuhnya dalam eratnya sebuah pelukan. Karena gerakan yang belum diperhitungkan sebelumnya, tubuh mereka bedua terhuyung hingga keduanya harus merelakan kulit mereka bergesekan dengan kerasnya jalanan aspal di bawahnya.

Terdengar suara benturan yang cukup keras saat van yang nyaris melayangkan nyawa seseorang itu merayap dengan tak terkendali di trotoar sebelum menghantam tiang listrik yang berdiri kokoh di salah satu sisi jalan. Atensi orang-orang yang berlalu-lalang terbagi menjadi dua. Sebagian mencoba mengeluarkan sang supir van yang terlihat kehilangan kesadarannya setelah bagian depan van hitam itu tak lagi berbentuk. Sementara sebagian lainnya melihat keadaan dua orang yang nyaris merasakan tubuh mereka dihantam dengan dahsyat.

            “Hey, kau baik-baik saja?” pria dewasa yang menarik tubuh pemuda tampan itu,  memeriksa keadaan orang yang ditolongnya. Pemuda itu terlihat begitu terkejut dengan hal yang baru saja menimpa dirinya. Nyatanya, beberapa luka ringan tak mampu dihindari. Namun bukan itu yang menjadi masalah saat ini. Pemuda tampan yang kini tengah terduduk lemas di atas dinginnya aspal jalanan terlihat tengah menahan rasa sakit yang bersarang di dada kirinya. Kerutan di dahi dan kedua tangannya yang mencengkeram dadanya semakin menguatkan asumsi pria itu bahwa pemuda yang ditolongnya kini sedang dalam keadaan yang tidak bisa dibilang baik. Ia yakin, ada sesuatu yang tidak beres dengannya.

            “Na-namaku Cho Donghae, a-ahjussi…” deretan frase yang keluar secara terbata dari mulut pemuda itu sebelum ia kehilangan kesadarannya bersamaan dengan langit yang harus merelakan untuk ke-sekian kalinya, kehilangan sinar matahari sepenuhnya di kaki langit dengan semburat oranye kegelapan.

-o0o-

            Dua orang pemuda tampak tengah duduk bersama di sebuah bangku panjang berlapis cat putih yang tersebar di penjuru salah satu taman bermain yang terletak di kota Seoul. Gumpalan lembut berwarna biru muda terlihat berada dalam genggaman tangan mereka masing-masing. Sebuah panorama yang cukup aneh, memang. Mengingat keduanya bukan lagi anak kecil ataupun sepasang kekasih yang biasanya identik dengan gumpalan lembut yang terasa mans itu. Namun siapa yang peduli? Keduanya hanya ingin merasakan kebahagiaan sederhana untuk hari ini. Meski langit telah berubah menjadi lebih gelap, mereka tak terlihat ingin segera menyudahi hari panjang yang telah mereka lalui bersama. Setelah berhasil membeli permen kapas, tak serta merta keduanya segera melenyapkannya dalam mulut mereka. Changmin memutuskan mengajak Kyuhyun untuk mencoba beberapa wahana permainan yang tersedia di taman bermain itu. Dan Changmin tak pernah melewatkan binar mata milik sahabatnya yang terlihat begitu mempesona. Binar yang selama ini tersembunyi di balik sosok dingin Kyuhyun yang begitu sulit untuk diruntuhkan.

            “Apa sekarang aku sudah boleh memakan ini?” Kyuhyun bersuara pelan. Iris matanya menatap penuh harap pada Changmin di sampingnya. Ya Tuhan, Changmin bersumpah dalam hatinnya. Pipi Kyuhyun akan habis di tangannya lantaran rasa gemas darinya jika ia mengabaikan makna yang tersirat di balik kalimat permintaan yang terdengar sangat sederhana. Namun kenyataannya tak se-sederhana itu. Kalimat permintaan yang keluar dari mulut Kyuhyun kembali menggores hati milik Changmin. Karena pada kenyaatannya, Kyuhyun belum sepenuhnya menyadari keinginan yang berasal dari hatinya sendiri.

            “Bagaimana jika aku bilang tidak boleh?” Kyuhyun sedikit tercengang mendengar jawaban Changmin. Ia menatap kaku wajah Changmin yang kali ini terlihat serius.

            “A-apa?” ujar Kyuhyun masih tak begitu paham apa maksud sahabatnya. “Bukankah kau berkata untuk memakan ini setelah kita selesai dengan wahana permainan?” lanjutnya.

“Ya, jika aku bilang kau tidak boleh memakannya, apa kau tidak akan memakan permen kapas ini?” tatapan Changmin masih sama, seirus namun tersitrat perasaan miris yang bersumber dari hatinya.

            Kyuhyun menundukkan kepalanya setelah Changmin menyelesaikan kalimatnya. Namun sesaat kemudian, ia mengangkat kepaalnya dan memberikan tatapan yang sulit diartikan untuk Changmin. Kyuhyun hanya terus menatap Changmin dalam diam, tak ada satu frase-pun yang terdengar darinya.

            Changmin menghela nafas dalam-dalam sebelum bersuara. “Kyu, dengarkan aku.”

            “Hidup yang kau jalani adalah milikmu. Itu menjadi hak mu untuk menentukan pilihan dalam hidupmu. Tidak selamanya kau harus menuruti permintaan orang lain, Kyu. Jika itu tak sesuai dengan hatimu, jangan lakukan.”

