[Fanfiction] Facade : Chapter 6 (Special Update On Kyuhyun Enlistment Day)

facade

Chapter 6

Suara teriakan putra sulung keluarga Cho menggema di penjuru kediaman mereka, menyapa indera pendengaran ketiga orang di ruang makan dan berhasil menginterupsi pikiran mereka masing-masing. Berbagai spekulasi mulai muncul di kepala mereka. Apa yang terjadi pada Donghae? Tak ayal, kemungkinan buruk-lah yang pertama kali muncul di otak mereka bertiga mengingat keadaan Donghae yang memang seringkali tak stabil jika ia meluapkan emosinya. Itu sama sekali bukan hal yang bisa dianggap remeh.

Cho Jisoo adalah sosok yang pertama kali membawa langkah panjangnya untuk menjangkau keadaan putra sulungnya. Dengan berbagai kemungkinan buruk yang berdesakan di otaknya, ia melesat meniti anak tangga secepat yang ia mampu. Sementara Hyemi dan Kyuhyun bergegas menyusul Jisoo setelah mereka berdua saling memberikan tatapan penuh arti.

“Donghae-ya! Apa yang kau lakukan?!” Jisoo tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya ketika dirinya berhasil mendaratkan kaki di kamar Donghae. Panorama yang menyapa indera penglihatannya begitu jauh dari spekulasinya. Di depan matanya, Donghae terlihat duduk di lantai marmer dengan nafas terengah dan bercak darah yang menghiasi sela-sela jemari tangannya. Saat ia mengedarkan pandangannya, yang tampak hanya sebuah kamar yang –begitu berantakan, bahkan kapal pecah pun tak bisa mewakili gambarannya. Semua benda tak lagi pada tempatnya. Beberapa perabot keramik dan kaca hancur berkeping-keping di atas lantai marmer kamar putra sulungnya dan beberapa pecahannya berhasil menciptakan goresan luka pada tubuh Donghae. Beberapa bingkai foto pun tak luput dari jangkauan kekacauan yang Donghae ciptakan. Seolah ia meluapkan emosinya pada seluruh benda di kamarnya yang dalam sekejap telah kehilangan eksistensinya.

Jisoo segera menghampiri Donghae untuk memastikan keadaannya. Namun yang Donghae lakukan justru menolak kehadirannya. Ia menolak saat tangan Jisoo menyentuh jemarinya yang berhias bercak darah akibat goresan kaca yang ia ciptakan sendiri.

“Hae-ya, biarkan appa melihat lukamu, ne?” suara ayahnya tak lagi penuh emosi, seolah dengan sengaja ia meninggalkannya di ruang makan keluarga Cho. Rasa khawatir yang menyelimuti hatinya nyatanya mampu meruntuhkan egonya, namun mengapa hal itu terasa begitu sulit ia lakukan untuk putra bungsunya?

Donghae memutar pandangannya yang sedari tadi tak fokus dan menemukan wajah khawatir milik adiknya yang berdiri kaku di ambang pintu. Disamping adiknya, ibunya berdiri dengan raut wajah yang tak kalah khawatir. Dan terakhir, sosok ayah yang bersimpuh di samping tubuhnya, berusaha membujuk dirinya untuk melihat seberapa parah luka ia dapatkan.

Iris mata Donghae kembali bergulir untuk membidik sosok adiknya yang persisten dalam diamnya, meski tatapan khawatirnya tak bisa disembunyikan. “Kyuhyun-ah..” gumaman lirih keluar dari bibir tipis milik Donghae. Namun mereka yang berada di kamar itu dapat mendengarnya dengan cukup jelas. Perkataan Donghae membuat Jisoo dan Hyemi mengalihkan atensinya pada sosok termuda disana yang berdiri kikuk di ambang pintu.

Kyuhyun merasa jantungnya memompa darah dengan kuat saat lirihan Donghae menembus indera pendengarannya. Ia masih menatap kakaknya dengan lekat, menunggu respon Donghae selanjutnya.

“Kyu.. Kyuhyunie.. nae-dongsaengie..” Donghae terus menggumamkan nama adiknya dengan begitu lirih seraya menatap Kyuhyun dengan iris mata penuh luka dan setumpuk rasa sesak di dadanya.

