[Fanfiction] Facade Chapter 5

facade

Chapter 5

Selepas Jungsoo menyelesaikan perkataannya, keheningan melanda atmosfer di sebuah koridor rumah sakit Seoul. Ke-empat manusia yang berdiri saling berhadapan itu belum ada satupun yang berniat untuk memberi respon yang berarti.

Mianhae, abeoji. Aku tak akan mengulanginya lagi.” Kyuhyun yang pertama memberikan respon, memecah keheningan yang sempat melingkupi mereka. “Jika kata maaf ini tak cukup bagimu, katakanlah. Katakan apa harus aku lakukan untuk bisa membuatku memperbaiki keadaan,” lanjutnya.

“Kyuhyun-ah, jangan selalu menyalahkan dirimu. Kau harus ingat, tidak semua hal buruk yang terjadi itu disebabkan oleh dirimu.” Jungsoo merasa miris melihat Kyuhyun yang sama sekali belum berubah sejak ia meninggalkan bocah itu empat tahun silam. Kyuhyun yang sekarang masih sama seperti dulu, berkepribadian dingin dan menjalani hidup tanpa jiwanya. Selalu menerima apapun yang dilakukan oleh ayahnya pada dirinya, dan menyalahkan diri sendiri jika sesuatu yang buruk menimpa Donghae.

“Tidak ada yang memintamu untuk membela bocah ini, Jungsoo-ssi.” Tukas Cho Jisoo dengan datar. “Biarkan aku meng-“

Drrt.. Drrt…

Getaran ponsel miliknya membuat Cho Jisoo mau tak mau harus menghentikan kalimatnya. “Yeoboseyo?”

“Investor dari Singapura sudah tiba di perusahaan, Tuan.”

Arasseo. Aku akan tiba dalam 10 menit.”

PIP.

“Hati-hati di jalan, yeobo.. Biarkan aku yang menangani bocah ini.” ucap Cho Hyemi saat melepas kepergian suaminya.

Arasseo,” jawab Jisoo singkat, iris matanya persisten mengirim tatapan tajam pada putra bungsunya. Suara benturan sepatu fantofel dengan lantai rumah sakit menjadi nada yang mengiringi sosok Cho Jisoo yang semakin menjauh, meninggalkan tiga orang yang masih bertahan berdiri disana.

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Nyonya Cho. Kyuhyun sama sekali tidak bersalah. Aku yang menolong Donghae, dan aku yang mengetahui kronologi peristiwa tadi sore.”

Ahjussi.. yang menolong Donghae hyung?” Kyuhyun bertanya dengan lirih, ah~ ia baru mengetahui hal itu sekarang.

Jungsoo mengalihkan atensinya pada Kyuhyun yang menatapnya dengan pandangan bertanya. “Ne, Kyu… Ahjussi yang menolong kakakmu. Kebetulan aku berada di tempat penyeberangan yang sama dengannya,” jawab Jungsoo dengan senyuman kecil yang ia sematkan di bibirnya.

“Dan jika anda ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, dengan senang hati akan kukatakan.” Jungsoo mengucapkan itu untuk Cho Hyemi yang persisten menatapnya dengan tatapan tajamnya. Hyemi tidak mengiyakan maupun menolaknya. Karena kenyataannya memang ia belum tahu pasti bagaimana kronologi kecelakaan yang dialami putra sulungnya.

“Sebenarnya, orang-orang di sekitar jalanan sudah memperingati Donghae saat sebuah van hitam melaju dengan tak terkendali dari arah kirinya. Mereka berusaha memberi tahu Donghae untuk tidak menyeberang saat itu. Tapi kebiasaan Donghae yang selalu memakai earphone-­nya membuatnya tak bisa mendengar teriakan peringatan dari mereka.” Jungsoo menangkap sedikit ra­­ut muka terkejut dari wajah Hyemi. “Aku yang saat itu berada di belakangnya dengan segera menarik tubuhnya sebelum van itu berhasil menghantamnya.” Jungsoo mengakhiri penjelasannya. “See? Kyuhyun sama sekali tak bersalah dalam hal ini, Nyonya Cho.”

Hati seorang Cho Hyemi sedikit gentar mendengar kenyataan ini, namun ego dalam hatinya masih terlalu tinggi. “Oh, jadi maksudmu.. ini semua terjadi karena kesalahan Donghae sendiri, begitu?” itu sebuah pertanyaan sarkatis.

“Aku rasa anak sekolah dasar pun tahu jawabannya,” jawaban yang Jungsoo berikan juga tak kalah sarkatis. Dan berhasil membungkam seorang Cho Hyemi yang selalu dibutakan oleh egonya. Ia mendelik tajam ke arah Jungsoo yang masih mengukir senyuman menyebalkan –dimatanya Cho Hyemi.

“Kali ini kau kumaafkan.” Empat kalimat yang keluar dari mulut ibunya membuat Kyuhyun mendongakkan kepalanya, sedkit tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh indera pendengarannya. Benarkah ibu kandungnya mengatakan hal tersebut? Sesuatu yang hampir mustahil, mengingat selama ini seorang Cho Hyemi adalah sosok ibu yang tak akan memaafkan siapapun yang menyakiti putra sulungnya, Donghae. Apapun itu alasannya.

“Tapi kau jangan senang dulu. Karena aku tak mau repot-repot menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu,” kalimat itu tak sepantasnya keluar dari mulut seorang ibu. “Dan yang perlu kau ingat, jika hal seperti kembali terulang, jangan terlalu berharap untuk kembali mendapat perkataan maaf dariku,” tukasnya sebelum berlalu melewati pintu kamar rawat Donghae yang menelan tubuhnya sepenuhnya. Meninggalkan dua sosok di koridor Seoul Hospital yang masih berkutat dengan pikiran masing-masing.

Ah-ahjussi..kau dengar itu?” Kyuhyun memutar pandangannya ke arah Jungsoo, secercah binar muncul di balik iris matanya yang biasanya redup itu. “Eomma mau memaafkanku.”

Jungsoo yang mendengarnya, merasakan sasuatu yang bergetar nyeri dalam hatinya. Entahnlah, hatinya selalu bereaksi hanya dengan mendengar perkataan yang begitu polos keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun. Anak itu terlihat begitu senang hanya dengan mendapat sebuah kalimat yang menunjukkan pemberian maaf dari ibunya. Sesuatu yang begitu asing di kehidupan yang selama ini ia jalani.

Ne, Kyuhyun-ah.. Kau berhak mendapatkannya.” Meskipun kau tak berhak untuk memintanya. Lanjut Jungsoo dalam batinnya. Bibirnya menampilkan senyum meneduhkan. Salah satu hal yang paling Kyuhyun sukai dalam hidupnya, senyuman yang diberikan oleh orang-orang yang menyayanginya.

Dari balik lorong, seorang pemuda jangkung menyaksikan semua itu dalam diam. Namun tidak dengan hatinya. Hatinya tak bisa diam saja saat melihat sahabatnya kembali mendapat guncangan dalam hidupnya. Yang hampir seluruhnya disebabkan oleh keluarganya sendiri. Satu lagi kebenaran yang ia ketahui hari ini, bahwa Jungsoo –pamannya selama ini adalah sosok yang selalu Kyuhyun ceritakan menjadi penjaganya sewaktu ia masih kecil. Bagaimana bisa selama ini dirinya tak menyadarinya?

“Mengapa dunia begitu sempit?”