Kyuhyun merasakan hatiya berdenyut nyeri saat indera pendengarannya menangkap deretan kalimat dari sahabat baiknya itu. Ia tahu, yang Changmin maksud adalah hidupnya yang selama ini berada dalam genggaman ayahnya ssendiri. Apakah selama ini dirinya terlihat begitu menyedihkan? Apakah selama ini yang ia lakukan adalah sebuah hal yang tidak benar? Ia hanya ingin menjadi anak yang baik, anak yang berbakti pada orang yang telah membesarkannya. Lagipula, saat terakhir ia berusaha untuk menyudahinya dengan melarikan diri dari kehidupannya, yang terjadi justru ia harus kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya. Peristiwa itulah yang memaksanya untuk menjalani hidupnya seperti itu. Seolah tak ada jalan keluar yang bisa ia tempuh untuk mencapai cahayanya yang telah lama tersembunyi.

Melihat reaksi Kyuhyun, Changmin menjadi merasa bersalah saat menyadari dirinya terlalu tergesa-gesa dalam mengambil langkah. Kau bodoh, Shim Changmin! Ia merutuki dirinya sendiri. bagaimana jika setelah ini sahabatnya itu kembali menarik dirinya?  Bahkan ia baru saja memulainya.

“Min! Changmin-ah!” Changmin merasakan lengan kanannya diguncang oleh seseorang. Membuat fokusnya yang sempat hilang kini kembali menghampirinya.

“Kau melamun?” Kyuhyun bertanya dengan nada heran.

Changmin membuat lengkungan lebar di bibirnya, mengukir senyum canggung. “Y-ya..  Mianhe, Kyu.. hehe.. Jadi, tadi kau bilang apa?” Changmin melempar pertanyaan karena memang ia kehilangan fokusnya setelah Kyuhyun berucap sesuatu padanya.

Kyuhyun menghela nafas sebelum sebelum menjawab pertanyaannya. “Ayo makan permen kapas ini.” Kyuhyun membuka plaastik pembungkus permen kapas biru miliknya. Ia menggerakkan iris matanya ke arah Changmin, takut-takut kembali mendapati sahabatnya itu melamun. Kyuhyun sungguh heran, ia tak mengerti. Seorang Shim Changmin bukanlah seseorang yang melankolis seperti saat ini.

“Tentu, ayo makan ini. Aku jamin kau pasti ketagihan, Kyu..” Changmin berkata dengan semangat. Dalam hati ia bersyukur, semua tadi hanya berada dalam imajinasinya. Ia tak bisa membayangkan jika percakapannya dengan Kyuhyun tadi benar-benar terjadi, maka penyesalan adalah kata yang tepat untuknya.

Kyuhyun mengabaikan kalimat terakhir yang Changmin katakan. Atensinya berkumpul pada segumpal permen kapas berwana biru muda yang terlihat lembut di genggaman tangan kirinya. Perlahan, ia mengambil bagian kecil dari permen kapas itu dan memasukannya ke dalam mulutnya.

Changmin mengamati bagaiamana perubahan wajah Kyuhyun yang terlihat heran dan kagum secara bersamaan. “Hey, apa yang kau rasakan, Kyu?”

“Rasa permen kapas ini sangat manis, dan… Dan ia lenyap begitu saja di lidahku.. Daebak..!” ujar Kyuhyun senang, iris matanya menatap kagum pada permen kapas dalam genggamannya.

“Kau menyukainya?”

Kyuhyun mengangguk ringan. “Kau benar, Changmin-ah! Aku rasa aku akan ketagihan dengan benda manis ini..” Kyuhyun tersenyum kecil sebelum mulai melahap kembali permen kapasnya dengan semangat. Changmin tak begitu mengerti, mengapa ia bisa merasa bahagia hanya mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Kyuhyun. Meski ini adalah sesuatu yang sangat sederhana dan terdengar sepele, tapi ia merasa harus menysukuri hal-hal kecil mulai saat ini. Meski senyuman itu tak luput dari bibirnya, namun jauh disana, di dalam hatinya, Changmin menyadari satu hal. Hidup Kyuhyun –sahabatnya itu benar-benar membuatnya miris. Bahkan hal kecil macam permen kapas bisa membuatnya begitu kagum.

“Kalau begitu, kau harus selalu siap untuk mentraktirku, Kyu..” smirk menyebalkan kini terukir di bibir Changmin.

Mwo?!”

Drrt… Drrt…

Getaran ponsel milik Kyuhyun menginterupsi percakapan yang terjadi diantara keduanya. Changmin yang akan akan menjawab pertanyaan Kyuhyun pun harus rela menelan kembali kata-katanya. Kyuhyun meraih saku celanannya dan menemukan nama ayahnya tertera dengan gamblang di layar ponselnya. Firasatnya mulai berkata bahwa ada suatu hal yang tidak beres. Ayahnya tidak akan menghubunginya jika tidak hal yang cukup penting.

“Nde, abeoji..” Kyuyhyun melirik Changmin di sampingnya saat mendengar seruan ayahnya di line telefon. Ayahnya tampak sangat marah kali ini. ia masih menerka-nerka kesalahan apa yang ia perbuat kali ini?

“Dimana kau sekarang?!” indera pendengaran Changmin bahkan mampu menangkap nada tinggi milik ayah sahabatnya itu meski dengan frekuensi yang samar-samar. Membuat Changmin terkejut mendengarnya.

“Ada sesuatu yang terjadi, abeoji?” Kyuyun bertanya dengan perasaan was-was.

“Temui aku di Seoul Hospital jika kau ingin tahu apa yang terjadi!”

PIP.

Sambungan telefon itu terputus begitu saja, bahkan sebelum Kyhuyun memiliki kesempatan untuk sekedar bertanya. Namun apapun itu, ini bukanlah hal yang menyenangkan. Seoul Hospital? Sedikit banyak Kyuhyun dapat menerka situasi apa yang akan ia hadapi dalam beberapa menit ke depan. Mungkinkah Donghae dalam masalah? Oh tidak, hari ini Kyuhyun mengabaikan tugasnya untuk selalu mengawasi Donghae.