Perlahan Kyuhyun menyeret langkahnya untuk mengikis jarak diantara dirinya dan Donghae. Entah mengapa, rasa nyeri itu kembali hadir memeluk hatinya saat melihat keadaan Donghae saat ini. Ia tahu, kakak satu-satunya itu merupakan sosok yang ceria dan penuh semangat. Yang bisa memandang segala sesuatu dari sisi positifnya. Namun kali ini ia telah menunjukkan emosinya yang mungkin memang selama ini berhasil Donghae sembunyikan dibalik sosoknya yang cerah. Donghae seolah menjadi orang lain saat ini. Satu hal yang membuat hatinya menghangat –bahwa kakaknya itu begitu menyayangi dirinya terlepas dari sikapnya selama ini yang seolah tak mengerti dengan kondisi dirinya.

Kyuhyun ikut bersimpuh di sisi Donghae, membuat ayahnya menggeser tubuhnya untuk memberinya ruang lebih. Baik Jisoo maupun Hyemi sama-sama tahu, jika saat ini putra sulungnya sedang tak ingin dibujuk oleh mereka. Alih-alih mengadu pada mereka berdua, Donghae justru memusatkan atensinya pada Kyuhyun. Seolah eksistensi mereka tak terjangkau oleh pandangannya.

“Kyuhyun-ah..” Donghae meraih tangan Kyuhyun, membawanya dalam genggaman erat. Luka goresan yang masih menganga dan mengeluarkan darah sama sekali tak menjadi penghalang baginya untuk menyalurkan perasaannya melalui genggaman tangannya.

Ne, hyung.. Aku disini.” Kyuhyun membalas genggaman tangan Donghae, meski yang ia rasakan justru liquid pekat yang kini turut melumuri telapak tangannya.

Donghae semakin mengeratkan genggamannya, menatap kedua orang tuanya yang masih memandangnya dengan tatapan khawatir. Terutama ibunya yang terlihat begitu gusar dan cemas. “Aku ingin berbicara empat mata dengan adikku.” Datar. Nada suara Donghae begitu datar, juga dingin. Membuat Jisoo dan Hyemi terkesiap. Mereka berdua saling mengirim pandangan tak percaya, namun begitu Hyemi menganggukkan kepalanya, Jisoo tahu betul bahwa langkah terbaik yang harus mereka ambil adalah keluar dari kamar itu secepatnya. Memberikan Donghae waktu untuk berbicara dengan Kyuhyun yang mungkin saja bisa membuat Donghae tak lagi keras kepala dengan keinginannya untuk terjun ke perusahaan.

Arasseo. Kyuhyun-ah, tolong obati luka Donghae, ne?” itu kalimat terakhir yang Hyemi ucapkan sebelum beranjak dari kamar putra sulungnya. Sementara Jisoo memberi tatapan penuh arti pada Kyuhyun, berusaha menyampaikan pesan melalui pancaran iris matanya.

Ne, eomma.” Jawab Kyuhyun singkat. Seketika ia merasakan genggaman tangan Donghae makin erat.

Derap langkah Jisoo terdengar berat. Sejujurnya, dirinya masih begitu enggan untuk meninggalkan Donghae dalam keadaan yang jauh dari kata baik itu. Namun ia berusaha untuk menuruti kemauan putra sulungnya kali ini. Dengan membiarkannya berbicara empat mata dengan Kyuhyun mungkin menjadi pilihan terbaik untuk saat ini.

Setelah tubuh ayah dan ibunya tertelan di balik pintu kamar kakaknya, Kyuhyun mengalihkan atensinya pada keadaan kamar Donghae yang jauh dari kata rapi. Rongga dadanya terasa memanas, menghadapi kenyataan bahwa kakak satu-satunya bisa melakukan hal demikian. Hal yang sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya selama ini.

“Kyu…” kembali gumaman Donghae menyelusup indera pendengarannya. Ia membawa pandangannya pada wajah Donghae dan menemukan tatapan yang sarat akan harapan terefleksi dalam iris mata hitam milik kakaknya.

Kyuhyun perlahan membimbing Donghae untuk naik ke atas tempat tidur untuk menghindari serpihan kaca yang masih berserakan diatas lantai kamarnya. Ia tak ingin Donghae mendapatkan luka lagi setelah ini. “Ayo, hyung.. naiklah ke tempat tidurmu.”

Donghae menurut, genggaman tangannya tak pernah ia lepas sedikitpun. Setelah mereka berhasil duduk diatas tempat tidur, ia sedikit tergagap saat dirasa Kyuhyun ingin melepaskan genggamannya dan pergi beranjak darinya. Dengan suara tercekat, Donghae mencegah Kyuhyun melepaskan tangannya.