 

-o0o-

Iris mata karamel milik Jungsoo melirik Kyuhyun yang tengah duduk disampingnya. Mereka berdua memilih duduk di bangku taman Seoul Hospital di bawah guyuran sinar bulan mekanik, lampu-lampu taman yang mengambil alih fungsi sang raja siang. Kyuhyun masih persisten menundukkan kepalanya, menyembunyikan raut wajahnya dari jangkauan mata Park Jungsoo. Pikirannya berkelana pada masa saat dirinya dan Jungsoo masih terjebak dalam peran masing-masing, sebagai seorang murid dan pembimbingnya. Ia tak akan bisa melupakan bagaimana lembutnya seorang Park Jungsoo, sosok yang lebih mengerti dirinya daripada ayah dan ibu kandungnya sendiri. Bagaimana sosok Jungsoo memberikan sesuatu yang selama ini tak bisa ia dapatkan dari keluarganya sendiri, kasih sayang. Dan, bagaimana –peristiwa itu seolah merenggut semua yang ia miliki. Peristiwa dimana orang yang paling mengasihinya –Hwang ahjussi meregang nyawa demi dirinya. Dan saat itu pula, Jungsoo ikut pergi dari hidupnya. Meninggalkannya seorang diri menghadapi kehidupan yang terasa makin sulit saat dua sosok yang begitu menyayanginya pergi meninggalkannya di waktu yang bersamaan.

“Kyuhyun-ah,” Jungsoo membawa tangannya menyentuh pundak Kyuhyun pelan. “Kau baik-baik saja?” ia menundukkan sedikit wajahnya untuk menerka apa yang ada dalam pikiran Kyuhyun melalui raut wajahnya.

Kyuhyun sedikit tersentak akan sentuhan Jungsoo yang berhasil menarik dirinya dari pikirannya yang tengah berkelana, sebelum menolehkan kepalanya dan ia disambut oleh wajah khawatir seorang Park Jungsoo. Dengan memaksakan sebuah senyuman kecil di bibirnya, Kyuhyun menjawab, “Ne, ahjussi. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, aku sudah terbiasa.”

Kyuhyun berpikir bahwa Jungsoo khawatir padanya karena kejadian tadi petang. Namun Jungsoo merasakan hal lain. Jungsoo yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran Kyuhyun, terlepas dari masalah dengan kedua orangtuanya tadi petang. Ada hal lain yang anak itu pikirkan saat ini.

“Kau yakin tidak ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu saat ini?”

Kyuhyun menatap wajah Jungsoo, tepat di kedua iris matanya. Batinnya diliputi keraguan. Apakah ia harus mengungkapkannya pada Jungsoo untuk saat ini? Kyuhyun hanya merasa –takut. Takut bila apa yang ia pikirkan selama ini adalah suatu kebenaran. Takut bila –pada kenyataannya, ia kembali harus menyakiti orang yang disayanginya.

“Apa kau keberatan jika aku mengajukan satu pertanyaan padamu?” Kyuhyun bertanya dengan nada keraguan, membuat guratan tipis tercipta di dahi Jungsoo.

“Hei, kau sudah melakukannya.” Jungsoo menjawab dengan nada menggoda, berharap dirinya bisa menikmati tawa yang akan keluar dari bibir seorang Cho Kyuhyun. Nyatanya, anak itu sama sekali tak menunjukkan tawanya, hanya guratan samar yang tercipta di dahinya. Membuat Jungsoo menghela nafas, sedikit kecewa sebenarnya. Kyuhyun sedang dalam kondisi tak bisa diajak untuk bercanda saat ini.

“Tentu, Kyuhyun-ah. Apa yang ingin kau tanyakan, hmm?” jawab Jungsoo penuh perhatian. Ia menangkap gerakan tubuh Kyuhyun yang terlihat kaku, pertanda bahwa anak itu sedang diliputi rasa gelisah. Antara ragu dan –takut di saat yang bersamaan. Kyuhyun menatap Jungsoo sekilas sebelum mengalihkan pandangannya pada rerumputan di bawah kakinya yang berkilauan karena terpaan sinar lampu taman yang keemasan.

“A-apa yang terjadi saat itu?” masih ambigu, Jungsoo menunggu Kyuhyun melanjutkan kalimatnya. “Ketika Hwang ahjussi meninggalkanku untuk selamanya. Saat itu kau –kau pun turut menghilang dari kehidupanku. Apakah.. apakah kau begitu marah padaku karena aku yang menjadi penyebab Hwang ahjussi harus kehilangan nyawanya?” meskipun Kyuhyun berucap dengan muka datar seperti biasanya, namun ia tak bisa menyembunyikan nada getar di dalamnya.

“Aku tahu, ahjussi. Saat itu kau pasti sangat kecewa padaku, bukan? Mengetahui pamanmu harus merelakan nyawanya hanya demi anak seperti diriku.  Aku tak pantas mendapatkan pengorbanannya. Aku ini-“

“Hentikan kalimatmu disana, Kyu.. Cukup!” Kyuhyun tersentak akan suara Jungsoo yang serupa dengan gertakan. Ia bisa melihat bagaimana kedua mata Jungsoo memerah, menggambarkan betapa pria itu kini berada dalam puncak tertinggi emosinya. Kyuhyun sudah siap untuk menerima apapun yang akan Jungsoo lakukan pada dirinya mengingat betapa ia telah begitu mengecewakannya, bagaimana ia –dengan begitu teganya merenggut nyawa seseorang yang berarti baginya. Ia kembali tersentak saat tubuhnya kini berada dalam rengkuhan hangat seseorang disampingnya. Jungsoo ahjussi memeluknya! Sesuatu yang berada di urutan terakhir dalam daftar kemungkinan yang ia pikirkan sebagai reaksi Jungsoo setelah mendengar kalimatnya. Bahkan secara samar-samar, sebuah isakan halus menyapa indera pendengarannya.

Ahjussi, ada apa denganmu?” raut wajah terkejut dan kebingunngan tercetak dengan jelas di wajah Kyuhyun yang putih pucat.

Ahjussi sudah tahu semuanya, Kyuhyun-ah. Ahjussi tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Hwang ahjussi. Jangan terus-menerus meminta maaf untuk sesuatu yang sama sekali bukan kesalahanmu, Kyu. Ahjussi mohon, jangan lakukan itu. Mulailah untuk memikirkan dirimu sendiri..” Jungsoo mengeluarkan dertan frase ditengah isakannya yang semakin menjadi. Hatinya selalu berdenyut nyeri jika melihat anak yang begitu ia sayangi belum juga keluar dari lubang kegelapan yang selalu mengikutinya. Ia hanya ingin melihat anak itu bisa kembali meraih  kehidupannya, menjalaninya sebagaimana mestinya.

Ah-ahjussi…” Kyuhyun mendengar suaranya sendiri tercekat di tenggorokan. Ia tak bisa berkata apapun saat ini. Hatinya begitu terasa hangat, suatu perasaan yang begitu asing baginya. Suatu perasaan yang telah lama menghilang, yang tak dapat ia ingat dengan pasti kapan terkahir kali ia merasakannya.

Kyuhyun merasakan sentuhan yang begitu halus, sarat akan kasih sayang menyapa kepalanya, menyentuhnya dengan ritme yang tetap. Sebuah sentuhan yang begitu ia harapkan, suatu saat nanti akan ia dapatkan dari ibu kandungnya. Ia menutup kedua kelopak matanya, meresapi kasih sayang yang Jungsoo salurkan melalui belaian tangannya.

“Dengarkan ahjussi.” Jungsoo membawa kedua bahu Kyuhyun untuk menghadapnya. “Mianhae, ne? Saat kematian Hwang ahjussi, aku justru meninggalkamu. Disaat kau membutuhkanku, aku justru hilang dari pandanganmu. Mianhae.” Jungsoo berujar pelan, berusaha membuat Kyuhyun memahaminya. Karena ia tahu, akan sulit untuk membuat Kyuhyun mempercayainya jika selama ini ia hidup dengan pemikirannya sendiri yang tertanam begitu lama dalam benaknya.

“Aku tak merasa kecewa, apalagi marah padamu, Kyuhyun-ah.. Tidak sama sekali. Yang terjadi saat itu adalah, ayahmu, Tuan Cho yang tiba-tiba menghentikanku sebagai pembimbingmu secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dan menggantikanku dengan guru pembimbing yang lain. Saat itu, aku berusaha meminta penjelasan yang masuk akal darinya untuk terus bisa selalu mendampingimu. Namun yang aku dapat hanya kalimat-kalimat sarkatis yang begitu tajam menghujamku..” Jungsoo melirik Kyuhyun dan mendapati anak itu masih memperhatikannya dalam diam.