“Apa yang dikatakan oleh ayahmu, Kyu?” Changmin pun mulai khawatir.

Kyuhyun menatap iris mata Changmin intens sebelum menjawab pertanyaannya. “Terimakasih untuk hari ini, Chang… Sebaiknya kau pulang. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan,” ucap Kyuhyun cepat dan datar, sementara tubuhnya tengah bersiap untuk bergegas peergi menginggalkan Changmin.

“Tu-tunggu, Kyuhyun-ah! Yak!!” Changmin baru akan berdiri saat Kyuhyun membawa kakinya untuk berlari begitu saja dari hadapannya. Ia berusaha mengejar langkah Kyuhyun, namun saat siluet tubuh Kyuhyun berada dalam jangkauannya, sebuah taxi telah terlebih dahulu menelan tubuh sahabatnya itu.

Damn it!” Changmin mengumpat kesal. Pasalnya, ia yakin Kyuhyun saat ini sedang tidak dalam keadaan yang bisa dibilang baik-baik saja. Pasti sesuatu tengah terjadi saat ini. Changmin tak bisa tinggal diam, kali ini ia memerintahkan otaknya untuk bekerja lebih keras. Ia berdecak senang saat otaknya berhasil menangkap kepingan memori tentang pembicaraan yang dilakukan oleh Kyuhyun dan ayahnya beberapa saat yang lalu. Meski samar-samar, indera pendengarannya yang tajam berhasil menangkap beberapa frase yang bisa menjadi petunjuknya untuk mengetahui kemana Kyuhyun pergi saat ini.

“Seoul Hospital?”

-o0o-

Dari balik jendala kaca tembus pandang, Park Jungsoo menatap Donghae yang tengah terlelap setelah mendapatkan penanganan pertama dari tim medis Seoul Hospital. Ia benar-benar tak menyangka akan dipertemukan lagi dengan Cho Donghae, kakak dari seorang anak yang begitu disayanginya. Ia pun bertanya-tanya dalam benaknya, bagiamana keadaan anak itu sekarang? Seorang anak yang tak bisa menikmati masa kecilnya dengan normal. Seorang anak yang begitu tegar menghadapi kekejaman ayahnya sendiri. Seorang anak yang begitu ingin ia lindungi, yang ia anggap seperti anak kandung sendiri. Cho Kyuhyun. Apa sekarang kehidupannya sudah semakin membaik? Itu harapannya selama ini. Entah karena alasan apa, sejak kematian Hwang Taejon, posisinya sebagai pemimbing Kyuhyun diberhentikan secara tiba-tiba oleh Tuan Cho.

Jungsoo membalikkan tubuhnya saat indera pendengarannya mendengar derap langkah yang mendekat ke arahnya. Cho Jisoo dan istrinya serta tim medis Seoul Hospital yang terdiri dari dokter dan beberapa perawat yang kini kembali untuk memeriksa keadaan Donghae. Seperti budaya orang Korea pada umumnya, untuk menunjukkan sikap hormatnya, Jungsoo membungkukkan badannya saat matanya bertemu dengan Cho Jisoo.

“Kau Jungsoo, benar?” Jisoo menunjuk Jungsoo dengan jemari telunjuknya. Meski tahun telah berlalu, namun wajah Jungsoo masih berada dalam jangakauan memori otaknya.

Nde, Tuan Cho. Ini aku, Park Jungsoo. Senang bertemu lagi dengan anda.” Jungsoo ternseyum kecil di akhir kalimatnya. “Anda juga, Nyonya Cho..” lanjutnya dengan sopan.

“Terimakasih karena telah menyelamatkan uri Donghae, Jungsoo-ssi..” Cho Hyemi menepuk pelan lengan Jungsoo, menyalurkan rasa terimakasihnya. “Kami tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika kau tak segera membawanya ke rumah sakit.”

Jungsoo membalasnya dengan senyuman ramahnya. “Tak perlu berterimakasih, Nyonya. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama makhluk Tuhan untuk saling peduli terhadap sesama, bukan?” Cho Jisoo masih persisten menatap Jungsoo dalam diam hingga decitan pintu kamar rawat putra sulungnya terbuka. Dua orang perawat berlalu dari sana, sementara sang dokter berhenti sejenak untuk memberikan keterangan.

“Bagaimana keadaan putra kami, uisa-nim?” Cho Hyemi tak bisa menembunyikan rasa khawatir akan keadaan putranya.

“Putra anda baik-baik saja. Ia hanya mengalami schock kardiogenik karena kelainan jantung yang dideritanya. Kami sudah memasukkan pompa balon ke dalam aorta untuk sementara waktu guna meredakan shock yang ia alami. Tak perlu cemas, karena dalam dua jam ke depan, putra anda akan segera sadar.” Dokter membubuhkan senyuman keciil di akhir kalimatnya untuk membuat suasana nyaman pada keluarga Cho.

“Terimakasih banyak, uisa-nim..” Jisoo menjabat tangan sang dokter, mengucapkan terimakasih.

“Sama-sama, Tuan. Kami akan terus memantau keadaannya.” Dokter tersebut berlalu setelah membungkukkan badannya.

Cho Hyemi bergegas memasuki ruang rawat putra kesayangannya, tak sabar ingin memastikan keadaannya dengan mata kepalanya sendiri. Kini tinggal dua pria yang masih bertahan di koridor depan kamar rawat Donghae. Keduanya bertahan dalam kesunyian yang tercpta diantarnya. Jungsoo yang menyadari situasi canggung yang kini melingkupi mereka, berdehem pelan untuk mencairkan suasana.