“Ap-apa yang kau lakukakan, Kyu? Kau mau kemana?”

Kyuhyun melirik tangannya yang kini didekap erat oleh kakaknya. “Aku mau mengambil kotak P3K,” jawabnya dengan datar. Kyuhyun sendiri menyayangkan hal itu. Mengapa ia tak bisa berucap dengan nada hangat? Padahal ia berharap pada dirinya sendiri untuk bisa melakukannya. “Lukamu harus segera diobati sebelum infeksi,” tambahnya kemudian.

Mendengar jawaban dari adiknya, Donghae perlahan melepaskan genggamannya. Membiarkan punggung adiknya terlepas dari jangkauan pandangannya. Ia meringis saat eksistensi rasa sakit yang menguar dari lukanya kini mulai ia rasakan. Iris matanya bergerak mengamati luka di tangannya. Pantas saja, begitu banyak liquid merah pekat yang melumurinya. Donghae sendiri heran, bagaimana ia baru bisa merasakannya sekarang?

Derap langkah terdengar, Kyuhyun telah kembali dengan baskom kecil dan kotak P3K di tangannya. Ia mendudukkan tubuhnya tepat disamping Donghae dan mulai membersihkan darah di tangan kakaknya dengan baskom kecil berisi cairan antiseptik. Kyuhyun melakukannya dengan perlahan, iris matanya terfokus pada kegiatannya. Sementara Donghae merasakan kehangatan mulai menyeruak dalam rongga dadanya hanya dengan menerima perlakuan kecil dari adik satu-satunya itu.

“Bagaimana selama ini kau menjalani hidupmu, Kyu?” Kyuhyun mengernyit saat suara Donghae menginterupsi kegiatannya. Ia hanya memberikan tatapan bertanyanya pada Donghae, sekedar memberi tanda bahwa pertanyaan Donghae masih memerlukan penjelasan lebih.

“Kau.. apakah kau tak pernah merasa ingin menentukan jalan hidupmu sendiri?” Bagus, Donghae. Kau telah meluncurkan pertanyaan yang ‘sangat baik’. Kyuhyun seketika menghentikan gerakannya. Tubuh Kyuhyun kaku, sementara ia masih belum mampu mengangkat kepalanya. Kyuhyun tengah menata hatinya untuk bisa menjawab pertanyaan itu.

Cukup lama Donghae menunggu Kyuhyun membuka suaranya, namun yang adiknya lakukan justru hanya terus menundukkan kepalanya, seolah wajahnya terlalu mengerikan untuk dilihat. Perasaan menyesal itu mulai menyeruak dari rongga dada Donghae, untuk kesekian kalinya. Ia merutuki kecepatan mulutnya yang melebihi kecepatan otaknya. Bagaimana jika setelah ini jarak itu kian terasa dan ia tak akan mampu mengikisnya?

Saat Kyuhyun berhasil menatapnya, nafas Donghae tercekat. Meski Kyuhyun tak menunjukkan ekspresi yang berarti, namun ada secercah rasa terluka yang terpancar dari tatapan matanya. Anehnya, Kyuhyun mulai menyunggingkan senyuman yang begitu tipis dengan bibirnya.

“Apakah kau benar-benar perlu menanyakan hal itu?” telak. Jawaban yang keluar dari bibir Kyuhyun seketika menyentak pikiran dan hatinya. Donghae tak tahan dengan tatapan miris yang Kyuhyun berikan padanya, tak tahan dengan senyuman pilu yang terlukis di wajah adiknya. Kini yang ia lakukan adalah kembali mengalihkan atensinya pada tangannya yang kini telah terbebas dari cairan merah yang sebelumnya menyelimuti tangannya.

Donghe tak kunjung mengeluarkan deretan frase. Sementara Kyuhyun memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya mengobati luka Donghae. Dengan telaten, Kyuhyun mulai mengambil gulungan perban dan membalut tangan Donghae dengan perlahan.