“Dan setelah itu, salah satu bodyguard suruhan Tuan Cho –“ Jungsoo mengedikkan kedua bahunya. “-yang mungkin masih memiliki hati nurani, memberitahu kebenarannya padaku. Kebenaran yang dimanipulasi dengan begitu mudahnya oleh ayahmu. Tentu, dengan uang dan kekuasaan, apa yang tak bisa ia lakukan?” senyuman sarkatis terukir di bibir Jungsoo, senyuman yang terlihat begitu ironis hanya dengan membayangkan wajah angkuh seorang Cho Jisoo.

“Jika aku harus kecewa dan marah, maka aku akan melakukannya pada ayahmu, Kyu.. bukan pada dirimu. Kau mengerti?” Jungsoo menatap intens kedua iris mata Kyuhyun, menyelaminya dan memberikan keyakinan melalui tatapan matanya.

Dan anggukan kecil yang dilakukan Kyuhyun berhasil membuat dirinya merasa lega, bahagia hanya dengan mengetahui Kyuhyun tak lagi menyalahkan dirinya akan kematian Hwang Taejoon, pamannnya sendiri. Ia kembali membawa tubuh itu dalam pelukannya, erat. Menyalurkan kehangatan dan rasa bahagia yang kini menyelimuti hati dan pikirannya.

So, wanna eat some jjangmyeon with me?”

 

-o0o-

Donghae merasakan hangat sinar mentari pagi menerpa kulit wajahnya. Membuatnya perlahan membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat setelah terpaksa menutup untuk beberapa jam terakhir. Awalnya hanya bayang-bayang abstrak yang menyapa indera penglihatannya, hingga lama-kelamaan bayangan itu bertransformasi menjadi objek yang lebih jelas.

Putih. Sebuah warna yang tak lagi asing baginya. Dengan aroma khas yang menyeruak, menusuk rongga hidungnya dan menyusup menuju saluran pernafasannya. Ia menghela nafas begitu menyadari dirinya harus kembali terbaring di atas ranjang sebuah rumah sakit yang membuatnya selalu merasa kecil dan tak berdaya.

Samar-samar ia mulai mengumpulkan kepingan memori miliknya mengenai peristiwa kemarin sore yang menyebabkan dirinya harus rela berbaring di ranjang pesakitan itu. Ia mengingat wajah seseorang yang menolongnya kala itu. Wajah yang terasa begitu familiar baginya, namun memori otaknya belum mampu mendeskripsikan namanya.

Cklek.

Suara pintu kamar rawatnya membuat ia mengalihkan atensinya. Sosok yang masih memiliki paras cantik meski tak lagi berada dalam usia muda, Cho Hyemi. Ia melangkahkan kakinya dengan senampan sarapan yang sudah pasti miliknya. Wanita itu mengukir senyuman lega kala melihat putranya telah bangun dari tidurnya. Semalam Donghae memang sempat sadar, namun kembali terlelap saat rasa lelahnya mampu mengalahkan tubuhnya.

“Selamat pagi, chagi-ya.. tidurmu nyenyak, hmm?” Cho Hyemi mendudukkan dirinya di sisi ranjang Donghae setelah meletakkan nampan sarapan Donghae di atas nakas. Tangan kanannya terulur, meraba kening putra sulungnya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.

Ne, eomma. Kurasa… aku bisa pulang hari ini?” Donghae menjawab dengan permintaan, menunjukkan wajah penuh harapnya pada sang ibu agar segera mengabulkan permintaannya. Ia tak pernah ingin berlama-lama di tempat yang dipenuhi aroma yang membuat perutnya mual itu. Lagipula, ah! Ia merindukan adik satu-satunya.

“Kau boleh pulang, setelah melewati pemeriksaan dari dokter nanti siang. Arasseo?” Cho Hyemi tersenyum kecil saat menangkap Donghae menekuk wajahnya dengan kekanakan. Ciri khas milik putranya jika ia tak segera mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Ne.. ne…. arasseo..” jawab Donghae dengan menyeret frase yang diucapkannya. “Oh ya, mana Kyuhyun?”

Oh, sepertinya Donghae tak pernah mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian sebelumnya. Mungkin itu bukanlah sebuah pertanyaan yang salah, sama sekali bukan. Namun jika pertanyaan itu kau ajukan pada seorang Cho Hyemi, kau harusnya berpikir berulangkali sebelum berani melontarkannya.

Hyemi seketika menghentikan belaian tangan lembutnya dari kepala Donghae saat putra sulungnya itu menanyakan seseorang yang selama ini membuat hatinya terendam dalam kubangan kebingungan.

Wae, eomma?” Donghae mendongak, menatap wajah Hyemi dengan penuh tanda tanya. “Oh, ayolah… eomma, sampai kapan kau akan terus memperlakukan Kyuhyun seperti ini? Dia juga putra kandungmu yang memerlukan kasih sayang darimu..” Donghae berucap dengan sedikit frustasi. Jengah akan kenyataan yang menimpa adik yang paling ia sayangi. Perasaan heran selalu menghampirinya, bagaimana Kyuhyun bisa bertahan menjalani kehidupannya selama ini?

“Donghae-ya, segera cuci muka dan makan sarapanmu, arasseo?” Donghae menghela nafas saat menyadari ibunya tengah mengalihkan perhatian, memilih untuk menghindari percakapan tentang adiknya. Selalu seperti ini. Seorang Cho Hyemi akan memberikan dua reaksi jika menyangkut putra bungsunya. Pertama, ia akan memberikan penolakannya dengan gamblang, atau memilih untuk mengabaikannya dengan mengalihkan perhatian. Donghae sudah paham akan hal itu, dan ia sadar tak ada yang bisa ia lakukan. Maka dengan langkah pelan, ia beringsut menuruni ranjangnya dan berjalan pelan menuju kamar mandi di ruang rawatnya.

Meninggalkan sosok wanita yang menatap punggung putra sulungnya dengan perasaan yang bahkan ia sendiri tak mampu memahaminya.

 

-o0o-

Changmin memandang Kyuhyun yang duduk tepat disampingnya. Mata kuliah telah usai setengah jam yang lalu sehingga ia memutuskan untuk mengajak sahabatnya itu guna memenuhi tuntutan perutnya di kantin kampus. Makanan dan minuman telah disajikan, namun Kyuhyun terlihat sama sekali belum berniat untuk menyentuhnya. Padahal ia telah menghabiskan hampir seluruh makanan di piringnya. Sementara Kyuhyun, yang anak itu lakukan sejak tadi hanyalah memandang keluar jendela dengan tangan kanan yang menyangga dagunya. Sedikit banyak Changmin paham akan keadaan yang tengah Kyuhyun hadapi, mengingat peristiwa di Seoul Hospital yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Itu bisa menjelaskan semuanya.

Semalam ia telah bertemu dengan pamannya -Park Jungsoo dan menceritakan semua yang ia lihat di Seoul Hospital. Saat itulah mereka berdua menyadari sebuah realita yang secara tak langsung menghubungkan mereka berdua. Cho Kyuhyun. Sosok itu seolah menjadi jembatan penghubung di antara keduanya. Bagaimana selama ini mereka tak menyadari bahwa anak yang dimaksud adalah Kyuhyun mereka, dalam artian orang yang sama. Tak ayal, hal tersebut semakin membulatkan tekad mereka. Bahwa mereka telah bertekad untuk berusaha sebaik mungkin, menarik seorang Cho Kyuhyun dari kegelapan yang selama ini menjadi penghalang baginya untuk meraih cahaya kehidupannya. Meski mereka memahami bahwa jalan yang akan mereka tempuh tak akan bisa semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan membalikkan telapak tanganpun masih memerlukan tenaga dari tubuh manusia. Semua hal tak bisa berjalan dengan sendirinya karena ada sesuatu yang turut andil menggerakannya.