“Ehm..Tuan Cho, kau tak perlu khawatir. Donghae hanya mengalami schock ringan. Ia akan baik-baik saja.” Tuan Cho mengalihkan tatapannya pada Jungsoo, namun belum satu kalimat pun yang ia keluarkan.

“Oh, bagaimana keadaan Kyuhyun, Tuan Cho? Aku yakin saat ini ia sudah menjadi remaja yang pintar..” raut wajah Jisoo seketika berubah saat mendengar sebuah nama yang sebenarnya selama ini terus menggelayut di pikirannya.

“Jadi, rupanya kau masih mengingatnya..” Jungsoo mengernyitkan alisnya saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Jisoo.

“Apa maksudmu, Tuan?”

“Oh, aku nyaris lupa. Bukankah dia adalah anak yang menyebabkan kematian pamanmu, hmm? Tak heran kalau kau masih mengingatnya.” Cho Jisoo berkata dengan nada meremehkan, berusaha membuat Jungsoo mengingat kembali masa lalunya. Sementara Jungsoo memberikan respon dengan mengepalkan telapak tangannya erat, menyalurkan emosi yang mulai menjalar dalam saraf otaknya.

            “Mengapa anda begitu yakin saat mengucapkan kalimat tersebut, Tuan? Bagaimanapun anak itu adalah darah dagingmu sendiri,” jawab Jungsoo dengan tak kalah meremehkan. “Dan kalau kalau lupa, bukan anak itu yang membuat paman Hwang terbunuh, tapi kau! Apa kau ini pasien alzheimer, hmm?”

            Mendengar jawaban tak terduga dari Jungsoo, membuat Jisoo melebarkan matanya. Ia menatap Jungsoo dengan pandangan tak percaya.

            “Terkejut mendengarnya?” Jungsoo berdecih. “ ‘Bukankah penyebab kematian paman Hwang selama ini sudah aku manipulasi?’ itukah yang saat ini kau pikirkan, Tuan Cho?”

            Cho Jisoo terlihat sedikit gentar saat melihat iris mata Jungsoo. Namun ia segera menyembunyikannya dengan begitu apiknya. “Heh. kau sudah tahu rupanya. Lalu mengapa kau diam saja?” Suasana koridor yang masih ramai tak membuat keduanya ingin menyudahi percakapan mereka. Selama ini, kematian Hwang Taejoon memang tersembunyi dengan apik. Kedudukan dan uang, kedua hal itu mampu menjadikan sebuah kebenaran harus tersembunyi dengan begitu rapinya. Cho Kyuhyun di culik, dan Hwang Taejoon meninggal karena tertembak salah satu pelaku saat mencoba menyelamatkan Tuan Mudanya. Itulah yang tercatat dalam catatan kriminal kepolisian kota Seoul.

            “Apa kau juga lupa bahwa kau menggunakan uang kebanggaanmu itu untuk menutup mulut semua anggota kepolisian terkait dengan  kasus itu?” Jungsoo sebenarnya merasa geram, namun ia harus bisa menahan emosinya karena saat ini mereka tengah berada di depan publik. Ceroboh dan tergesa dalam mengambil tindakan, justru ia yang akan terkena masalah. Karena orang yang tengah berdiri di depannya itu bukanlah orang sembarangan.

            “Oh. Terima kasih telah mengingatkanku, Jungsoo-ssi.” Cho Jisoo semakin melebarkan seringaiannya. Jika tak mengingat posis mereka saat ini tengah berada di rumah sakit, Jungsoo yakin wajah angkuh Cho Jisoo tak akan selamat dari pukulannya yang sarat akan emosi.

            “Karena itu, aku tak menyukai polisi dan tak percaya pada mereka.” Jungsoo menimpali perkataan Cho Jisoo dengan geram.

            “Bukan urusanku untuk mengetahui asumsimu pada kepolisian. Karena saat ini-“

            “Abeoji..!” Sebuah suara yang tak asing di telinga keduanya mampu menghentikan percakapan yang tengah berlangsung secara terpaksa. Kedua pria itu sontak mengalihkan atensi masing-masing pada sosok yang tengah berjalan ke arah mereka. Sosok pemuda yang masih mengenakan ransel kuliah di punggungnya. Meski wajahnya terlihat datar, namun matanya tak mampu berbohong bahwa untuk saat ini, ia tengah merasakan khawatir akan kemungkinan terburuk dari situasi yang akan dihadapainya.

            PLAKK!
Tanpa aba-aba, sebuah tamparan mendarat dengan begitu keras di pipi Kyuhyun begitu ia sampai di depan ayahnya. Membuat wajahnya terhempas dengan keras ke arah kanan dan darah segar keluar dari sudut bibirnya yang robek. Tamparan ayahnya memang selalu memberi hasil yang memuaskan.

            Kejadian itu berlangsung hanya sekain detik, begiu cepat sehingga Jungsoo tak sempat mencegahnya. “Kyuhyun-ah!” Jungsoo bergegas menghampiri Kyuhyun untuk memastikan keadaanya.

            Kyuhyu masih terfokus pada sensasi panas dan perih yang mulai merayap di kulit pipinya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyentuh pipinya yang berdenyut dan menyeka darah yang menyeruak dari sudut kiri bibir miliknya. Sebuah sapu tangan putih tersodor di depannya. Kyuhyun mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang melakukan hal itu. Ia melebarkan kedua iris matanya, mendapati wajah yang selama ini ia rindukan kini berada tepat di depannya. Wajah damai yang sarat akan kasih sayang dari sosok yang selama ini menjaganya bersama paman Hwang-nya.