“Kyuhyun-ah, mungkin hyung memang benar-benar bodoh dengan menanyakannya padamu. Hanya saja, bisakah.. untuk kali ini, biarkan hyung memberikan sandaran padamu? Katakan pada hyung jika kau lelah. Katakan pada hyung jika kau merasa tak sanggup lagi menahan beban yang harus kau tanggung sendirian. Katakan pada hyung, jika kau.. jika kau ingin meluapkan segala perasaanmu, Kyu. Hyung selalu ingin bisa menjadi sandaran bagimu. Seperti layaknya seorang kakak yang selalu melindungi adiknya.” Donghae merasakan buliran bening itu mulai menjamah sudut matanya, menuruni pipinya dan menganak sungai. Sial. Ia menangis! Donghae sangat merutuki dirinya sendiri yang begitu mudah terbawa suasana.

“Sering-seringlah mengganti perban, hyung. Jika kau kesulitan, kau bisa memintaku untuk melakukannya.” Kedua iris mata Donghae melebar, tak percaya dengan jawaban yang Kyuhyun berikan padanya. Bagaimana bisa adiknya itu justru mencoba mengalihkan perhatian alih-alih menanggapi ucapan yang datang begitu tulus dari dasar hatinya?

“Kyuhyun..”

“Aku sudah selesai.” Kyuhyun bergegas membereskan peralatan P3Knya dan bersiap membawa langkahnya keluar dari kamar Donghae sebelum sebuah tangan mencegahnya dengan cepat.

“Apa begitu sulit bagimu untuk bisa mempercayaiku, Kyuhyun-ah? Apa begitu sulit bagimu untuk meluapkan perasaanmu yang sebenarnya pada kakakmu sendiri?” Kyuhyun menatap mata Donghae yang terlihat berkilau karena tertutupi cairan bening. Jika Kyuhyun boleh jujur, hatinya berkedut nyeri karenanya. Hanya saja, ia tak ingin kakaknya masuk dalam lingkaran hitam yang ia buat sendiri, untuk menghindarkan orang-orang yang ia sayangi masuk dalam lubang itu. Ia tak ingin orang-orang yang ia sayangi harus merasakan luka yang begitu besar hanya karena ingin melindunginya.

Kyuhyun melirik lengannya yang Donghae dekap dengan begitu erat. “Bisa hyung lepaskan? Aku masih memiliki tugas yang harus kuselesaikan malam ini.” Kyuhyun kembali memutuskan untuk membuat jarak itu semakin nyata. Ia melakukannya untuk melindungi Donghae. Ia hanya tak ingin Donghae harus berakhir seperti Hwang ahjussi dan mereka yang menyayangi dirinya.

Sementara Donghae, hatinya terasa runtuh seketika saat deretan frase yang Kyuhyun guratkan menembus indera pendengarannya. Meski begitu, alih-alih melepasnya, dekapannya pada lengan Kyuhyun justru semakin erat lantaran emosi yang kini mulai menguar dari sudut hatinya.

“Apa kau juga menganggap hyung-mu ini orang yang lemah, Kyu? Yang tak akan sanggup untuk menjadi sandaran bagimu. Itu yang kau pikirkan?!” nada suara Donghae naik satu oktaf, menandakan kepalanya yang kini tengah dirundung emosi yang memuncak. Bahkan ia menarik kedua bahu Kyuhyun untuk menghadap dirinya, mengunci tubuh itu dalam jangkauan pandangannya.

“Tatap lawan bicaramu dan jawab aku, Cho Kyuhyun!” kedua bahu Kyuhyun tersentak seiring dengan gerakan tangan Donghae yang mengguncangnya dengan penuh emosi. Ia tak lagi bisa berpikir dengan jernih kali ini.

Kyuhyun kini menatap Donghae dalam-dalam, menghela nafas sebelum mengeluarkan suaranya. “Jawaban apa yang ingin kau dengar dariku?”

“Jujur. Jawablah dengan jujur, Kyu..” Donghae persisten menatap kedua iris mata berwarna cokelat madu milik Kyuhyun dalam-dalam, tak membiarkan adiknya sedikitpun lolos dari jangkauannya.

“Ya. Kau memang lemah dan kau tak bisa membantah kenyataan itu.” tukas Kyuhyun dengan datar, dan juga dingin. Membuat tubuh Donghae menggigil mendenagarnya. Seketika tubuhnya terasa lemas, hingga dekapannya pada lengan adiknya perlahan memudar. Kedua tangannya kini terjatuh lurus di kedua sisi tubuhnya.

Senyuman miris yang begitu pahit tercipta di wajah tampannya, mendengar dengan telinganya sendiri jika Kyuhyun mengatakan dengan gamblang tentang hal yang selama ini menggelayut dalam pikirannya. Hal yang sejujurnya membuatnya merasa begitu takut, kecil dan tak berdaya di saat yang bersamaan. Sebuah kenyataan yang selalu bisa memukul dirinya dengan telak.