“Ehm.” Changmin berdehem untuk memecah keheningan yang meliputi mereka berdua sejak beberapa saat lalu. “Kyuhyun-ah.. apa kau ada jadwal siang nanti?”

Mendengar namanya disebut, Kyuhyun melirik Changmin, menggeser penglihatannya dari panorama jalan raya yang ia bidik dari balik jendela kaca kantin kampusnya.

Ne, Changmin-ah. Siang nanti aku ada jadwal kunjungan media di Nowon,” balas Kyuhyun setelah melihat agenda miliknya yang ia tulis dalam ponselnya. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Emm, tidak apa-apa Kyu.. Mungkin bisa lain kali saja. Hey, lihat apa yang telah kau lakukan pada makananmu! Kau mengabaikannya! Kau pikir mereka tidak sedih, hmm?” Changmin menutupi rasa kecewanya dengan pura-pura memarahi Kyuhyun. Awalnya, ia berniat mengajak Kyuhyun jalan-jalan, mencari udara segar untuk bisa sejenak melepas beban hidup yang harus ia pikul sendiri. Setidaknya, Changmin berharap hal ini dapat memberikan perkembangan yang baik untuk sahabatnya.

Kyuhyun beralih menatap orange juice dan Beijing fried rice yang tersaji dengan apik di hadapannya. Benar apa yang Changmin katakan, ia baru menyadari bahwa dirinya telah mengabaikan sajian makan siang miliknya yang dipesankan oleh Changmin. Namun, betapa keras ia berusaha untuk memakannya, tetap saja tak ada nafsu makan dalam dirinya yang mampu mendesak keinginannya untuk segera melahap hidangan lezat itu. Kini ia mengalihkan atensinya pada Changmin yang tengah memasang raut wajah –pura-pura marahnya. Kyuhyun bukan lagi anak kecil, tentu saja ia mengetahui dengan pasti bahwa Changmin hanya sedang berpura-pura marah padanya agar ia mau segera melahap sajian makan siangnya. Namun ia tak setega itu untuk mengabaikan sahabat baiknya. Maka dengan berat hati, perlahan jemari itu meraih sendok di atas piringnya yang sedari tadi hanya menjadi pajangan lantaran sama sekali tak disentuh olehnya. Setelah ujung sendoknya terisi oleh butiran fried rice yang berdesakan, Kyuhyun mengarahkannya pada mulutnya, untuk kemudian mengunyahnya secara perlahan.

Getir. Hanya itu yang ia rasakan.

Selalu seperti ini. Tiap kali dirinya harus menerima kenyataan bahwa kakaknya –Donghae harus kembali berbaring di ranjang pesakitan, maka hidupnya seketika menjadi hampa. Apalagi jika hal itu desebabkan oleh dirinya –meski tak disengaja. Meski memiliki sifat kekanakan yang mendarah daging, namun hanya Donghae satu-satunya sosok dalam keluarganya yang mampu memahami dirinya, setidaknya lebih dibandingkan dengan kedua orang tua mereka. Karenanya, Kyuhyun akan merasakan hatinya dilanda kesedihan yang mendalam jika sesuatu yang buruk menimpa kakaknya.

Kyuhyun memaksa dirinya untuk menelan makanannya meski yang ia rasakan justru seolah menelan sebuah duri. Tangan kanannya meraih segelas orange juice yang tak lagi dingin, mengalirkannya pada tenggorokannya yang dipenuhi oleh  beijing fried rice yang biasanya selalu memanjakan lidahnya, tapi tidak untuk kali ini.

Changmin memperhatikan dengan jelas bagaimana sahabatnya itu memaksa driinya untuk menikmati sajian makan siangnya. Sebenarnya ia tak begitu tega melihat wajah itu, namun ia melakukan ini demi kebaikan Kyuhyun. Hidup Kyuhyun sudah berat, anak itu tak mungkin memikirkan apa yang menjadi kebutuhan tubuhnya sendiri. Makan dengan tidak teratur sudah menjadi teman hidupnya, dan jangan lupakan kebiasaan buruknya yang baru ia ketahui akhir-akhir ini. Ah, bemar. Ia harus bisa membawa Kyuhyun untuk berhenti dari kebiasaan buruknya –merokok itu. Meski hingga saat ini ia belum menemukan cara yang tepat untuknya. Changmin hanya tak ingin gegabah –seperti Donghae yang harus berakhir dengan menciptakan jarak tak kasat mata yang semakin melebar diantara mereka berdua.

“Aku sudah selesai.” Ucapan Kyuhyun mampu mengalihkan atensi Changmin yang sedari tadi terus berkutat dengan pikirannya sendiri. Ia melirik piring makan Kyuhyun dan mendapati sajian beijing fried rice milik ssahabatnya yang masih memenuhi setengah dari piring tersebut. Namun ia masih harus bersyukur, setidaknya Kyuhyun tak melewatkan makan siangnya untuk hari ini. Ia tak bisa menjamin Kyuhyun tidak melewatkan makan siangnya jika sedang tak bersama dirinya. Maka saat Kyuhyun bersama dirinya di siang hari, ia harus memastikan sahabatnya itu makan siang dengan baik.

“Baiklah, Kyu. Kau akan langsung berangkat ke Nowon? Perlu kuantar?”

“Ya, aku akan langsung kesana. Tak usah, Changmin-ah. Lee ahjussi akan menjemputku sebentar lagi.” balas Kyuhyun seraya membersihkan mulutnya dengan selembar tisu, kemudian bersiap-siap untuk bergegas meninggalkan kantin.

Arasseo, hati-hati di jalan, ne?” Kyuhyun menanggapinya dengan anggukan kecil di kepalanya.

“Fighting!!” Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, was-was jika para pengunjung disana memberikan tatapan heran pada dirinya dan Changmin, meski hal itu sudah seringkali ia dapatkan jika berdekatan dengan sosok Shim Changmin yang tidak bisa membedakan situasi dan tempat dimana dirinya berada.

Kyuhyun menatap sahabatnya yang masih mengukir senyuman lebar dan kedua tangannya yang diangkat ke atas untuk mempertegas bahwa dirinya tengah memberikan semangat pada Kyuhyun.

Setelah memberikan senyuman kecil di bibirnya, Kyuhyun bergegas membawa langkahnya untuk menuju Lee ahjussi yang mungkin telah menunggunya di depan gebang kampus karena ponsel dalam sakunya terus saja bergetar, menandakan seseorang tengah mencoba menghubunginya.

 

-o0o-

Lee ahjussi melambaikan tangannya pada sosok tuan mudanya yang tengah berlari kecil ke arahnya. “Tuan muda, tak perlu berlarian seperti itu. Kau bisa kelelahan.” Ujar Lee Donghwa sesaat setelah kaki jenjang Kyuhyun berhenti di depannya.

“Aku masih terlalu muda dan sehat untuk itu, ahjussi.” Donghwa terkekeh mendengar jawaban yang Kyuhyun berikan.

“Haha, aku mengerti. Ayo, cepat masuk ke dalam. Kau tahu, ‘Hitler’ kita tak suka dengan kata terlambat.” ucapnya dengan nada menggoda, ditambah dengan kerlingan nakal di matanya –yang sebenarnya sama sekali tak cocok untuk pria seumuran dirinya untuk melakukan hal itu. Di mata Kyuhyun, Lee Donghwa terlihat tak ada bedanya dengan ahjussi-ahjussi mesum di luar sana yang tengah menggoda seorang gadis, tiap kali ia melakukan hal tersebut –mengerling nakal padanya.