            “Ju-jungsoo ahjussi?” Kyuhyun masih belum percaya bahwa sosok Jungsoo di depannya itu benar-benar nyata. Bukan sekedar imajinasinya belaka. Namun di sisi lain, hatinya merasa begitu bahagia. Bahagia karena kembali menemukaan sosok yang begitu mengerti dirinya setelah Hwang ahjussi-nya.

            Jungsoo hendak memeluk Kyuhyun saat tiba-tiba seseorang menghalanginya dan berdiri di antara keduanya. “Simpan saja adegan mengharukan kalian untuk nanti. Kau harus kuberi pelajaran, anak kurang ajar!” Cho Jisoo berbalik arah ke putra bungsunya dan akan kembali melayangkan tamparannya untuk kedua kalinya, seolah belum puas akan tamparan keras yang telah ia layangkan sebelumnya. Namun sebelum itu terjadi, tangan Jungsoo menahannya dengan kuat. Berusaha melindungi Kyuhyun yang tak kunjung menunjukkan respon yang berarti.

            “Apa yang anda pikirikan, Tuan Cho?! Apa anda sadar dimana dirimu saat ini? Jangan memancing keributan!” Jungsoo tak selamanya bisa menahan emosinya. Ia rasa Cho Jisoo sudah keterlaluan kali ini. Bagaimana bisa ia diam begitu saja.

            “Kau pikir dirimu ini siapa? Berani-beraninya memberi nasehat padaku?!” Baik Cho Jisoo maupun Park Jungsoo nyatanya sama-sama mulai tersulut emosi. Tak menyadari keadaan Kyuhyun yang terlihat lelah dengan semua yang ia lihat.

            “Abeoji.. Ahjussi.. hentikan.” Suara lirih itu nyatanya berhasil mengalihkan atensi kedua pria yang masih bersitegang dengan emosi yang menjalar di saraf otak mereka.

            “Kau-“

            CKLEK.

            Suara pintu kamar rawat Donghae yang terbuka, memunculkan sosok wanita paruh baya dengan tampilannya yang masih terlihat elegan meski guratan usia telah nampak di wajah ayunya. Setelah memastikan tak ada yang perlu dikhawatirkan dari putra sulungnya, Cho Hyemi memutuskan untuk keluar ruangan lantaran samar-samar ia mendengar suara keributan tepat di depan kamar rawat Donghae.

            Seketika iris matanya melebar saat sosok putra bungsunya terjangkau dalam penglihatannya. Dan perasaan yang selalu muncul tiap ia melihat sosok itu kembali. Perasaan yang sebenarnya ia tak bisa menjelaskan maupun memastikannya. Di satu sisi, ia merasa perasaan semacam rindu yang tak bisa ia ungkapkan karena keputusan yang telah ia buat bersama suaminya. Perasaan rindu yang tak akan pernah bisa ia ungkapkan untuk sosok pemuda tampan yang kini menjadi sosok yang begitu dingin dan tertutup. Terkadang ia merasa ingin menghentikan semua ini, mengulangi semuanya dari awal. Namun ia sadar, hal itu hampir mustahil untuk diwujudkan karena hingga saat ini, mereka telah bertindak terlalu jauh. Maka yang bisa ia lakukan saat ini hanya melanjutkan perannya dan berharap kata ‘penyesalan’ tak menghampiri kehidupannya.

            Namun di sisi lain, sosok Donghae yang rapuh menjadi titik tolak keputusannya untuk bertindak demikian. Karena bagaimanapun, Donghae adalah prioritas utama untuknya. Sebagai seorang ibu sudah seharusnya ia melindungi putranya yang ‘istimewa’ itu. Ia memberikan tanggungjawab itu pada putra bungsunya yang selalu ia anggap kuat, Cho Kyuhyun. Saat mendengar kabar dari pihak rumah sakit tentang peristiwa yang menimpa Donghae sore tadi, tak ada yang dapat ia pikirkan kecuali segala kemungkinan buruk yang mungkin harus ia hadapi. Dan yang terpenting adalah…. dimana Kyuhyun saat itu? Dimana dirinya saat Donghae dalam bahaya?

            PLAK!!

            Kyuhyun harus kembali merasakan gesekan panas yang menerpa pipi kirinya. Namun kali ini berasal dari tangan yang berbeda. Dari tangan yang selalu ia harapkan suatu hari nanti akan memberika sentuhan lembut padanya, meski hanya sekali. Tangan lembut milik ibunya tak lagi lembut saat menyentuh pipinya. Bahkan masih ia ingat dengan jelas, akan rasa sakit yang ia dapat dari luka sebelumnya.

            Kyuhyun menundukkan kepalanya, tangan kirinya ia gunakan untuk menahan rasa nyeri yang bersarang di sudut bibir kirinya.

            “Kau! Dimana dirimu saat kakakmu berada dalam bahaya?! Apa yang membuatmu melupakan kewajibanmu?” Hyem meluapkan emosnya untuk menyembunyikan perasaannya yang membuatnya berada di ambang kebimbangan. “Apa kau belum sadar juga betapa pentingnya menjaga Donghae?!”

            Dalam diamnya, Kyuhyun yang masih menundukkan kepalanya mengukir senyuman sinis untuk dirinya sendiri. Miris. Ibu adan ayahnya selalu mengatakan akan pentingnya menjaga Donghae, pentingnya membuat Donghae terhindar dari bahaya, pentingnya menjaga perasaan Donghae, dan pentingnya untuk tidak membuat Donghae mengalami hal-hal yang berat dalam hidupnya. Segalanya adalah tentang hidup seorang Cho Donghae. Lalu bagaimana dengan hidupnya? Jangan tanyakan itu pada Kyuhyun, karena ia tak merasa memilikinya.