“Dan aku tak mungkin bisa menerima orang sepertimu untuk terjun mengurus perusaahan bersamaku.” Karena aku menyayangimu. “Karena aku tak yakin kau akan sanggup menanggung semua itu.” Kyuhyun tak mampu mengucapkan tiga kata itu. Tiga kata yang membentuk sebuah kalimat yang terdengar indah. Kalimat yang menjadi alasannya menolak Donghae untuk mengurus perusahaan bersamanya. Begitu besar, beban dan tekanan yang harus ia hadapi saat pertama kali menerima perintah dari ayahnya bahwa ia harus terjun mengurus perusahaan sejak usia belia. Dan Kyuhyun tak akan sanggup melihat kakaknya harus ikut menanggung itu semua bersama dirinya. Cukup dirinya saja, cukup dirinya sendiri yang menanggung semua itu hingga waktu berhasil mengambil alih kehidupannya.

Dengan segumpal penyesalan yang ia bawa dalam dadanya, Kyuhyun membawa langkahnya untuk segera meninggalkan ruangan dengan atmosfer yang menyesakkan itu. meninggalkan sosok Donghae yang terduduk lemas di atas ranjangnya dengan wajah pias.

Mianhae.’

 

-o0o-

Langkah kaki Kyuhyun terhenti di ujung lorong saat indera penglihatannya menangkap sosok kedua orang tuanya masih berada disana dengan raut cemas yang terukir di wajah mereka masing-masing. Lihatlah, betapa ayah dan ibunya itu menyayangi kakaknya hingga rela menghabiskan waktunya untuk menunggu dirinya keluar dari kamar Donghae. Bukan. Lebih tepatnya, menunggu kabar darinya apakah ia berhasil membujuk Donghae untuk tidak bersikeras ikut mengurus perusahaan.

“Bagaimana? Apa kau berhasil membujuknya?” ayahnya yang pertama membuka suara.

“Kalian tak perlu khawatir. Aku yakin Donghae hyung akan mempertimbangkan ucapanku. Setidaknya ia tak akan lagi bertahan dengan sikap keras kepalanya untuk ikut terjun mengurus perusahaan,” Kyuhyun menjawab dengan tenang. Meski hatinya masih bisa merasakan gumpalan rasa penyesalan yang bersarang di dalamnya.

Ia bisa mendengar kedua orang tuanya menghela nafas lega setelah mendengar jawaban darinya. “Bagus. Jika sampai Donghae masih keras kepala, kau harus berhasil meyakinkannya.” Jisoo segera membawa tubuhnya menghilang dari pandangannya setelah menyelesaikan kalimatnya. Sebuah kalimat bernada perintah –yang untuk kesekian kali dalam hidupnya, harus ia terima dan patuhi. Sebuah kalimat yang tak pernah memberikannya pilihan bahkan untuk sekedar menolaknya. Ia menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh dengan diam.

Sementara Hyemi, ia kini memperhatikan putra bungsunya yang persisten menatap dalam kepergian ayahnya. Hatinya mulai bergemuruh. Sebagai seorang ibu, nuraninya selalu memberontak tiap kali melihat raut wajah Kyuhyun yang menyiratkan perasaan terluka yang amat dalam. Semestinya, ia kini memeluk tubuh kurus milik putra bungsunya itu dengan erat, menyalurkan kasih sayang darinya untuk menguatkannya. Namun angan itu lenyap saat tiba-tiba iris cokelat madu itu mengalihkan atensinya, menatapnya dengan lurus.

“Aku sudah mengobati lukanya. Dan aku akan meminta ahjumma untuk membereskan kekacauan yang terjadi di kamarnya.” Hyemi merespon pernyataan Kyuhyun dengan anggukkan kepalanya. Bibirnya terasa kelu untuk sekedar mengguratkan frase sederhana berupa untaian terimakasih ataupun mengguratkan senyuman indah miliknya. Kini yang ia lakukan hanya menatap tubuh putranya yang perlahan menjauh dari jangkauan pandangannya. Berusaha memahami perasaannya sendiri, memahami nalurinya yang selama ini terus memberontak.

Gomawo, Kyuhyun-ah.