Lee Donghwa, lelaki yang memiliki usia hampir sama dengan ayahnya itu menjadi sosok yang berbeda di mata Kyuhyun. Lee ahjussi orang yang unik, tidak sama seperti bodyguard ayahnya yang lain. Tak jarang, saat tengah berdua dengan dirinya Lee ahjussi mengumpat tentang ayahnya –yang tentunya ia lakukan di belakang ayahnya. Menjadi hiburan tersendiri baginya karena ia tak pernah –tak bisa melakukan hal itu. Dan ‘Hitler’ adalah sebuah ‘panggilan sayang’ yang diberikan khusus oleh Lee ahjussi untuk menggantikan nama ayahnya.

Kyuhyun menanggapi ucapan ahjussi-nya dengan senyuman samar di bibirnya sebelum menenggelamkan dirinya dalam audy hitam milik keluarga Cho.

“Tuan Muda, Tuan Hitler menyuruhku untuk memberitahu padamu bahwa hari ini, Tuan Kim Youngwoon juga turut hadir dalam kunjungan di Nowon kali ini.” Lee ahjussi mengungkapkan pesan dari Tuan Cho setelah mulai membuat roda audy hitam itu bergerak di atas jalanan. Melalui kaca spion, iris matanya menatap Kyuhyun yang juga tengah menatapnya, kemudian melihat anak itu menganggukkan kepalanya mengerti.

Ya, Kyuhyun mengerti apa makna dibalik pesan yang disampaikan ayahnya melalui Lee ahjussi. Kim Youngwoon adalah sosok angkuh yang selama ini menjadi musuh besar bagi perusahaan Tuan Cho, meskipun ia merupakan salah satu investor yang cukup berpengaruh di perusahaan milik ayahnya. Namun tak jarang ia mencoba berulah yang bisa menyebabkan perusahaan mengalami kerugian. Maka, ayahnya selalu memberi peringatan padanya tiap kali dirinya harus berhadapan dengan Tuan Kim.

“Aku mengerti, ahjussi. Terimakasih.”

“Sama-sama, Tuan Muda. Oh ya, Tuan Muda Donghae sudah keluar dari Seoul Hospital siang ini. Nampaknya keadaannya sudah membaik sekarang.”

Kyuhyun terdiam mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Lee ahjussi. Menghela nafas lega, karena ia tak harus mendapati kakaknya kembali terbaring berhari-hari di atas ranjang pesakitan. Dalam hati, ia merasa bersyukur pada Tuhan yang telah menolong kakaknya –untuk ke-sekian kalinya dalam kehidupannya.

 

-o0o-

Donghae melewati pintu utama rumah mewah milik keluarga Cho dengan perasaan haru yang tak bisa ia pungkiri. Setiap kali dirinya keluar dari rumah sakit, maka ada sosok ayah dan ibunya yang siap untuk menyambutya kembali dalam rumah. Perasaan hangat itu akan sempurna jika sosok adiknya juga turut hadir menyambutnya. Namun ia tahu, itu adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk terwujud, sama seperti halnya ia mengharapkan salju turun di bulan Juli. Yeah~ kecuali Korea telah mengalami perubahan iklim yang ekstrem.

Kedua sisi bibirnya tertarik saat merasakan pelukan hangat dari tubuh ibunya. Seperti biasanya, pelukan ibunya selalu menjadi hal yang ia rindukan. Hal yang biasa membuatnya merasakan ketenangan dan rasa nyaman yang mendekap tubuhnya. Dalam hati, ia berharap suatu saat Kyuhyun juga akan merasakan pelukan hangat seorang Cho Hyemi –sebelum penyesalan datang menghampiri mereka semua.

“Baru semalam di rumah sakit tapi kau sudah merindukan rumah, hmm?” ucap Hyemi setelah melepaskan pelukan eratnya. Donghae menanggapinya dengan senyuman kekanakannya. Membuat ayah dan ibunya ikut tersenyum bersamanya.

Ne, rasanya seperti seabad, eomma.. Ah~ punggungku ingin segera merasakan tempat tidurku yang super empuk itu!” Donghae berseru dengan semangat, membuat Hyemi tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengacak surai hitam milik Donghae. Dan seketika, sekelebat ingatan terlintas di kepalanya.

 

-Flashback-

Sepasang iris mata cokelat madu yang begitu bulat itu bergerak mengikuti pergerakan seseorang anak kecil yang berusia beberapa tahun di atasnya, kakak kandungnya. Kyuhyun, anak kecil yang baru berusia lima tahun itu menjulurkan lehernya dari balik dinding ruang kerja ibunya, menyembunyikan tubuh gempalnya di balik tembok berwarna putih gading tersebut. Matanya masih setia mengawasi kegiatan kakaknya yang tengah menyerahkan secangkir teh hijau –kesukaan ibunya. Ia bisa melihat bagaimana ibunya itu memberikan senyuman hangatnya pada putra sulungnya, menguraikan untaian terimakasih dan yang paling membuat Kyuhyun merasa iri adalah –bagaimana tangan lembut milik ibunya itu mengusap surai hitam milik kakaknya dengan penuh kasih sayang.

Panorama indah itu membuat otak kecil Kyuhyun mulai bekerja, membentuk sebuah logika. Kyuhyun ingin mendapatkan perlakuan seperti itu. Ia begitu ingin tahu bagaimana rasanya tangan lembut milik ibunya yang akan mengsap surai cokelat gelapnya dengan lembut, atau memeluknya dengan penuh kehangatan. Maka ketika ia melihat kakaknya mendapatkan perlakuan itu dari ibunya setelah memberinya secangkir teh hijau, maka otak kecilnya berasumsi bahwa ia harus melakukan hal yang sama –menyajikan secangkir teh hijau untuk ibunya.

Dengan rasa optimis yang tinggi di hatinya, Kyuhyun melangkahkan kaki-kakinya yang kecil dan pendek menuju dapur. Pupil matanya yang bulat kini berbinar saat menangkap keberadaan Han ahjumma yang terlihat tengah membersihkan counter dapur.

Ahjumma..!” mendengar seruan yang terdengar cempreng khas tuan muda kecilnya, Han ahjumma menghentikan kegiatannya dan berbalik untuk menyambut Kyuhyun. Anak itu berlari dengan begitu semangat, membuat anak rambutnya yang ikal ikut bergoyang dan hal itu membuatnya begitu menggemaskan.

Han ahjumma berjongkok, kedua tangannya merentang lebar-lebar siap untuk menangkap tubuh gempal yang menggemaskan itu. Dan.. hap! Tubuhnya nyaris terhuyung ke belakang saat tuan muda kecilnya itu dengan begitu saja menjatuhkan tubuh gempalnya dengan semangat dalam pelukannya. Dan ia tak bisa menolaknya. Dengan segera ia mendekap Kyuhyun dengan gemas, memeluknya dengan erat. Ia selalu suka saat Kyuhyun menjatuhkan diri dalam pelukannya karena tubuh gempal itu sangatlah nyaman untuk dipeluk. Rasanya seperti memeluk sebuah boneka.

“Ugh, ahjumma.. cudah, lepas Kyu..” angannya kembali pada realita saat mendengar keluhan menggemaskan itu. Han ahjumma yang baru menyadari hal itu dengan segera melepaskan dekapan eratnya pada Kyuhyun dan memberikan senyuman hangatnya.

Mianhe, ne? Habisnya Kyuhyunie seperti boneka. Hehee..” jawabnya yang disambut wajah cemberut milik Kyuhyun. Kedua alis tebalnya menyatu, berusaha membuat wajahnya terlihat menyeramkan. Sementara matanya menyipit, berusaha mengirim tatapan mengintimidasi. Namun yang tertangkap dalam penglihatan Han ahjumma adalah wajah Kyuhyun yang sedang marah itu justru semakin meyulut keinginannya untuk mencubit pipi gembul itu dengan gemas.

Arasseo, arasseo.. jadi, ada apa Kyuhyunie menemui ahjumma di dapur, hmm? Apa dia lapar?” tanya Han ahjumma seraya menepuk perut Kyuhyun dengan pelan. Kyuhyun menyudahi kegiatan memasang wajah ‘menyeramkan’nya dan memandangi perutnya dengan raut wajah berpikir, seolah dirinya berpikir keras untuk dapat mengetahui eksistensi rasa lapar yang bersarang di perutnya. Dan sesaat kemudian, ia menggelengkan kepalanya setelah ia berhasil mengingat tujuan awalnya menemui Han ahjumma.