Meski sebelumnya Cho Hyemi merasa terganggu akan keributan yang terjadi di depan ruang rawat Donghae, namun kini justru ia menjadi salah satu sumber keributan itu. Jungsoo kembali membelakakkan matanya melihat Kyuhyun yang terluka untuk kedua kalinya. Bahkan ini belum berselang 5 menit sejak ia menerima tamparan pertamanya.

            “Jangan diam saja seperti bocah bisu..! Jawab pertanyaanku!” Hyemi kembali mendesak Kyuhyun yang masih saja belum menampakkan wajahnya. “Heh. Aku ingin mendengar alasan apa yang akan kau gunakan kali ini.”

            Sakit. Hancur. Hati Kyuhyun terasa tersayat dengan brutal, kemudian disiram dengan air garam.  Baginya, kata-kata yang keluar dari mulut ibu kandungnya sendiri bagai pisau tak kasat mata yang seringkali menyayat hatinya. Perlahan, ia mulai mengangkat wajahnya. Iris mata cokelat madunya kini menatap lurus ke wajah ayu milik ibunya. Menyelami wajah itu dengan ekspresi datar andalannya, yang sampai saat ini masih sulit untuk diartikan.

            “Mianhae”. Kyuhyun mengucapkan permintaan maafnya dengan begitu datar, tak sedikitpun menampakkan emosinya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mempertegas perkatannya.

            “ ‘Maaf’?! ‘Maaf’ kau bilang?!” Kali ini Cho Jisoo angkat bicara. “Kami nyaris kehilangan Donghae dan yang kau katakan hanya kata ‘maaf’?”

            Kyuhyun mengalihkan atensinya pada ayahnya yang juga melontarkan kalimat dengan nada sinis untuknya. Namun ekspresi wajahnya sama sekali tak berubah, datar.

            “Lalu, apa yang harus ia katakan, Tuan Cho yang terhormat?” Jungsoo menimpali kalimat Cho Jisoo. “Bukankah tak ada bedanya jika Kyuhyun mengatakan alasan yang sebenarnya atau tidak? Kau tetap tidak akan mendengarkannya, sekuat apapun Kyuhyun berusaha meyakinkanmu. Karena di matamu, Kyuhyun-lah yang selalu menjadi pihak yang salah..”

-Flashback On-

            Bocah 13 tahun itu duduk di ruangan khusus yang di desain untuk tempatnyan mempelajari berbagai hal yang terasa begitu berat untuk anak se-usianya. Bersama pembimbingnya  -Park Jungsoo, Kyuhyun tiap harinya harus mempelajari hal-hal baru yang tidak lain adalah berkaitan dengan perusahaan. Sejak dini, tuan Cho memang memberikan beban ini padanya, agar kelak ia lebih siap dan matang saat harus terjun ke dunia bisnis yang sesungguhnya.

            Wajah Kyuhyun nampak serius, berkutat dengan berkas-berkas yang dikategorikan dalam beberapa jilid. Sementara Jungsoo dengan telaten memberi arahan padanya. Jungsoo dituntut untuk bisa membuat bocah seusia Kyuhyun memahami apa yang ia sampaikan. Nyatanya Kyuhyun itu anak yang cerdas, jadi selama ini mereka tak mengalami kesulitan yang berarti.

            Namun tidak dengan kondisi psikis bocah itu. Otaknya memang bisa dipaksa untuk bekerja lebih keras dari yang seharusnya, tapi tidak dengan hatinya. Hati kecilnya tak mampu menahan beban seberat itu. Kyuhyun kecil sebenarnya merasakan bagaimana rasa sakit itu mulai menggerogoti hatinya. Namun apa daya? Bocah itu bahkan belum terlalu memahami hatinya sendiri. Yang ia tahu hanyalah jadi anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. Meski itu berarti, dirinya harus berkubang dalam rasa sakit yang lama-kelamaan mampu menenggelamkannya terlalu dalam.

            Cklek.

            Kenop pintu yang terbuka memunculkan sosok Donghae yang membawa nampan berisi minuman segar dan beberapa camilan untuk asupan adiknya dan Park Jungsoo. Dongahe menyunggingkan senyumannya saat melihat raut muka Kyuhyun yang telihat begitu seirus, hingga tak menyadari kehadirannya. Entah mengapa, raut wajah milik adiknya itu terlihat lucu di matanya. Jungsoo yang menyadari keberadaan Donghae, menganggukkan kepalanya ringan dengan senyuman kecil yang tersemat di bibirnya.

            Tuk.

            Donghae meletakkan nampannya di meja belajar Kyuhyun, membuat Kyuhyun mengernyitkan dahinya, heran. Ia mendongakkan kepalanya dan menemukan senyuman kekanakan miliki kakaknya yang ditujukan untuknya.

            “Nae-dongasengie.. Hyung bawakan jus melon kesukaanmu.” Donghae berujar dengan semangat, berharap Kyuhyun meresponnya dengan cara yang sama.

            “Gomawo, hyung. Aku minum nant,” jjawab Kyuhyun datar, iris matanya belum teralih dari file dokumen di tangannya. Donghae menghela nafas berat. Sedikit kecewa dengan reaksi Kyuhyun yang jauh dari ekspektasinya. Namun bukan Donghae namanya jika ia menyerah begitu saja.