 

-o0o-

Donghae termenung menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih. Kamarnya telah kembali rapi seperti semula setelah beberapa asisten rumah tangga keluarga Cho yang dengan cekatan membereskan kekacauan yang ia buat beberapa saat lalu. Kamarnya kini tampak lengang karena sebagian besar perabotan yang sebelumnya ada disana kini tak lagi terlihat ekistensinya. Mereka belum sempat menggantinya.

Wajah Kyuhyun terbayang di langit-langit kamarnya, seperti garis imajiner rasi bintang yang biasa ia lihat di langit malam. Pikirannya melayang pada perkataan yang Kyuhyun lontarkan beberapa saat lalu. Pernyataan yang berhasil membelah hatinya, kemudian menjatuhkannya hingga hancur berserakan. Namun, benarkah adiknya itu telah mengatakan kejujuran padanya? Donghae hanya merasa belum siap untuk menelan kenyataan pahit itu.

Atensinya beralih pada tangan kanannya yang berbalut perban putih, hasil karya adiknya. Masih terasa kehangatan sentuhan tangan milik Kyuhyun yang mengobati lukanya dengan telaten. Tanpa sadar, senyuman samar tergurat di bibirnya.

Hyung berharap kau berbohong Kyu..” meski Donghae meyakininya, namun luka dalam hatinya belum bisa sembuh sepenuhnya. Karena kenyataan itulah yang selalu bisa membuat dirinya berada pada titik terndah dalam hidupnya.

 

-o0o-

Hyemi menatap punggung kokoh suaminya yang telah berbaring membelakanginya. Dengan kepala yang penuh dengan berbagai pemikiran yang kian hari kian terasa menyentak nuraninya, Hyemi menghampiri suaminya dan berbaring di sisinya.

“Apa yang harus aku lakukan, yeobo..” Hyemi berucap lirih pada suaminya. Berharap dalam alam bawah sadarnya, sosok suaminya mampu mendengar curahan hatinya. “Selama ini aku berpikir kita telah melakukan tindakan yang benar. Kita melakukannya demi masa depan keluarga kita. Karena kita tahum hanya Kyuhyun-lah satu-satunya harapan kita saat ini. Tetapi, apakah kau juga merasakan apa yang aku rasakan selama ini?” suasana hening menjadi jawaban akan pernyataannya. Hyemi memang tidak mau berharap lebih, cukup dengan mengeluarkan keluh kesahnya pada suaminya tiap jam tidur mungkin bisa mengurangi sedikit beban dalam rongga dadanya.

 

-o0o-

Kyuhyun melirik jam dinding yang bertengger manis di kamarnya. Jarum jam telah meluruskan tubuhnya, menandakan hari telah bergulir. Setelah keluar dari kamar kakaknya dan berhadapan dengan kedua orang tuanya, ia sama sekali tak bisa sekedar memejamkan kelopak matanya. Ia tersentak saat ponselnya berdering dari atas nakas. Itu dering telepon masuk. Dahinya mengernyit heran, siapa yang dengan lancang menghubunginya saat larut malam seperti sekarang? Rasa penasarannya lebih besar daripada tubuhnya yang malas untuk bergerak. Tangan kanannya terulur untuk menjangkau ponsel hitam milikmya.

“Changmin?” gumam Kyuhyun dengan sedikit gerutuan yang terselip secara samar. Untuk apa anak itu menghubunginya tengah malam begini? Seperti tak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan saja. Ponselnya terus berdering bahkan setelah cukup lama ia mengabaikannya. Dengan terpaksa, jemarinya menggeser ikon penanda ia menerima panggilan dari Changmin.

“Apa kau sedang mengigau, Changmin-ah?” Kyuhyun menyapa sahabatnya dengan kalimatnya yang pedas. Membuat Changmin tak bisa menyembunyikan gerutuannya di seberang line telepon.

“Yak! Apa begitu caramu menyapa sahabatmu, huh?!” teriakan Changmin menggelegar, memaksa Kyuhyun menjauhkan ponselnya jika ia tak ingin telinganya bermasalah setelah ia menyelesaikan panggilannya. “Kau tahu, aku sengaja menahan rasa kantuk yang menyerang mataku hanya untuk bisa terjaga hingga tengah malam.” Changmin masih meluapkan rasa kesalnya pada Kyuhyun.

Pernyataan Changmin membuat Kyuhyun semakin dilanda perasaan heran. Untuk apa sahabatnya itu rela melakukan hal seperti itu? Buang-buang waktu saja. “Siapa yang menyuruhmu untuk melakukannya?”