Ani, ahjumma. Dia tidak lapal. Tapi Kyu ingin minta ahjumma untuk membantu Kyu membuat teh hijau untuk eomma.” Han ahjumma sedikit heran dengan permintaan Kyuhyun.

“Teh hijau? Bukankah tadi tuan muda Donghae sudah memberikannya pada Nyonya Cho? Tadi tuan muda juga kesini untuk meminta ahjumma membuatkan teh hijau.” Kerutan di dahi Han ahjumma semakin jelas kala melihat Kyuhyun justru menangguk dengan semangat.

Ne, ahjumma. Tadi Kyu cendili yang melihatnya.”

“Lalu kenapa Kyu ingin membuatnya lagi?” wanita paruh baya itu tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Kyu ingin eomma juga memeluk Kyu dan mengucap (mengusap) lambut Kyu cepelti Donghae hyung. Eomma melakukannya kalena Donghae hyung membeli (memberi) eomma teh hijau, ahjumma.” Pernyataan polos yang keluar dari bibir mungil Kyuhyun mau tak mau membuat Han ahjumma terenyuh mendengarnya. Rangkaian kalimat itu cukup untuk menggambarkan bagaimana tuan muda kecilnya itu begitu rindu akan belaian ibunya.

Arasseo. Kyu tunggu sebentar ne, biar ahjumma buatkan untukmu.” Akhirnya Han ahjumma memutuskan untuk memenuhi permintaan Kyuhyun. Meski tak bisa bisa dipungkiri, hatinya bergetar nyeri melihat bagaimana raut wajah polos milik Kyuhyun begitu gembira menantinya membuat secangkir teh hijau untuk ibunya. Dalam benaknya, ia berdoa, berharap Nyonya Cho memahami apa yang anak bungsunya inginkan.

Setelah putaran adukan yang terakhir, Han ahjumma meletakkan cangkir berisi cairan berupa teh hijau itu di atas cawan sebelum menyerahkannya pada Kyuhyun.

“Mau ahjumma bantu bawakan?”

Kyuhyun menggeleng dengan semangat. “Ani, ahjumma. Kyu bica bawa cendili..!” jawabnya dengan binar yang semakin terlihat di matanya. “Gomawo, ahjumma.” Serunya nyaring sebelum membawa kaki kecilnya melangkah menuju ruang kerja milik eomma-nya.

Meski dengan tangan gemetar, tak menyurutkan langkah Kyuhyun untuk segera memberi secangkir teh hijau itu untuk eomma-nya. Senyuman itu tak pernah lepas dari wajahnya. Maka setelah kakinya memasuki ruangan itu, mata Kyuhyun menangkap punggung milik ibunya yang tengah duduk di kursinya. Dengan langkah pelan, Kyuhyun mencoba mengikis jarak di antara mereka.

Eomma..” panggil Kyuhyun dengan suara pelan, takut-takut membuat ibunya terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba.

Hyemi menghentikan kegiatannya yang tengah merancang desain untuk gaun pernikahan seorang pejabat yang berpengaruh di Seoul kala itu. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati putra bungsunya tengah berdiri kikuk dengan kedua tangan yang memegang secangkir teh hijau dengan gemetar. Membuat kerutan sama tercipta di dahinya.

“Apa yang kau bawa itu, Kyu?”

Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan memberikan tatapan bangga pada ibunya. Seolah dirinya telah berhasil melakukan hal yang besar. “Kyu membawa teh hijau untuk eomma. Eomma cuka?” tanyanya dengan nada penuh harap yang terselip di baliknya.

Hyemi merasakan kehangatan itu mulai menyusup dalam hatinya. Putra bungsunya yang baru berusia lima tahun, begitu mengerti hal apa yang ia sukai.

Ne, tapi Donghae sudah memberikannya pada eomma tadi.” Jawabnya seraya menunjuk secangkir teh hijau yang tinggal separuh di atas nakas. Entah mengapa justru hal itu yang keluar dari mulutnya. Bukan untaian terimakaasih seperti yang biasa ia ungkapkan pada Donghae jika ia melakukan hal semacam ini.

Kyuhyun mengangguk semangat. “Ne, Kyu juga ingin membeli eomma teh hijau.” Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju nakas, dan meletakkan cangkirnya berdampingan denga milik kakaknya, meski sedikit tumpah karena hentakan yang tidak stabil. Namun Kyuhyun cukup puas akan hasil kerjanya. Ia memberikan senyum tulus pada ibunya dan membawa tubuhnya berhadapan dengannya, menanti untaian kalimat dan belaian penuh kasih sayang dari tangan lembut ibunya.

Namun waktu berlalu, hanya keheningan yang mengisi atmosfer di sekelilingnya.. Kyuhyun sama sekali tak menangkap deretan frase terimakasih dari bibir ibunya maupun belaian yang menyapa puncak kepalanya, membuatnya merasa heran. Dan saat ia mendongakkan kepalanya, justru raut wajah kaku milik ibunya yang tertangkap oleh indera penglihatannya.

Eomma tidak mengucap lambut Kyu?” Kyuhyun menampakkan wajah bingungnya. Yang juga membuahkan raut wajah sama tercipta di paras ayu ibunya.

M-mwo?” Hyemi terkejut dengan pertanyaan yang Kyuhyun ajukan padanya.

“Tadi Kyu lihat eomma mengucap lambut Donghae hyung cetelah hyung membeli eomma teh hijau?”

Deg. Hati Hyemi seolah tergores oleh pisau tak kasat mata saat mendengar pertanyaan yang berhasil menyentak nuraninya. Putra bungsunya yang polos itu.. berhasil menariknya dari rasa terkejutnya. Benar. Apa yang salah sebenarnya? Mengapa ia bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya pada putra sulungnya, sementara untuk Kyuhyun? Seolah ada pembatas abstrak yang membuat dirinya tak begitu memahami hatinya sendiri. Lagipula, bukankah dirinya yang memutuskan untuk memulai semua ini?

“Em.. Sebaiknya Kyu istirahat di kamar, ne? Lihat. Sudah jam 9 malam. Apa Kyu tidak mengantuk, hmm?” Hyemi belum siap untuk memberikan tindakan seperti apa yang akan ia ambil, hingga ia memutuskan untuk kembali membuat jarak itu semakin nyata di antara keduanya. Dapat ia rasakan, bagaimana iris mata Kyuhyun yang tadinya berbinar dengan penuh harap kini seketika meredup dan raut wajah kecewa yang tak bisa anak itu sembunyikan. Namun, dirinya terlalu canggung untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.

Kyuhyun menundukkan kepalanya begitu mendengar jawaban yang dilontarkan oleh ibunya. Jemarinya saling meremat untuk menyalurkan rasa kecewa yang mulai merayap dalam hatinya.

Alacceo (arasseo), eomma.” Sedikit demi sedikit, Kyuhyun memutar tubuhnya untuk berlalu dari ruangan itu dengan menelan kekecewaan –untuk kesekian kalinya. Langkah kakinya tak lagi semangat, hanya langkah kaki lunglai yang tersisa darinya. Menandakan tak ada lagi semangat yang ia bawa sebelum memasuki ruang kerja milik ibunya.

Meninggalkan sosok wanita yang masih berdiam dalam duduknya dengan raut wajah pias dan rasa bersalah yang mulai memeluknya.

 

-Flashback End-

 

Eomma.. neo gwenchana?” Hyemi tertarik dari dimensinya saat merasakan bahunya yang diguncang pelan oleh Donghae. Ia menatap wajah Donghae dengan intens, dan raut wajah Kyuhyun yang kecewa justru hadir dalam pandangannya. Ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir sosok itu dalam benaknya.