            “Oh, ayolah Kyuhyunie.. Hyung membuatnya sendiri kau tahu? Minumlah selagi masih dingin.” Donghae kembali berusaha membujuk adiknya. Sebernarnya tujuan Donghae hanyalah ingin melihat Kyuhyun beristirahat untuk sejenak saja. Karena ia tahu benar, beban yang dilimpahkan pada adiknya itu sangatlah berat, menguras tenaga dan pikiran. Dan anak seusia Kyuhyun yang harus memikul beban tersebut tidak bisa dibilang wajar. Donghae tahu, seharusnya dirinya-ah yang menanggung beban tersebut. Namun karena –ah Donghae selalu ingin membenci dirinya sendiri jika mengingat bahwa secara tidak langsung, penyebab semua ini adalah dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya, kondisi tubuhnya yang tidak bisa diajak berkompromi. Lantas siapa yang patut disalahkan disini? Tidak mungkin ia menyalahkan Tuhan atas apa yang yang terjadi padanya.

            Tangan Kyuhyun yang tengah menuliskan resume materi hari ini dari Jungsoo berhenti seketika saat mendengar permintaan dari Donghae. “Sudah kubilang aku akan meminumnya nanti, hyung.” Kyuhyun bersuara setelah sebelumnya menghela nafas lelah. Ia berusaha keras untuk menahan emosinya utnuk tidak meledak saat ini. Mungkin karena seharian otaknya dijejali dengan berbagai hal yang tidak sama sekali tidak ia inginkan, wajar bila emosinya mudah untuk terpancing bahkan karena hal sepele sekalipun.

            “Setidaknya minumlah sedikit, ne? Biarkan otakmu beristirahat untuk sejenak.” Dongahe menyodorkan gelas berisi jus melon yang terlihat segar, berharap adiknya itu tergoda dan segera meminumnya.

            Sret! PRAAANG!!!

            Baik Donghae maupun Jungsoo sama-sama terkejut dan tak percaya akan reaksi Kyuhyun terjadi dengan sangat tiba-tiba. Sungguh di luar dugaan. Nampaknya Kyuhyun sudah mencapai batasnya hari ini. Dan Donghaae berada dalam situasi dan waktu yang kurang tepat.

            Donghae yang masih terkejut hanya mampu membelakakkan matanya, kemudian menatap miris pada gelas berisi jus melon buatannnya yang kini telah melebur bersama kepingan-kepingan gelas kaca yang hancur berantakan saat menubruk lantai dengan keras. Padahal ia sudah bersusah payah meminta bantuan ahjumma untuk membantunya membuat jus melon spesial untuk adiknya. Namun kini yang terjadi, hatinya seolah ikut hancur bersama dengan pecahan gelas yang berserakan di lantai ruangan khusus itu.

            “Kyu-“

            “SUDAH KU BILANG AKAN KUMINUM NANTI! APA PERKATAANKU KURANG JELAS??!” nampaknya Kyuhyun belum mampu meredam emosinya setelah mberhasil menyalurkannya dengan melempar gelas berisi jus melon buatan Donghae dengan keras. Bocah seusianya memang belum bisa menstabilkan emosinya. Ia akan meledak jika memang hatinya telah lelah untuk tersudut.

            Deg. Deg. Deg.

            Jantung Donghae mulai memberi respon buruk akan suara bernada tinggi yang Kyuhyun lontarkan padanya. Suara yang penuh akan emosi yang memuncak dan rasa lelah yang mendera hatinya. Sementara Jungsoo hendak menghampiri Donghaae saat tiba-tiba pintu ruangan di buka dengan keras dan sosok yang begitu tidak diharapkan menampakkan dirinya. Cho Jisoo.

            “Apa yang terjadi? Ahjumma melaporkan ada suara keributan dari dalam sini.” Jisoo mengedarkan pandangannya dan raut wajahnya mengeras saat melihat panorama yang tersaji di hadapannya. Sementara baik Jungsoo, Kyuhyun maupun Donghae memilih untuk tidak bersuara untuk saat ini.

            “Apa-apaan ini?!” Jisoo menunjuk lantai yang kotor akibat pecahan gelas dan jus melon yang melebur bersamanya. “Siapa yang akan menjelaskannya padaku?” Jisoo berkata dengan nada tajam, namun iris matanya menatap tajam ke arah putra bungsunya, Kyuhyun.

            “Kyuhyun yang melakukannya, appa..” Jungsoo menatap Doghae dengan pandangan tak percaya. Apakah Donghae berniat untuk mengadu pada ayahnya? Yang benar saja..

            “Aku menyuruhnya untuk meminum jus melon buatanku tapi ia justru melemparnya.” Jungsoo semakin tak percaya dengan apa yang didengarnya. Benarkah sosok di depannya itu adalah seorang Cho Donghae?

            “Kubilang aku akan meminumnya nanti. Apa kau tak melihat apa yang sedang aku lakukan?” Kyuhyun pun mulai terpancing emosinya. Tak ada yang mau mengalah. Saling membela diri di depan ayahnya. Baik Kyuhyun maupun Donghae hanyalah anak-anak yang terkadang bisa menjadi sangat emosional. Kyuhyun seorang bocah dengan beban pikiran yang berat, sementara Donghae adalah remaja tanggung dengan sifat kekanakaan yang mendarah daging.

            “Kau pikir aku buta? Tentu aku melihatnya. Aku hanya memintamu untuk meminum jus melon yang aku buat dengan susah payah. Apa itu sesuatu yang berat untuk dilakukan?!” suara Donghae sarat akan emosi yang terpendam. Suatu hal yang tak seharusnya ia lakukan karena bisa membawa dampak buruk pada kinerja jantungnya yang bermasalah. Nafasnya terengah setelah ia berhasil menyelesaikan kalimatnya.