Kyuhyun dapat mendengar Changmin menghela nafas kasar di sana. Dan gerutuan tak begitu jelas menyapa indera pendengarannya kemudian. Hei, apa Changmin tengah merasa kesal saat ini? Seingat Kyuhyun, dirinya tak melakukan apapun yang mungkin bisa menjadi pemicu rasa kesal sahabatnya. Dan bukankah seharusnya ia yang merasa kesal karena diganggu saat larut malam seperti saat ini?

“Ck.” Changmin berdecak sebal. “Kau bertanya siapa yang menyuruhku, Kyuhyun-ah? Yang benar saja.. apa kau lupa tanggal berapa sekarang, hmm?” Changmin berujar dengan nada kesal yang kentara, namun entah mengapa Kyuhyun merasa biasa saja. Tak sedikitpun hatinya ikut terpancing kesal karenanya. Ia menjauhkan ponselnya sejenak untuk melihat tanggal berapa hari ini.”Tiga Februari.” Gumamnya kemudian.

“Bagus. Sekarang, apa kau ingat hari apa sekarang? Jangan jawab hari Rabu! Aku sudah tahu itu!” Kyuhyun seketika kembali menutup mulutnya yang memang akan menjawab pertanyaan Changmin seperti itu.

“Aishh.. hari ini adalah hari ulang tahunmu, Kyu! Saengil Chukae..!” Changmin semestinya mengucapkannya dengan nada ceria, namun yang terjadi justru ia mengucapkannya dengan nada kesal karena masih terbawa suasana.

Sementara Kyuhyun yang mendengarnya sedikit terkejut. Karena memang ia sama sekali tak mengingatnya. Padahal, setiap tahun Changmin tak pernah melupakan untuk memberikan ucapan selamat padanya. Sebuah tindakan sederhana dari sahabatnya yang harus ia akui dapat memberikan kehangatan tersendiri di hatinya. Kyuhyun kini mendudukkan tubuhnya, bersandar pada head bed miliknya.

“Lihat?! Bahkan kau sama sekali tak mengucapkan terima kasih pada sahabatmu ini?! Aishh.. jinja!” Changmin mendesah frustasi di seberang sana, sementara Kyuhyun tak bisa lagi menyembunyikan senyumannya.

“Aku..”

“Harusnya kau bersyukur karena memiliki sahabat yang baik sepertiku, Kyu.. bukankah aku ini manis? Yang dengan sukarela ingin mengucapkan selamat ulang tahun tengah malam seperti ini khusus padamu?” ucapan Kyuhyun terinterupsi dengan gerutuan panjang lebar milik Changmin. Kyuhyun tak dapat menyangkal jika Changmin memang sahabatnya yang baik –sangat baik.

“Aku minta maaf, Changmin-ah.” balas Kyuhyun dengan singkat. Meski merasa bersalah, ia merasakan getaran yang terasa menyenangkan di dadanya.

Changmin menghela nafasnya dalam-dalam. “Aigoo.. Kau tak perlu meminta maaf, Kyu… Kau itu-“

Gomawo,” jawab Kyuhyun cepat, memotong kalimat Changmin sebelumnya. Membuat Changmin menyadari satu hal. Kyuhyun memang sengaja melakukannya. “Aish… Aniya, Kyu! Aku meralat ucapanku tadi. Kau harus meminta maaf padaku!”

Kyuhyun menarik sebelah sudut bibirnya. “Apa? Bagaimana bisa seorang Shim Changmin tak bisa memegang kata-katanya sendiri?” Entahlah, Kyuhyun hanya merasa sesuatu dalam rongga dadanya bergetar menyenangkan saat melakukannya –menggoda Changmin.

Aissh.. Jinja!! Kyuhyun-ah! Apa aku boleh mencubit pipimu besok?” desah Changmin, terdengar sangat frustasi. Sementara Kyuhyun mengernyitkan dahinya tak begitu mengerti akan ucapan Changmin.

“Apa?”

“Yak! Aku sedang kesal terhadapamu, Kyu! Apa kau mengerti? Makanya besok aku mau mencubit pipimu!” Changmin makin berapi-api.

“Bukankah seharusnya kau memukulku?”

“Kau pikir aku tega melakukannya, huh?” Kyuhyun semakin heran dengan jawaban Changmin dan tanpa sadar, kekehan pelan keluar dari bibirnya.