Ne, eomma baik-baik saja, Hae-ya.. Kajja, sebaiknya kau istirahat di kamar. Akan eomma panggil saat makan malam nanti.” Meski masih diliputi perasaan heran, Donghae menurut saat ibunya membimbing tubuhnya untuk berjalan menuju kamarnya.

Setelah memastikan putra sulungnya baik-baik saja, Hyemi beranjak dari sana dan menemui suaminya yang tengah mendudukkan dirinya di atas sofa maroon dan menikmati tayangan berita nasional di layar kaca.

Ia menempatkan dirinya di samping Cho Jisoo, membuat pria itu merangkulkan tangan kirinnya yang bebas dan meraih bahu kecil istrinya. “Ada yang mengganggu pikiranmu, hmm?”

Hyemi menggeleng kecil. “Aniya, yeobo. Hanya sepertinya aku kurang istirahat akhir-akhir ini.”

“Kau yakin?” pertanyaan dari suaminya membuat Hyemi kembali teringat akan wajah Kyuhyun kecilnya.

“Sepertinya. Selama ini, aku hanya merasa bawa aku telah melakukan hal benar dengan memberi kasih sayang penuh pada putra sulung kita. Namun di sisi lain sebuah realita menamparku, mengingatkan bahwa aku telah menempuh jalan yang –keliru. Menyadarkanku bahwa ada sosok lain yang membutuhkan kasih sayang dariku.”

“Apa yang kau katakan? Kau sudah melakukan hal benar, yeobo. Kita memberikan didikan keras pada Kyuhyun demi masa depannya. Ia harus menjadi sosok yang kuat dan tak mudah gentar dengan kerasnya kehidupan yang menantinya.”

Hyemi menghela nafas dalam-dalam. Jawaban semacam itulah yang sebenarnya selalu mengusik nuraninya. Benarkah apa yang dikatakan suaminya itu? Benarkah mereka telah mengambil jalan yang benar? Karena sebenarnya yang ia raskaan justru sebaliknya.

 

-o0o-

Kyuhyun menatap kosong pada batang rokok yang masih mengeluarkan asap putihnya. Mencoba melepas penat dan beban yang tertimbun di pundaknya hari ini. Hasil kunjungannya di Nowon mau tak mau menguras tenaga dan pikirannya. Ia dituntut untuk selalu berhasil dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam setiap strategi yang akan dilakukan demi perkembangan perusahaan yang bergerak di bidang media tersebut. Beberapa stasiun televisi, radio, surat kabar serta portal online berada di bawah naungan Cho Group yang merupakan perusahaan konglomerasi. Beberapa pusat perbelanjaan, infrastruktur, instansi medis serta yayasan amal juga turut menjadi bagian Cho Group. Dan Kyuhyun, di usianya yang masih begitu muda harus mampu memimpin seluruh instansi yang berada dalam payung hukum Cho Group tersebut.

Tok. Tok. Tok.

“Tuan Muda, waktunya makan malam.” Suara salah satu maid di keluarganya membuat Kyuhyun harus menyudahi kegiatan merokoknya. Ia menyimpan putung rokoknya di sebuah tempat yang tersembunyi, yang tidak terjangkau oleh siapapun termasuk para maid yang silih berganti membersihkan kamarnya. Selesai membereskan rokoknya, Kyuhyun beranjak dari kamarnya untuk kemudian menapaki satu persatu sanak tangga yang mengantarkannya menuju ruang makan keluarga. Disana, terlihat seluruh anggota keluarganya telah berkumpul, bersiap menikmati hidangan makan malam yang terlihat menggoda lidah.

“Hey, Kyuhyun-ah! Kemari. Kami sudah menunggumu.” Seru Donghae ketika mendapati adiknya tengah melangkahkan kakinya mendekati mereka. Kyuhyun tak memberi respon yang berarti, hanya terus melangkahkan kakinya dan duduk di samping Donghae, tempatnya yang biasa.

“Bagaimana keadaanmu, hyung?”

“Seperti yang kau lihat, Kyu. Hyung sangat sehat sekarang.” Jawab Donghae dengan tulus. Kendati demikian, Donghae merasakan hatinya tak tenang. Mengapa Kyuhyun menanyakan hal itu sekarang? Bisa-bisa ayahnya akan mengungkit peristiwa yang menimpanya kemarin petang. Sementara Kyuhyun menanggapinya dengan memberikan anggukan paham.

“Aku belum mendengar alasanmu melalaikan kewajibanmu untuk menjaga Donghae kemarin, Kyuhyun.” suara bernada rendah milik kepala keluarga Cho mampu mengalihkan seluruh atensi manusia yang berada di sana. Cho Jisoo menyalurkan tatapan tajamnya pada salah satu sosok disana. Menyalurkan emosinya yang tiba-tiba merambat di pembuluh darahnya kala melihat sosok anak bungsunya. Sosok yang paling yang paling muda diantara mereka, yang kini menatap ayahnya dengan wajahnya yang minim ekspresi.

Cho Hyemi, sosok ibu di keluarga itu bertahan dalam diamnya, yang sejujurnya telah mengerti akan kebenaran yang terjadi kemarin petang. Namun ia lebih memilih untuk bersembunyi di balik rasa acuh tak acuhnya, biarkan Kyuhyun menyelesaikannya sendiri, pikirnya.

Appa.. sudahlah, yang terpenting sekarang aku sudah baik-baik saja, kan?” Donghae menyela sebelum Kyuhyun sempat mengeluarkan jawabannya. Ia hanya tidak ingin Kyuhyun kembali disalahkan atas apa yang sebenarnya tidak ia lakukan.

“Tidak bisa, Donghae-ya. Kali ini appa ingin mendengar alasan apa yang akan ia gunakan kali ini.” Tuan Cho tetap pada pendiriannya, gemuruh dalam hatinya belum akan padam sebelum ia mendengar apa yang ia inginkan.

Di bawah meja, kedua tangan Kyuhyun mulai mengepal erat menahan gejolak emosi yang terlalu lama terpendam. Indera pendengarannya menangkap hembusan nafas Donghae yang sarat akan rasa jengah. Ia terkejut saat sesuatu menggenggam erat tangan kanannya, seolah ingin menyalurkan kekuatan melalui hamparan kulit mereka yang saling bergesekan. Iris matanya melirik Donghae yang kini menatap sang ayah dengan raut wajah penuh keyakinan, namun juga sarat akan emosi yang terpendam.

“Bisakah sekali saja, appa tidak melimpahkan kesalahan pada Kyuhyun atas apa yang terjadi padaku?” Cho Jisoo dan Hyemi menatap Donghae antara terkejut dan tak percaya di saat yang bersamaan.

“Tolong dengarkan aku, appa.” Donghae berusaha untuk tetap menerapkan kata sopan santun pada orang tua mereka, meski itu berarti ia harus menekan emosinya dalam-dalam. Meski ia kemungkinan terburuk yang akan dihadapi ialah jantungnya yang akan kembali bermasalah. “Aku sudah dewasa. Aku rasa tak perlu lagi menempatkan Kyuhyun untuk senantiasa menjagaku,” lanjutnya. Genggaman tangannya pada Kyuhyun semakin erat –selain menyalurkan kekuatannya pada Kyuhyun, ia juga tengah berusaha mencari kekuatan untuk dirinya sendiri.

“Lagipula, aku menyadarinya, appa. Yang terjadi kemarin adalah sepenuhnya kesalahanku.” Donghae melirik Kyuhyun sekilas, untuk memberi keyakinan bahwa ia akan baik-baik saja. Sementara adiknya itu masih persisten dalam diamnya, meski iris matanya bergetar gelisah.

“Apa maksudmu, Donghae-ya? Jelas-jelas anak ini lebih mementingkan urusannya daripada kewajibannya untuk menjagamu!” Jisoo mulai tersulut emosinya yang memuncak, menjalar ke saraf otaknya. Gurat-gurat kemarahan terbias di wajah tegasnya.