Donghae yang biasanya akan terus berusaha untuk memahami Kyuhyun. Namun kali ini, sifat kekanakannya muncul ke permukaan. Membuatnya menjadi sosok yang berbeda.

“Kalau kau melihatnya, HARUSNYA KAU TAK MENGAGGUKU! APA KAU BELUM MENGERTI JUGA?!” Kyuhyun kalap. Mengeluarkan semua emosinya tepat dihadapan ayahnya.

“Akh-!!” akhirnya, apa yang ditakutkan Jungsoo dari tadi, kini terjadi. Donghae dalam keadaan emosi tinggi adalah hal yang buruk. Apalagi Kyuhyun membentaknya dengan begitu keras. Kemungkinan buruk dalm pikirannya kini menjadi nyata. Donghae meremas dada kirinya dengan erat, membuat pakaiannya kusut. Raut kesakitan tersurat dengan jelas di wajah piasnya.

“Donghae-ya/Tuan Muda!” Jungsoo dan Jisoo bergegas menghampiri tubuh Donghae yang meringkuk di atas dinginnya lantai. Jisoo segera menahan tubuh putra sulungnya dan memberikan instruksi penanganan pertama yang biasa ia lakukan atas saran dokter. Kemudian, iris matanya berubah tajam saat menatap putra bungsunya yang terlihat mematung memandang mereka berdua.

“KAU PUAS SEKARANG?!” Jisoo berujar dengan geram. Sebelah tangannya meraih ponsel dalam saku kemejanya dan men-dial nomor dokter pribadi andalannya.

Yeoboseyeo, Kim uisa.. Lekas datang kemari. Donghae kembali kolaps. Nde. Gamsahamnida.” PIP.

Setelah sambungan terputus, para butler mulai datang dan membawa tubuh Donghae yang masih lemas menuju kamarnya untuk bisa melakukan penanganan dengan nyaman. Kini tinggalah mereka bertiga dalam ruangan dengan atmosfer yang terassa menyesakkan. Sepasang ayah dan anak serta seorang pembimbingnya. Ketiganya masih berlindung pada suasana diam, hingga suara tamparan yang memekakkan telinga memecah keheningan yang terjadi.

“Tuan Cho! Hentikan!” Jungsoo berseru saat melihat gerakan tangan Cho Jisoo yang akan kembali melayangkan tamparannnya pada Kyuhuyun. “Sebaiknya anda dengarkan lebih dulu penjelasan dari Kyuhyun.”

Jisoo mengalihkan atensiya pada Jungsoo yang dengan berani menginterupsinya, dan memberikan tatapan tajamnya. “Bagiku sama saja. Apapun alasannya, ia telah melalaikan tugasnya untuk menjaga Donghae!”

“Dengan rasa hormat, Tuan. Kyuhyun pun sedang melaksanakan tugasnya dengan mempelajari materi tentang investasi untuk hari ini. Apa anda-“

“Cukup, Jungsoo ahjussi.” Kyuhyun maju selangkah hingga kini tubuhnya berada diantara Jungsoo dan Jisoo. Menatap wajah tegas ayahnya dengan tekad bulat yang tesirat di bayang matanya. “Kau bisa menghukumku sekarang.” Lanjut Kyuhyun  seraya menatap iris mata ayahnya dengan penuh keyakinan.

“Mwo?” Jungsoo terkejut denga deretan frase yang dilafalkan dengan begitu jelas oleh Kyuhyun. “Kyuhyun-ah, apa yang kau katakan? Ini semua tidak semerta-merta kesalahanmu..”

“Sebaiknya ahjussi beristirahat saja di rumah. Istri dan anak ahjussi pasti sudah menantimu.” Kyuhyun berkata dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Melupakan memar kecil yang bersarang di pipinya.

“Kyuhyun-ah!!” teriakan Jungsoo menjadi pengantar tubuh Kyuhyun yang ditarik paksa oleh ayahnya menuju ke suatu tempat dimana Kyuhyun harus menerima hukumannya –untuk ke sekian kalinya kali ini.

Flashback Off-

-o0o-

Selepas Jungsoo menyelesaikan perkataannya, keheningan melanda di sebuah koridor rumah sakit Seoul. Ke-empat manusia yang berdiri saling berhadapan itu belum ada satupun yang berniat untuk memberi respon yang berarti.

Mianhae, abeoji. Aku tak akan mengulanginya lagi.” Kyuhun yang pertama memberikan respon, memecah keheningan yang sempat melingkupi mereka. “Jika kata maaf ini tak cukup bagimu, katakanlah. Katakan apa harus aku lakukan untuk bisa membuatku memperbaiki keadaan.”

To Be continued~

Advertisements

6 thoughts on “[Fanfiction] Facade: Chapter 4”

  1. Akhirnya nongol juga setelah sekian lama ilang ☺
    Makin greget dan bikin hela nafas ceritanya 😥
    Donghae ohh donghae .
    Kyuhyun ohh kyuhyun .

  2. Baca nih ff bikin dada sesek bener,dah kyu mending kamu pergi aja dah punya orang tua lengkap kaya raya yp cuma d jadiin boneka.dah perhi ajalah kasihan kamunya hiks hiks

  3. Ya tuhaann…. Selalu begini klo baca ini ff, pasti ngalir 😭😭
    Eon, itu kasian kyuhyun’y… Lg enak2 mkan permen kapas jugaa, kan sediihhh….
    Ini namanya penantian yg indah, nunggu ff eonni itu sesuatu yg seru, hehehe
    FIGHTING buat next’y!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s