“Yak! Apa kau sedang menertawakanku sekarang?!” Changmin sebenarnya terkejut hingga relfek ia justru mengumpat pada Kyuhyun. Dan ia berharap telinganya memang tidak sedang bermasalah, karena ia baru saja mendengar Kyuhyun tertawa kecil. Yang benar saja… sahabatnya yang sangat dingin dan tertutup itu, baru saja memberikan tawa untuknya? Benar-benar suatu keajaiban!

Aniyo,” balas Kyuhyun singkat. Ia sendiri masih dalam masa terkejut dan tak percaya pada dirinya sendiri. Apa benar, ia baru saja tertawa? Hatinya terasa begitu ringan saat melakukannya. Seperti tumpukan beban di hatinya telah runtuh seketika.

“Akui saja, Kyuhyun-ah! Kau tak bisa mengelak!” Changmin masih dalam pendiriannya, ia tentu saja tak mau kalah dengan sahabatnya. Dan memang sudah menjadi sifatnya yang keras kepala.

Ani.” Dan Kyuhyun adalah lawan yang seimbang bagi Changmin. Ia hanya masih terlalu sulit untuk mengakuinya. Mengakui jika dirinya baru saja mengguratkan tawa miliknya yang selama ini tersembunyi begitu lama jauh di dalam dirinya.

“Aisshh.. arasseo, arasseo! Tapi besok kau harus membayarnya! Kau mengerti, KYUHYUNNIE?” Akhirnya Changmin memilih untuk menyerah karena ia tahu, perdebatannya dengan Kyuhyun tak akan berakhir jika bukan ia yang mengalah. Ia segera mematikan sambungannya sebelum Kyuhyun sempat memberi respon. Karena ia tahu, Kyuhyun akan selalu melayangakan protes jika ia memanggilnya dengan sebutan manis macam ‘Kyuhyunie’.

Kyuhyun akan melayangkan protesnya saat tiba-tiba Changmin memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. Membuatnya secara tak sadar menggerutu pelan sebelum kembali meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Ia kembali merebahkan tubuhnya dengan perasaan yang jauh berbeda, lebih hangat dan lebih tenang. Sepertinya Kyuhyun akan mengarungi mimpi indah kali ini.

 

-o0o-

Hyemi menutup pintu eboni putih gading dengan pelan setelah selesai melakukan rutinitas paginya –membangunkan putra sulungnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi menuntut ilmu di Kyunghee University. Ia memutar langkahnya untuk bersiap melakukan pekerjaannya yang lain. namun langkahnya terhenti saat dari ekor matanya, sebuah pintu eboni lain seolah berbisik padanya. Memberitahu bahwa penghuni kamar di baliknya juga berhak untuk mendapat perhatian seperti yang ia berikan pada putra sulungnya –membangunkannya dan mengucapkan sapaan pagi untuknya.

Entah apa yang membuat langkah kakinya beranjak mendekati pintu itu. Sebuah pintu yang selama ini terasa begitu jauh dari jangkauannya, bahkan nyaris tak tersentuh. Semakin dekat dengannya, kinerja jantungnya kian terasa cepat. Debaran itu terasa begitu asing baginya.  Hingga saat kedua kakinya telah berhasil mengikis jarak, Hyemi kini tertegun saat mendapati dirinya berdiri di depan pintu kamar milik putra bungsunya.

 

To B Continued~

 

Special Update On Kyuhyun Enlistment Day!

Maaf jika chapter ini pendek. (~_~)v

P . S : Udah pada nonton MV nya kan? Makna pesannya dalem banget, meski aku ngga tau artinya haha. Intinya, selama dia meninggalkan kita, jangan sampai kita meninggalkannya. Sediih banget liat ekspresinya di MV itu.. *cengeng*

#We’llWaitForKyuhyun

Well, what’s on your mind? Just say it on the review box! Thank you, everyone!

WithLove, Little Evil ;]

 

 

Advertisements

3 thoughts on “[Fanfiction] Facade : Chapter 6 (Special Update On Kyuhyun Enlistment Day)”

  1. Always ceritanya sederhana tp kesannya dalem banget bikin nangis
    Ya Tuhan, baca ff ini jd bikin aku belajar dan bersyukur sama saudara sekeluarga.
    Semoga Hyemi mulai lunak, diakan ibu pastinya lbh konek feelnya sm anak sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s