Donghae menggelengkan kepalanya, sedikit mengukir senyuman sarkatisnya. Hanya untuk menunjukkan betapa dirinya merasa prihatin akan sifat ayahnya. “Mementingkan urusan daripada kewajiban? Apa kau sadar bahwa kalimat itu lebih tepat kau tujukan untuk dirimu sendiri, appa?”

Kerutan semerta-merta tercipta di dahi Cho Jisoo, juga Hyemi yang kini mendapati wajahnya semakin pias. Deretan frase yang tercipta dari bibir Donghae mau taku mau menyentak nuraninya yang selama ini penuh dengan perasaan abstrak yang sejujurnya selalu membuatnya tak bisa merasakan ketenangan.

Hyung, kau-’’

“Ssh.. biar kali ini hyung yang menyelesaikan, arasseo?” Donghae menginterupsi kalimat Kyuhyun bahkan sebelum anak itu berhasil menyelesaikannya. Tatapannya tetap tak teralihkan dari wajah ayahnya yang kian mengeras. Ia hanya ingin, untuk kali ini saja dirinya bisa melindungi Kyuhyun, adik satu-satunya yang begitu ia sayangi. Ia tak ingin menjadi sosok yang lemah di mata mereka.

“Apa maksudmu, Donghae-ya?” suara ayahnya kian rendah, dan juga dingin.

“Sudah kuduga.” Donghae terkekeh sejenak. “Kau tak akan paham dengan apa yang aku katakan, appa,lanjutnya. Yang membuat kedua kelopak mata Cho Jisoo membuka semakin lebar, seolah dirinya baru saja mendengar kabar yang begitu mengejutkan. Ia hanya tak menyangka, bagaimana bisa putra sulungnya bersikap seperti itu padanya?

Appa pikir kau masih ingat bahwa seorang Cho harus selau bisa menjaga tata kramanya,” ujar Jisoo dengan geram.

“Tata krama? Apa aku harus tetap memakainya untuk orang yang lebih mementingkan urusan daripada kewajibannya?”

“Donghae-ya..” lirihan lembut milik Hyemi membuat Donghae mengalihkan atensinya pada ibunya, tersenyum singkat sebelum melanjutkan kalimatnya pada sang ayah.

“Selama ini appa selalu mementingkan urusan appa sendiri. Memikirkan bagaimana masa depan perusahaan yang kau pimpin, demi keluarga kau bilang. Tapi apakah pernah terlintas di benakmu bahwa selama ini secara tak sadar kau juga telah mengabaikan kewajibanmu, appa? Kewajiban untuk memberi kasih sayang pada semua putramu, menjaganya dan memberinya bimbingan untuk menghadapi kehidupan. Apa sekarang kau mengerti, appa?” Nafas Donghae terengah setelah menyelesaikan seluruh kalimatnya. Mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam dalam hatinya.

Raut wajah Jisoo semakin mengeras hingga tercipta guratan urat kemarahan di pelipisnya, mendapati kenyataan bahwa kini putra sulungnya sendiri mulai berani menentangnya. “Siapa yang mengajarkanmu bersikap kurang ajar pada ayahmu sendiri, hmm?”

“Mulai saat ini, biarkan aku untuk ikut menangani urusan perusahaan, appa.” Donghae tak memberi respon pada ucapan ayahnya sebelumnya. Dirinya justru menyuarakan sebuah keinginan yang selama ini menggelayut dalam benaknya. “Aku bisa belajar tentang bisnis mulai saat ini. Carikan pembimbing profesional untukku, aku akan belajar keras untuk itu,” lanjut Donghae dengan mata yang penuh dengan keyakinan.

“Donghae-ya, apa kau tahu jika-“

“Jika aku manusia yang lemah?!” Donghae terkekeh sinis saat menginterupsi kalimat yang keluar dari sosok ibunya yang akhirnya membuka suaranya.

“Bukan itu maksud kami, Hae-ya. Kau tahu, menangani urusan perusahaan bukanlah sesuatu yang mudah.” Cho Hyemi berujar dengan kelembutannya, berharap bisa menembus jalan pikiran Donghae agar memahami apa yang sampaikan.

“Hyung..” lirihan yang berasal dari sosok di sampingnya membuat Donghae menolehkan kepalanya, matanya masih merah lantaran menahan emosi yang membuncah. Kendati demikian, genggaman tangannya pada Kyuhyun tak juga memudar.

“Kalian pikir aku tidak tahu bahwa keputusan untuk terjun mengurus perusahaan bukanlah sesuatu yang berat? Aku tahu, appa.. Aku sangat mengerti konsekuensi yang akan mengikuti langkahku.” Tiap frase yang tergurat darinya begitu meyakinkan. Donghae ingin menjadi sosok hyung yang bisa melindungi adiknya, tak hanya sembunyi di balik punggung rapuh milik adiknya seperti yang selama ini ia lakukan.

“Jika kau mengerti, mengapa kau berpikir seperti itu? Kau tahu jika dirimu-“

BRAK!!

“YA! AKU MEMANG LEMAH! Apa kalian puas?!!” nafas Donghae berderu kencang setelah berhasil meluapkan emosinya. Kedua telapak tangannya terpaku di permukaan meja kayu yang menjadi objek pelampiasan amarahnya. Beberapa makanan terlontar dari tempatnya. Kuah dan minuman berceceran membasahi permukaan meja kayu tersebut. Ketiga pasang mata di ruang makan mewah itu tampak terkejut, sama sekali tak menduga bahwa Donghae akan ‘meledak’ di depan mereka. Sepertinya ia telah mencapai batasnya. Donghae segera membawa kedua kakinya beranjak menuju kamarnya, melesat dengan kepala penuh dengan semosi. Juga setumpuk amarah yang ia bawa dalam rongga dadanya.

“Cho Donghae! Dimana letak sopan santunmu?!!” Cho Jisoo menyerah, untuk pertama kalinya ia meluapkan emosinya yang mencapai puncaknya pada putra sulungnya. Sesuatu yang hampir mustahil terjadi, mengingat betapa ia begitu menjaga keadaan Donghae selama ini. Sementara Hyemi menatap Donghae dengan raut wajah penuh kekhawatiran, mengingat Donghae baru saja berhasil keluar dari rumah sakit siang tadi.

Seruan keras Jisoo bagai angin lalu, karena sosok Donghae telah terlebih dulu lenyap dari jangkauan pandangan mereka. Yang tersisa adalah tiga sosok manusia disana yang bertahan dalam pikiran masing-masing, hingga suara putra sulung keluarga Cho yang menggema di penjuru ruangan menyapa indera pendengaran mereka.

“AARRGH..!”

Brak! Brak!

 

To Be Continued~

Terimakasih bagi yang sudah mau menunggu kelanjutan story ini.. Duh kayaknya aku telat update ini yak xD

Well, what’s on your mind? Just say it on the review box! Thanks you, everyone! X)

P.S : Bagi yang ingin ngobrol lebih dekat, Add Facebook : Lathief Al-Munawaroh aja yah, feel free to be friend.. x)

With Love, LittleEvil19

Advertisements

4 thoughts on “[Fanfiction] Facade Chapter 5”

  1. Jadi mewek kan 😭
    Pengennya sehh Kyuhyun kenapa kenapa gitu biar mak bapaknya nyesel tapi bukan karna donghae .
    Soalnya masih kecewa sama tingkah donghae kecil 😡

  2. well aku selalu mewek baca ff ini, apa lg kalau bagian flashback pas kecil
    kyu sepolos itu dengan tindakan sederhananya palah bikin nyesek

  3. Sekali kali si kyu brontak kek biar orang tuanya nyesel,klo cuma nurut trus yg ada makin di injek sm mreka.hah baper nih mls jga sm sifat nya si kyu yg gk berani ngambil resiko buat hidupnya.

  4. Nangis lagi, nangis lagi…. Duh eooonnn kapan itu bapake mamake sadar klo kyu juga pengen disayang???
    Eon dabes!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s